FBI Turun Tangan Saat Perburuan Teknologi AI Amerika Diduga Disasar China

Persaingan AI antara Amerika Serikat dan China kini memasuki fase yang jauh lebih sensitif. Bukan lagi sekadar adu cepat riset, tetapi juga dugaan pencurian teknologi yang dianggap bisa memotong jarak kemampuan dalam waktu singkat.

Sejumlah serangan siber yang dikaitkan dengan entitas China memicu kekhawatiran bahwa Beijing sedang mengejar ketertinggalan AI dengan mengambil kekayaan intelektual dari perusahaan teknologi Amerika. Di tengah situasi itu, FBI ikut turun tangan dan menyebut kampanye spionase China sebagai ancaman keamanan nasional.

Target bergeser dari rahasia dagang ke peta jalan produk

Matt Pearl, direktur program teknologi strategis di Center for Strategic and International Studies, mengatakan China semakin menargetkan sektor teknologi seiring memanasnya persaingan AI. Ia menilai fokus itu tidak lagi sebatas mencuri rahasia dagang tertentu.

Menurut Pearl, ancaman juga meluas ke upaya memahami peta jalan produk perusahaan dan mencari kelemahan di rantai pasokan. Pola seperti itu dinilai sebagai jalan pintas untuk mempersempit jarak kemampuan AI dengan AS dalam hitungan tiga sampai empat bulan.

Fokus AncamanPenjelasanDampak yang Dikhawatirkan
Rahasia dagangPencurian informasi inti perusahaanKerugian kompetitif langsung
Peta jalan produkMemahami arah pengembangan perusahaanStrategi rival lebih mudah ditebak
Rantai pasokanMencari kelemahan pada sistem pendukung teknologiRisiko strategis yang lebih luas

Dengan pola ancaman seperti itu, kebocoran data tidak lagi dipandang sebagai insiden biasa. Bagi perusahaan teknologi, risikonya bisa berpengaruh langsung pada posisi kompetitif di pasar global.

Serangan ke perusahaan AI makin banyak disorot

Crowdstrike menuding entitas China berada di balik lebih dari setengah serangan yang menargetkan perusahaan teknologi, khususnya di bidang AI, selama 12 bulan terakhir. Tuduhan itu memperkuat dugaan bahwa sektor AI telah menjadi sasaran utama dalam perebutan keunggulan teknologi.

Anthropic juga mengajukan tuduhan serupa terhadap sejumlah perusahaan China, termasuk Alibaba. Perusahaan itu menyebut pihak-pihak tersebut berupaya mencuri kemampuan AI miliknya.

Di sisi lain, startup AI asal AS Copyleaks sempat menyoroti kemiripan model R1 milik DeepSeek dengan ChatGPT. Perusahaan itu mengatakan respons yang dihasilkan tampak hampir sama, sehingga memunculkan dugaan bahwa R1 mungkin telah dilatih dengan model AI asal AS.

CEO sekaligus salah satu pendiri Copyleaks, Alon Yamin, mengatakan pihaknya belum melihat kesamaan gaya dengan LLM lain. Pernyataan itu menambah bobot pada dugaan bahwa ada praktik pengambilan pengetahuan model yang melampaui sekadar inspirasi teknis.

FBI menilai ancaman ini serius

Di tengah meningkatnya tuduhan tersebut, FBI menyatakan kampanye spionase China sebagai ancaman keamanan nasional bagi AS. Lembaga itu juga mengatakan sedang menyelidiki risiko pencurian teknologi oleh pihak asing.

FBI menegaskan prioritasnya adalah menyelidiki potensi pencurian teknologi AS yang dilakukan pihak asing dan melindungi tanah air. Sikap itu menunjukkan bahwa isu ini sudah dipandang sebagai persoalan keamanan nasional, bukan sekadar sengketa bisnis antarkorporasi.

Perhatian terhadap pencurian teknologi menjadi semakin besar karena sektor AI bergerak sangat cepat dan sangat bergantung pada riset, data, serta rantai pasokan yang kompleks. Dalam situasi seperti ini, kebocoran kecil saja dapat memberi keuntungan besar bagi pesaing yang sedang mengejar posisi terdepan.

Pertarungan AI antara AS dan China kini tidak hanya berlangsung di laboratorium riset, tetapi juga di ranah spionase digital. Di fase baru ini, yang diperebutkan bukan cuma inovasi, melainkan juga pengetahuan paling bernilai yang dapat menentukan arah industri teknologi global.

Source: www.cnbcindonesia.com

Terkait