Euro Tertekan Dua Arah, Dolar Makin Kuat di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Data AS

Euro kembali terseret tekanan baru ketika pasar menilai ketegangan di Timur Tengah belum mereda dan data ekonomi Amerika Serikat justru menunjukkan ketahanan. Kombinasi ini membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman, sementara euro sempat bergerak di sekitar 1,16 dolar AS.

Pergerakan itu berlangsung cepat karena pasar valas sangat peka terhadap perubahan sentimen risiko dan ekspektasi suku bunga. Euro turun ke sekitar 1,1617 dolar AS setelah sebelumnya sempat berada sekitar setengah sen lebih tinggi pada pagi hari.

Ketegangan geopolitik mengangkat permintaan dolar

Di tengah ketidakpastian geopolitik, pasar menilai peluang meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih belum tampak. Eskalasi di Timur Tengah menjaga premi risiko tetap tinggi dan mendorong investor mencari dolar sebagai pelindung nilai saat kondisi pasar memburuk.

Dorongan itu membuat mata uang Amerika Serikat mendapat keuntungan tambahan dari faktor eksternal. Saat kekhawatiran geopolitik meningkat, aliran dana cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman.

Data AS memperkuat keyakinan pada dolar

Dari sisi fundamental, sentimen terhadap dolar juga menguat karena data industri Amerika Serikat tampil lebih baik dari perkiraan pada Mei. Indeks manajer pembelian berada di atas ekspektasi dan masih menunjukkan aktivitas ekonomi yang terus membaik.

Ekonom Helaba, Ulrich Wortberg, menilai ketahanan ekonomi AS terhadap tantangan geopolitik ikut memperkuat spekulasi soal kenaikan suku bunga oleh The Fed. Pasar pun semakin fokus pada perbedaan arah kebijakan antara bank sentral Amerika Serikat dan Bank Sentral Eropa.

ECB belum cukup menahan tekanan euro

Bank Sentral Eropa menetapkan kurs referensi euro di 1,1646 dolar AS, sedikit lebih tinggi dari 1,1644 pada Jumat. Namun angka acuan itu tidak banyak meredam tekanan karena harga pasar lebih ditentukan oleh aliran order, perubahan ekspektasi, dan penyesuaian posisi pelaku pasar.

Dalam perdagangan valas, perubahan kecil dapat memicu aksi lindung nilai dan reposisi yang cepat. Karena itu, perhatian investor kini lebih tertuju pada kemungkinan langkah The Fed ketimbang kurs referensi yang ditetapkan ECB.

Tekanan meluas ke pasangan mata uang lain

ECB juga menetapkan kurs referensi euro terhadap mata uang lain, termasuk 0,86493 pound Inggris, 185,74 yen Jepang, dan 0,9128 franc Swiss. Data itu menunjukkan pelemahan euro bukan hanya terjadi pada EUR/USD, melainkan menjadi bagian dari penyesuaian portofolio yang lebih luas.

Bagi perusahaan dengan paparan valuta asing, kondisi semacam ini penting karena risiko tidak hanya muncul pada satu pasangan mata uang. Saat dolar menguat, kebutuhan lindung nilai terhadap mata uang non-dolar juga kerap berubah mengikuti korelasi pasar.

Minyak dan emas ikut bergerak

Laporan itu juga menyoroti kanal energi sebagai faktor transmisi penting. Kenaikan harga minyak dinilai lebih ringan bagi Amerika Serikat karena negara itu memiliki cadangan minyak besar, sementara kawasan euro lebih sensitif terhadap tekanan biaya impor dan dampaknya pada inflasi.

Emas ikut bergerak dalam suasana pasar yang sama. Harga satu troy ounce emas terakhir tercatat sekitar 4.464 dolar AS dan berada sekitar 74 dolar di bawah level hari sebelumnya.

Dengan latar seperti itu, pasar valas diperkirakan tetap bergejolak dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini memantau apakah ketegangan geopolitik dan data ekonomi AS akan terus menjaga dolar berada di atas euro.

Source: www.it-boltwise.de
Exit mobile version