
Red Hat mengingatkan korporasi agar tidak terburu-buru mengadopsi AI hanya karena takut tertinggal dari tren. Perusahaan menilai langkah yang reaktif dan tanpa tujuan bisnis yang jelas justru berisiko membuat biaya membengkak, sistem menjadi lebih rumit, dan operasional terganggu.
Peringatan itu muncul di tengah maraknya fenomena FOMO AI di lingkungan bisnis. Red Hat melihat banyak organisasi langsung masuk ke implementasi teknologi tanpa memastikan masalah apa yang ingin diselesaikan, padahal pendekatan seperti itu kerap berujung pada pemborosan dan efisiensi yang tidak tercapai.
AI Harus Menjawab Kebutuhan Nyata
Country Manager Red Hat Indonesia, Vonny Tjiu, menegaskan bahwa teknologi seharusnya dipakai untuk menjawab persoalan konkret di perusahaan. Ia menyebut investasi teknologi informasi perlu terhubung dengan lapisan AI tanpa mengganggu inti operasional bisnis.
Vonny juga menyoroti pentingnya kesiapan korporasi atau enterprise readiness, terutama saat memakai teknologi berbasis open source. Menurut dia, sistem yang dipilih harus mudah diintegrasikan dengan sistem lain agar tidak menimbulkan friksi di proses kerja.
Ia menilai fokus implementasi AI sebaiknya ada pada tiga tujuan utama, yakni mitigasi risiko, peningkatan produktivitas, dan efisiensi bisnis. Dengan begitu, AI tidak berhenti sebagai simbol modernisasi, tetapi benar-benar memberi nilai tambah bagi perusahaan.
Integrasi Menentukan Efektivitas
Red Hat menekankan bahwa adopsi AI tidak bisa dilepaskan dari arsitektur teknologi yang sudah ada. Jika perusahaan memasang AI secara tergesa-gesa tanpa integrasi yang kuat, teknologi justru bisa menambah kompleksitas dan membuat biaya sulit dikendalikan.
Tantangan itu terasa lebih besar di industri yang sangat diatur, seperti sektor keuangan. Dalam lingkungan seperti ini, celah sistem yang tidak disiapkan dengan baik dapat memicu pemborosan, sementara arsitektur yang lemah bisa menghambat pengelolaan teknologi secara menyeluruh.
Peringatan Red Hat menunjukkan bahwa teknologi yang tampak canggih belum tentu efisien jika tidak ditempatkan dalam sistem yang tepat. Karena itu, perusahaan diminta lebih selektif agar investasi AI tidak berubah menjadi beban baru.
Dorongan Kemandirian Teknologi
Vonny juga menyinggung pentingnya penguatan talenta lokal agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memproduksi AI. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun kapasitas teknologi yang lebih mandiri di tengah percepatan digitalisasi.
Ia mengaitkan hal itu dengan proyeksi kontribusi ekonomi digital Indonesia yang dapat mencapai 40% terhadap total ekonomi kawasan Asia Tenggara pada 2030. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi teknologi memang penting, tetapi tetap harus dibarengi kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan model implementasi yang terukur.
Tanpa persiapan itu, investasi teknologi yang besar berisiko kehilangan arah. Alih-alih mendorong daya saing, adopsi yang terburu-buru bisa menghasilkan sistem yang mahal namun tidak efektif.
Pelajaran dari Dunia Usaha
Pengalaman PT Bussan Auto Finance memperlihatkan bagaimana kompleksitas sistem bisa menjadi tantangan nyata setelah pandemi 2020. Director Bussan Auto Finance, Yudono, mengakui perusahaan pernah menghadapi insiden salah konfigurasi saat proses pengerahan sistem ke server.
Gangguan itu memengaruhi operasional dan mendorong perusahaan melakukan transformasi berbasis otomatisasi. Untuk mengurangi kendala, BAF berkolaborasi dengan Red Hat OpenShift dan Ansible guna mempermudah manajemen sekaligus mengotomatisasi infrastruktur hybrid cloud dengan perlindungan yang tetap sesuai regulasi.
Kasus berbeda terlihat di PT Pegadaian yang masih berhadapan dengan sistem monolitik warisan lama. Head of Enterprise Architecture PT Pegadaian, Ronald Hariyanto, menyebut transformasi perusahaan diarahkan untuk mendobrak batasan tersebut agar layanan bank emas bisa berjalan lebih baik.
Saat ini, lebih dari 70% infrastruktur sistem operasi berbasis Linux di Pegadaian mengandalkan produk Red Hat. Perusahaan juga membangun kerangka kerja berbasis obrolan bernama Cindy untuk memudahkan perbaikan gangguan jaringan dan server dari jarak jauh.
Inisiatif itu membantu menjaga stabilitas aplikasi dan menekan jam lembur teknisi yang selama ini menjadi beban operasional. Dari dua contoh tersebut, terlihat bahwa teknologi memberi hasil paling baik ketika dipakai untuk menyederhanakan proses, bukan menambah lapisan masalah baru.
Red Hat menilai perusahaan perlu berhati-hati agar semangat mengejar AI tidak berubah menjadi FOMO yang mahal. Di tengah persaingan bisnis yang cepat, keputusan teknologi yang terukur tetap menjadi penentu agar korporasi bisa menjaga efisiensi, stabilitas, dan nilai investasi yang sepadan.
Source: teknologi.bisnis.com




