ETF Bitcoin Tersapu Rp10,6 Triliun, Pemegang Jangka Panjang Menahan Bitcoin Agar Tak Jatuh Lebih Dalam

ETF Bitcoin spot kembali menjadi sumber tekanan besar bagi pasar kripto setelah mencatat arus keluar $648.64 juta dalam sehari. Di saat yang sama, harga Bitcoin ikut melemah dan sentimen pasar turun tajam ke zona ketakutan ekstrem.

Pelemahan ini datang hanya seminggu setelah gelombang outflow $1 miliar, sehingga tekanan dari dana kelolaan berbasis Bitcoin belum menunjukkan tanda mereda. Namun, penurunan harga kali ini tidak sepenuhnya diikuti kepanikan yang sama, karena pemegang jangka panjang masih menahan pasokan dan meredam laju penurunan.

Outflow terbesar datang dari BlackRock, ARK, dan Fidelity

Data SoSoValue menunjukkan BlackRock’s IBIT menjadi penyumbang outflow terbesar dengan $448 juta. ARK Invest dan 21Shares menyusul dengan $110 juta, sementara Fidelity mencatat arus keluar $63 juta.

Pola penarikan dana itu memperlihatkan minat investor institusional masih rapuh ketika harga Bitcoin bergerak lebih lemah. Tekanan dari ETF juga membuat arah pasar spot semakin sulit pulih dalam waktu singkat.

Harga Bitcoin ikut tertekan

Di pasar spot, Bitcoin turun 6.7% dari $81,700 pada Kamis pekan lalu ke titik terendah mingguan $76,201 menurut data CoinGecko. Pada saat pelaporan, aset kripto terbesar itu masih melemah 0.7% dalam 24 jam terakhir dan bergerak di sekitar $76,680.

Kombinasi outflow ETF dan pelemahan harga mendorong Crypto Fear and Greed Index ke level 25. Angka itu menandakan “Extreme Fear” dan mencerminkan kehati-hatian yang meluas di kalangan investor.

Risiko geopolitik dan inflasi ikut mengubah sentimen

Agne Linge, Advisor to the Board di Wefi, menilai arus keluar ETF berkaitan dengan kondisi pasar yang lebih luas. Ia melihat manajer dana sedang menjalankan strategi de-risking di tengah eskalasi konflik U.S.-Iran.

Illia Otychenko, lead analyst di CEX.IO, juga menyoroti data inflasi AS pekan lalu sebagai pemicu tambahan. Menurut dia, data itu mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve dan memicu spekulasi soal kenaikan suku bunga tahun ini.

Otychenko menambahkan bahwa kekhawatiran investor makin kuat karena potensi eskalasi baru konflik U.S.-Iran. Ia juga menunjuk unggahan Donald Trump yang menyebut “calm before the storm” sebagai faktor lain yang mempertebal sikap hati-hati pasar.

Sinyal spekulatif masih bertahan

Meski harga dan ETF spot tertekan, beberapa indikator menunjukkan minat spekulatif belum hilang. Data CryptoQuant memperlihatkan aggregated open interest Bitcoin turun dari $29 miliar menjadi $26 miliar dalam dua pekan terakhir, tetapi levelnya masih tergolong tinggi dibanding standar historis terbaru.

Funding rates Bitcoin juga sudah berubah positif setelah berbulan-bulan berada di wilayah negatif. Kondisi ini menunjukkan investor mulai membuka posisi long meski harga baru terkoreksi dan lebih dari $670 juta likuidasi terjadi pekan lalu.

Pemegang jangka panjang masih jadi penahan utama

Di tengah tekanan jangka pendek, Otychenko menilai pemegang Bitcoin jangka panjang tetap menjadi penopang paling penting. Ia mengatakan kelompok ini terus mengakumulasi BTC selama berbulan-bulan dalam skala yang jauh lebih besar dibanding Strategy, meski porsi pasokan mereka makin banyak masuk ke unrealized loss.

Menurut dia, pola tersebut membatasi potensi penurunan Bitcoin dan menunjukkan keyakinan jangka panjang di tengah volatilitas singkat. Pandangan ini sejalan dengan analisis sebelumnya dari Vetle Lund, head of research K33 Research, yang menilai perpetual preferred stock Strategy, Stretch atau STRC, bisa ikut memicu reli Bitcoin di pertengahan bulan.

Meski begitu, Otychenko menilai permintaan Strategy saja belum cukup kuat untuk menopang pemulihan harga secara berkelanjutan. Ia merujuk pada pola serupa di akhir Januari dan awal Februari, ketika permintaan Strategy melampaui outflow ETF tetapi tidak banyak menggerakkan harga Bitcoin.

Di pasar prediksi Myriad, pengguna masih memberi peluang 77% bahwa langkah berikutnya Bitcoin akan membawa harga ke $84,000. Optimisme itu memang turun dari puncak 89% pekan lalu, tetapi menunjukkan sebagian pelaku pasar masih menunggu pemulihan meski tekanan dari ETF dan sentimen risiko belum hilang.

Terkait