Pemerintah mulai menyiapkan langkah lebih serius menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan membuat musim kemarau 2026 lebih kering dan lebih panjang. Risiko yang dikhawatirkan bukan hanya kekeringan, tetapi juga krisis air bersih dan kebakaran hutan serta lahan di sejumlah daerah.
Karena itu, fokus utama kebijakan diarahkan pada keselamatan masyarakat, ketersediaan air dan pangan, serta agar aktivitas ekonomi tidak terganggu. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci karena dampak cuaca kering berkepanjangan bisa muncul dengan pola yang berbeda di tiap wilayah.
Pemetaan Risiko Jadi Langkah Awal
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno meminta seluruh jajaran memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Arahan itu sejalan dengan prediksi BMKG yang menyebut curah hujan pada periode Juli–Desember 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–300 milimeter per bulan.
Di tingkat teknis, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menekankan perlunya pemetaan sumber air baku yang masih produktif. Daerah juga diminta segera menyusun rencana kontingensi kekeringan sebelum dampaknya meluas.
Lilik juga mendorong pemanfaatan sisa periode hujan untuk kampanye panen air hujan. Ia mengingatkan bahwa pengendalian konsumsi air perlu dilakukan sejak dini agar cadangan tetap aman saat kemarau mencapai fase terberat.
Infrastruktur Air Disiagakan
Kementerian Pekerjaan Umum menyiagakan sejumlah infrastruktur sumber daya air di berbagai daerah untuk menghadapi kemungkinan penurunan pasokan. Fasilitas yang disiapkan meliputi 240 bendungan, 593 situ dan danau, 1.639 tampungan air baku, serta 10.757 sumur bor yang dapat dioptimalkan saat dibutuhkan.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pompa air dan sarana distribusi air bersih portabel. Perangkat tersebut diarahkan untuk menjangkau wilayah yang mengalami kekeringan dan penurunan akses air bersih.
| Infrastruktur | Jumlah | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Bendungan | 240 | Menopang cadangan air |
| Situ dan danau | 593 | Sumber air baku |
| Tampungan air baku | 1.639 | Cadangan distribusi air |
| Sumur bor | 10.757 | Alternatif pasokan air |
Lilik menilai distribusi air harus dirancang sejak awal agar penanganan bisa berjalan cepat ketika wilayah mulai kekurangan pasokan. Menurut dia, mobil tangki air dan penentuan titik sumber air perlu masuk dalam rencana darurat daerah.
Karhutla Masuk Fokus Pengendalian
Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat puncak kemarau. Strategi yang disiapkan mencakup peningkatan kapasitas personel, dukungan logistik untuk daerah, pengerahan helikopter patroli dan water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca untuk memicu hujan buatan.
Pemerintah juga menegaskan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan secara sengaja akan diperketat. Langkah ini dinilai penting karena pencegahan karhutla akan lebih efektif jika dilakukan sebelum api meluas ke area yang sulit dijangkau.
Lilik menekankan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca perlu dirancang sejak awal musim. Tujuannya untuk mengisi cadangan air dan membasahi lahan gambut sebelum puncak kemarau datang, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan lebih awal.
Patroli Terpadu Diperluas di Daerah Rawan
Pemerintah pusat juga meminta pemerintah daerah memperkuat patroli terpadu di kawasan rawan kebakaran. Patroli ini melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, serta kementerian dan lembaga terkait.
Dengan pengawasan lapangan yang lebih rapat, deteksi dini diharapkan lebih cepat dan respons terhadap titik panas bisa lebih sigap. Pemerintah menempatkan kesiapan air, dukungan operasi cuaca, dan patroli terpadu sebagai rangkaian penting untuk menghadapi kemarau yang berpotensi lebih berat.
Source: www.beritasatu.com






