Harga emas dunia masih bertahan di atas US$ 4.000 per ounce, tetapi posisinya belum benar-benar aman. Pasar kini bergerak di antara dua tekanan besar sekaligus, yakni inflasi yang belum sepenuhnya reda dan ketegangan geopolitik yang terus memanas.
Setelah data inflasi produsen Amerika Serikat lebih rendah dari perkiraan, pelemahan emas sempat tertahan. Namun, kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi dan situasi di Timur Tengah masih membuat investor berhati-hati.
Emas sempat tertekan, lalu memangkas pelemahan
Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot turun 0,2% ke US$ 4.047,27 per ounce setelah sebelumnya sempat merosot hampir 1%. Kontrak emas berjangka AS juga melemah 0,4% menjadi US$ 4.053,70 per ounce.
Chief Market Strategist Blue Line Futures, Phillip Streible, menilai emas berhasil memangkas pelemahannya setelah data PPI AS dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar. Menurut dia, hal itu sedikit meredakan kekhawatiran bahwa The Fed akan beberapa kali menaikkan suku bunga pada tahun ini.
| Indikator | Perubahan | Catatan |
|---|---|---|
| PPI AS Juni | -0,3% | Setelah Mei direvisi naik 0,6% |
| Peluang The Fed naikkan suku bunga pada pertemuan Juli | 10,2% | Turun dari 16,6% sebelum data PPI |
| Emas spot | US$ 4.047,27 per ounce | Turun 0,2% |
| Emas berjangka AS | US$ 4.053,70 per ounce | Turun 0,4% |
Data inflasi memberi napas, tapi belum cukup
Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics mencatat indeks harga produsen atau PPI turun 0,3% pada Juni, setelah pada Mei direvisi naik 0,6%. Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni.
Data inflasi konsumen AS sehari sebelumnya juga menunjukkan laju kenaikan harga melambat lebih besar dari perkiraan analis. Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10,2% dari sebelumnya 16,6% sebelum data PPI diumumkan.
Geopolitik tetap menjaga pasar dalam mode waspada
Meski inflasi memberi ruang bagi emas, ketegangan di Timur Tengah terus menahan pasar. Amerika Serikat dilaporkan memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut di sejumlah pelabuhan Iran.
Iran kemudian mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut. Situasi itu ikut mendorong harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu dan membuat pasar komoditas tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru.
Level psikologis US$ 4.000 jadi batas penting
Senior Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai perkembangan di sekitar Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran soal tekanan inflasi global. Ia mengatakan kenaikan harga minyak justru bisa menekan pergerakan harga emas jika tekanan inflasi bertahan lebih lama.
Menurut Otunuga, emas kini berada di titik krusial secara teknikal. Jika level US$ 4.000 gagal bertahan, jalan menuju US$ 3.950 bahkan US$ 3.000 bisa terbuka, tetapi bila support itu kuat maka emas berpeluang naik lagi ke US$ 4.100.
Ia juga menyoroti kemungkinan harga bahan bakar yang lebih tinggi membuat bank-bank sentral menjaga suku bunga tetap tinggi lebih lama. Dalam kondisi itu, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil bisa berkurang, meski levelnya masih bertahan di area psikologis penting.
Di pasar logam mulia lainnya, perak spot turun 1,6% menjadi US$ 57,67 per ounce. Platinum naik 0,2% ke US$ 1.634,13 per ounce, sementara palladium melemah 0,8% menjadi US$ 1.294,25 per ounce.
