Gebyar Muharram 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Azzainiyyah, Sukabumi, tidak hanya menjadi peringatan keagamaan. Acara ini juga mempertemukan ulama, umaro, tokoh masyarakat, dan keluarga deklarator Penegakan Syariat Islam Kabupaten Sukabumi dalam satu panggung kebersamaan.
Di tengah tema “Dalam Rangka Mewujudkan Kabupaten Sukabumi Mubarokah”, pesan yang menonjol adalah soal sinergi dan penguatan peran masjid. Momentum itu sekaligus menegaskan bahwa peringatan Muharram dipakai sebagai ruang untuk merawat nilai keislaman dan menghidupkan kembali semangat pengabdian.
Penghormatan untuk para deklarator PSI
Bupati Sukabumi Asep Japar menyerahkan kadedeuh kepada para deklarator dan ahli waris deklarator Penegakan Syariat Islam. Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman juga menyerahkan cinderamata dari DMI dan Iqomah Nusantara kepada seluruh deklarator dan keluarga PSI.
Penghargaan itu menjadi penanda bahwa peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial. Ada pengakuan atas dedikasi para tokoh yang terlibat dalam deklarasi Penegakan Syariat Islam di Kabupaten Sukabumi, sekaligus penghormatan kepada keluarga yang melanjutkan ingatan atas perjuangan tersebut.
KH. Aang Abdullah Zein, Pimpinan Pondok Pesantren Azzainiyyah sekaligus Ketua Umum MUI Jawa Barat, mengajak jamaah menjadikan Muharram sebagai momen introspeksi. Ia menekankan pentingnya mengamalkan ajaran Islam secara benar dan sungguh-sungguh.
Ia menyebut perjuangan para deklarator PSI 25 tahun lalu lahir dari niat khidmah tanpa balas dan ikhlas tanpa batas demi terwujudnya Sukabumi yang mubarokah. Dalam pandangannya, deklarasi itu merupakan ikhtiar untuk mengamalkan rukun Islam secara benar dan sungguh-sungguh.
Masjid diposisikan sebagai pusat penguatan umat
Pesan penguatan umat juga datang dari Ketua PW DMI Provinsi Jawa Barat, KH. Mohammad Mansur Syaerozi. Ia mengapresiasi pelaksanaan Milad DMI ke-54 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Azzainiyyah.
Menurutnya, masjid adalah rumah Allah SWT yang harus dimakmurkan bersama oleh seluruh umat Islam. Ia juga menegaskan bahwa siapa pun yang datang ke masjid dengan niat lillahi ta’ala memiliki kemuliaan di sisi Allah SWT.
Karena itu, Muharram dinilai layak dijadikan sarana untuk meningkatkan kebiasaan berjamaah. Dari sini, peran Dewan Masjid Indonesia dan Dewan Kemakmuran Masjid menjadi penting untuk melanjutkan pengabdian agar masjid tetap hidup dan jamaah terus terhubung.
Dukungan pemerintah daerah untuk tradisi keagamaan
Bupati Asep Japar menilai Gebyar Muharram, Milad PSI, dan Milad DMI perlu terus dijaga sebagai tradisi keagamaan. Ia menyebut kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter masyarakat dan mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi, kata dia, menyambut baik dan mendukung seluruh rangkaian kegiatan keagamaan karena secara esensial menopang pembangunan sumber daya manusia. Asep Japar juga mengajak masyarakat menjadikan Muharram sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa deklarasi Penegakan Syariat Islam di Kabupaten Sukabumi merupakan hasil kesepakatan dan tekad bersama antara ulama dan umaro. Tujuannya adalah mengamalkan ajaran Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.
Dukungan untuk pembangunan keagamaan
Di hadapan peserta kegiatan, Bupati Sukabumi juga meminta doa dan dukungan masyarakat terhadap program pembangunan keagamaan. Salah satu yang disorot adalah rencana keberlanjutan pembangunan Masjid Cisayar Nyalindung pada tahun 2026 agar dapat diselesaikan dengan baik dan memberi manfaat bagi umat.
Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Penegakan Syariat Islam Kabupaten Sukabumi dan tausiyah kebangsaan serta keagamaan dari Wakil Ketua Umum MUI Pusat Dr. KH. Marsudi Syuhud. Kehadiran unsur ulama, MUI Jawa Barat, DMI Jawa Barat, LDTQN, NU, dan perangkat daerah menunjukkan bahwa peringatan ini menjadi titik temu penting bagi penguatan nilai keislaman di Sukabumi.
Source: mediaaksara.id






