Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan uji jalan biodiesel 50 persen atau B50 untuk sektor otomotif selesai pada Mei 2026. Tahap ini menjadi penentu sebelum kebijakan B50 diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya menekan subsidi energi dan memperkuat ketahanan energi.
Pengujian itu sudah dimulai sejak 9 Desember 2025 dan melibatkan sembilan unit kendaraan dari sejumlah kategori. Armada uji terdiri atas empat mobil penumpang di bawah 3,5 ton dan lima kendaraan niaga berat, termasuk bus dan truk dari pabrikan Jepang serta Eropa.
Uji jalan difokuskan pada daya tahan mesin
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa setiap kendaraan diuji sesuai target jarak tempuh yang ditetapkan. Mobil penumpang harus mencapai 50 ribu kilometer, sedangkan kendaraan berat ditargetkan menempuh 40 ribu kilometer.
Eniya menegaskan evaluasi menyeluruh baru dilakukan setelah kendaraan memenuhi jarak uji tersebut. Ia menyebut fase otomotif ditargetkan rampung pada Mei agar hasilnya bisa dibaca sebelum masuk ke tahap implementasi berikutnya.
Libatkan pabrikan Jepang dan Eropa
Pemerintah melibatkan agen tunggal pemegang merek dari berbagai negara untuk melihat kesesuaian B50 pada mesin modern. Keterlibatan pabrikan Jepang dan Eropa menjadi penting, khususnya pada unit bus dan truk yang mewakili kendaraan berat dalam pengujian ini.
Hingga saat ini, tiga unit kendaraan besar dilaporkan telah menuntaskan pengujian sejauh 40 ribu kilometer. Data itu menjadi indikator awal bahwa campuran biodiesel yang lebih tinggi dapat diuji pada karakter mesin yang berbeda tanpa mengabaikan aspek ketahanan.
Tahap berikutnya: pembongkaran mesin
Setelah uji jalan selesai, tim teknis akan membongkar mesin untuk memeriksa dampak penggunaan B50 pada komponen internal. Langkah ini penting untuk memastikan bahan bakar nabati tersebut aman dipakai dalam jangka panjang pada kendaraan otomotif.
Eniya menyampaikan bahwa hasil awal pengujian masih berada dalam kategori aman. Pemeriksaan lanjutan di mesin diharapkan memberi gambaran lebih rinci mengenai kondisi komponen setelah kendaraan menempuh jarak uji yang dipersyaratkan.
Hasil laboratorium ikut memberi sinyal positif
Selain uji jalan, Kementerian ESDM juga memantau hasil laboratorium bahan bakar. Salah satu parameter yang dicek adalah kadar air, dan angka yang diperoleh masih berada di bawah batas maksimal yang ditetapkan otoritas energi.
Eniya menyebut kadar air saat ini berada di angka 208,81 ppm. Batas maksimalnya mencapai 300 ppm, sehingga parameter tersebut dinilai masih aman dan berada dalam rentang yang dipersyaratkan.
Pemerintah hitung dampak fiskal dan energi
Program B50 dikaitkan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan kebijakan ini mampu mengurangi konsumsi BBM fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa penerapan penuh pada pertengahan 2026 berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp48 triliun. Pemerintah juga menyebut PT Pertamina (Persero) siap mendukung distribusi B50 ke seluruh Indonesia agar pelaksanaan kebijakan berjalan sesuai rencana.
Dengan target uji jalan yang terus dikejar, fokus pemerintah kini tertuju pada pembuktian teknis di lapangan dan hasil pemeriksaan mesin setelah seluruh kendaraan menyelesaikan jarak tempuh yang ditetapkan. Tahap tersebut akan menjadi dasar penting sebelum B50 masuk ke fase penerapan nasional pada pertengahan 2026.







