FFI Perketat Penjurian, Piala Citra Dipacu Agar Makin Layak Menang

Festival Film Indonesia mulai mengubah cara penjurian agar Piala Citra benar-benar jatuh ke film yang paling pantas menang. Pembaruan untuk FFI 2026 ini diarahkan supaya penilaian tetap mengikuti perkembangan industri film nasional, tanpa mengendurkan standar yang selama ini dijaga.

Ketua Bidang Penjurian FFI 2026, Budi Irawanto, menegaskan bahwa film pemenang harus mencerminkan standar artistik, teknis, dan profesional ajang tersebut. Ia menyampaikan, “Semangat kita adalah menghasilkan film pemenang yang betul-betul mencerminkan standar yang kita tetapkan,” dalam pembukaan FFI 2026 di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, Kamis (19/6/26).

Alur Penjurian Dibuat Lebih Ringkas

Salah satu perubahan paling penting ada pada penjurian film cerita panjang. FFI memangkas jumlah tahap dari empat menjadi tiga agar proses lebih sederhana, tetapi tetap menjaga kualitas penilaian.

Skema baru itu dimulai dari seleksi awal untuk menentukan daftar panjang dan daftar pendek. Setelah itu, proses berlanjut ke nominasi melalui voting dan penilaian, lalu ditutup dengan penentuan pemenang oleh Dewan Juri Akhir.

Akademi Citra dan Asosiasi Profesi Tetap Dilibatkan

Dalam seleksi awal, Komite Penjurian tetap menggandeng asosiasi profesi agar penilaian film masuk mendapat masukan dari pihak yang memahami bidangnya masing-masing. Langkah ini dipertahankan untuk menjaga relevansi penilaian sejak tahap paling awal.

Pada tahap nominasi, Akademi Citra yang berisi para pemenang Piala Citra pada tahun-tahun sebelumnya ikut memberi suara bersama asosiasi profesi. Kombinasi itu dirancang agar keputusan nominasi dan pemenang mencerminkan capaian terbaik secara teknis, artistik, dan tematik.

Aturan Pendaftaran Ikut Diperbarui

FFI 2026 juga menyesuaikan ketentuan pendaftaran film. Karya yang didaftarkan boleh berasal dari produksi mandiri maupun koproduksi dengan pihak asing, selama sebagian besar unsur kreatifnya dikerjakan oleh warga negara Indonesia.

Ajang ini juga memberi ruang yang setara bagi film yang tayang di bioskop, ruang pemutaran alternatif, platform digital, maupun festival film di Indonesia. Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa FFI ingin menjangkau karya dari berbagai jalur penayangan, bukan hanya satu kanal distribusi.

Perlindungan Hak Cipta Jadi Syarat Tambahan

Pembaruan lain yang ikut diberlakukan adalah kewajiban peserta menyertakan surat pencatatan ciptaan. Ketentuan ini ditempatkan sebagai bagian dari edukasi mengenai pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual di ekosistem film.

Budi menyebut perubahan dalam FFI 2026 disusun dari masukan publik dan diskusi dengan pemangku kepentingan perfilman. Menurut dia, FFI perlu terus menyesuaikan diri agar tetap relevan dengan arah perkembangan industri dan tetap dipercaya sebagai ajang penghargaan film paling bergengsi di Indonesia.

Source: lifestyle.bisnis.com

Terkait