Harga emas dunia melemah dan sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan pada perdagangan Selasa sore. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, serta meningkatnya perhatian pasar pada arah suku bunga global.
Dikutip dari Reuters, harga emas spot turun 1,4% menjadi US$ 4.614,71 per ons troi pada pukul 16.24 WIB. Level itu menjadi yang terendah sejak 7 April 2026, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni 2026 juga terkoreksi 1,4% ke US$ 4.629,20.
Minyak yang naik menekan sentimen emas
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju emas. Analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai pasar bereaksi terhadap mandeknya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak Brent bahkan menembus US$ 110 per barel. Kondisi itu terjadi di tengah keterbatasan akses di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi dunia.
Situasi tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi dan membuat investor berhati-hati. Ketika harga energi naik, pelaku pasar cenderung memperhitungkan dampaknya terhadap biaya produksi dan harga barang secara luas.
Inflasi dan arah suku bunga ikut membebani
Ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump disebut tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk penyelesaian konflik yang telah berlangsung dua bulan. Belum adanya kemajuan dalam dialog itu menjaga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi.
Menke menilai pasar emas kini lebih fokus pada kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat ketimbang risiko perlambatan ekonomi global. Kenaikan minyak dapat mendorong inflasi lebih tinggi, lalu membuka peluang bank sentral menaikkan suku bunga.
Bagi emas, kondisi seperti itu biasanya tidak menguntungkan. Logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya cenderung menurun ketika suku bunga dan imbal hasil instrumen lain bergerak naik.
Logam mulia lain ikut melemah
Tekanan di pasar tidak hanya dirasakan emas. Harga perak turun 3% menjadi US$ 73,20 per ons troi, menunjukkan pelemahan yang cukup tajam di kelompok logam mulia.
Platinum juga terkoreksi 1,7% ke US$ 1.949,84. Sementara itu, paladium turun 2,2% hingga berada di level US$ 1.444,72 per ons troi.
Pergerakan serentak itu memperlihatkan bahwa pasar logam mulia sedang berada di bawah tekanan dari beberapa arah sekaligus. Kombinasi kenaikan biaya energi, kekhawatiran inflasi, dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat investor menahan posisi pada aset lindung nilai seperti emas.
Dalam kondisi seperti ini, pasar masih akan sensitif terhadap perkembangan pembicaraan AS-Iran dan arah harga minyak. Selama tekanan dari sektor energi belum mereda, emas berpotensi tetap bergerak dalam tekanan karena fokus investor bergeser ke risiko inflasi dan kebijakan moneter global.
