Kucing siam bukan hanya dikenal karena mata biru keabu-abuan dan wajahnya yang kontras. Ras ini juga punya ciri yang jarang dimiliki kucing lain, yaitu bulu yang dapat berubah warna mengikuti suhu lingkungan.
Perubahan itu terjadi karena kucing siam memiliki gen pengubah khusus yang menghambat perkembangan pigmen pada bulu. Saat tubuh atau lingkungan lebih hangat, bagian tertentu tampak lebih terang, sedangkan area yang lebih dingin seperti wajah, telinga, kaki, dan ekor menjadi lebih gelap.
Bulu yang dipengaruhi suhu
Pola warna kucing siam bisa muncul dalam beberapa kombinasi, mulai dari putih dengan motif cokelat gelap hingga krem dengan ujung tubuh hitam. Ada pula variasi warna lain seperti oranye, cokelat, krem, biru, dan ungu.
Sebagian besar anak kucing siam lahir dengan bulu putih sempurna. Warna khasnya baru terlihat setelah lahir karena suhu di dalam kandungan terlalu hangat untuk memunculkan pigmen pada bulu.
Secara ilmiah, gen pengubah ini aktif pada suhu tertentu. Kisaran yang disebutkan berada di sekitar 100-102,5 derajat Fahrenheit atau 37-29 derajat Celsius, lalu pigmen muncul lagi ketika suhu turun di bawah 100 derajat Fahrenheit atau lingkungan menjadi lebih dingin.
Termasuk salah satu ras tertua
Kucing siam juga disebut sebagai salah satu ras kucing peliharaan tertua di dunia. Tidak ada kepastian kapan pertama kali dibiakkan dan dijinakkan, tetapi banyak yang meyakini asalnya dari Thailand sekitar abad ke-14.
Keyakinan itu diperkuat oleh penyebutan kucing siam dalam manuskrip Thailand. Jejak tertulis tersebut membuat ras ini dianggap sudah lama hidup berdampingan dengan manusia.
Mitos mata juling dan ekor bengkok
Banyak kucing siam memang memiliki mata juling dan ekor bengkok. Secara sains, kondisi itu terkait faktor genetik tertentu, namun ada pula legenda yang melekat pada ras ini.
Cerita yang beredar menyebut sekelompok kucing siam pernah ditugaskan menjaga piala emas kerajaan. Mereka disebut menatap piala dengan sangat fokus, lalu melilitkan ekor di sekitarnya, sehingga mata dan ekor mereka berubah permanen.
Saat ini, kucing siam dengan mata juling tidak lagi banyak ditemui. Peternak disebut menyilangkan ras ini untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik.
Dipandang istimewa di Thailand
Di Thailand, kucing siam mendapat posisi istimewa sebagai hewan yang dihormati keluarga kerajaan. Penampilannya yang khas dan indah membuatnya dianggap pantas berada dekat lingkungan kerajaan.
Keluarga kerajaan juga meyakini kucing siam akan menerima jiwa mereka ketika meninggal. Setelah itu, kucing tersebut dipercaya akan tinggal di kuil dan dimanjakan oleh para biarawan serta pendeta.
Kucing yang cerewet dan cerdas
Selain penampilannya, suara kucing siam juga sangat khas. Banyak pemilik menyebut ras ini suka “bicara” karena bisa bersuara saat melihat makanan, memperhatikan sesuatu dari jendela, atau sekadar memberi reaksi pada hal di sekitarnya.
Julukan “Meezer” juga muncul dari pencinta kucing di negara Barat karena mengeongnya terdengar keras, serak, dan seperti merengek. Kecenderungan vokalnya membuat kucing siam sering terasa seolah sedang mengomentari keadaan di sekitarnya.
Kucing ini juga terkenal cerdas dan mudah bersosialisasi. Saat ditinggal pemiliknya, ia bisa menghibur diri dengan menyalakan keran, membuka lemari, atau mencari tempat persembunyian baru yang sulit ditemukan.
Perawatan yang tetap perlu diperhatikan
Meski bulunya tidak terlalu panjang dan perawatannya relatif mudah, kucing siam tetap memerlukan perhatian khusus. Menyisir bulunya setiap minggu membantu menghilangkan rambut mati dan menyebarkan minyak alami, sementara giginya perlu disikat setidaknya seminggu sekali.
Beberapa masalah kesehatan yang umum pada ras ini meliputi amiloidosis, asma atau bronkial, dan cacat jantung bawaan seperti stenosis aorta. Karena sifatnya aktif dan suka mengeksplorasi, kucing siam juga lebih baik dipelihara di dalam rumah dan tetap bisa hidup rukun dengan hewan lain.
