Eid Di Gaza Jadi Tenda Duka, Keluarga Palestina Tetap Bertahan Di Tengah Reruntuhan

Di Gaza, Eid al-Adha datang tanpa suasana meriah yang biasanya menyertai hari raya. Bagi banyak keluarga Palestina, momen itu justru berubah menjadi hari duka, kehilangan, dan upaya bertahan hidup di tengah kehancuran yang belum berhenti.

Di antara puing dan tenda pengungsian, perayaan bergeser jauh dari tradisi yang dulu akrab. Tak ada rumah yang penuh tamu, tak ada jamuan besar, dan tak ada hewan kurban yang mudah dijangkau oleh sebagian besar warga.

Keluarga yang merayakan sambil berduka

Bagi keluarga Baroud, perubahan itu terasa paling menyakitkan. Mereka kini menatap foto keluarga lama yang hanya menyisakan 22 wajah, sementara 13 di antaranya sudah tewas.

Walaa Baroud memegang foto terakhir keluarga itu sebagai pengingat masa lalu yang nyaris hilang. Kerabat yang masih hidup berkumpul bukan untuk merayakan Eid, melainkan untuk berduka atas Baha Baroud, saudara mereka yang tewas beberapa hari lalu dalam serangan Israel.

Eid mereka dimulai di tenda belasungkawa dan berlanjut ke rumah sakit, tempat jenazah Baha masih berada. Walaa mengatakan perang terus “melahap” orang-orang terdekat dan membuat keluarga itu terjebak di antara dua masa yang sama-sama menyakitkan.

Hidup di tenda tanpa tanda hari raya

Di bagian lain Gaza, Hajja Shama al-Zorbatli juga menjalani Eid tanpa makna perayaan. Perempuan lanjut usia itu tinggal di tenda kecil di trotoar setelah kehilangan suami dan rumahnya.

Ia mengatakan Eid tidak masuk ke dalam tenda. Di dalam tempat tinggalnya tidak ada listrik, telepon, televisi, atau internet, hingga ia sendiri nyaris tak tahu hari apa yang sedang berlangsung.

Al-Zorbatli masih mengingat Eid saat tinggal di kawasan Shujayea, Gaza City. Saat itu ia pergi ke pasar untuk membeli pakaian cucu-cucunya, membawa manisan, dan membuat kue Eid.

Kini, ia menyebutnya sebagai “Eid para syuhada”, hari yang lewat tanpa kegembiraan dan dipenuhi kehilangan. Sepatu yang usang dan gaun yang hanya dimilikinya dua potong menjadi simbol betapa sempitnya kehidupan yang tersisa.

Kurban yang nyaris lenyap

Kehilangan juga terasa di ruang sosial dan keagamaan yang selama ini menopang perayaan. Karam Khaled, koordinator proyek hewan kurban di yayasan Ru’ya, mengatakan musim kurban tahun ini berhenti total.

Ia menyebut penutupan penyeberangan, kelangkaan ternak, dan lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai penyebab utama. Sebelum perang, Ru’ya biasa menyembelih 300 hingga 400 sapi dan kambing setiap musim, tetapi tahun ini praktik itu praktis berhenti sepenuhnya.

Khaled mengatakan harga seekor domba di pasar lokal melonjak menjadi antara $4.500 dan $6.000, dari sekitar $350 sebelum perang. Ia menegaskan penyembelihan kurban dengan cara tradisional kini menjadi mustahil bagi lembaga maupun warga biasa.

Sebagai pengganti darurat, Ru’ya menyalurkan daging beku. Yayasan itu mengalokasikan hampir 10 ton daging beku untuk dibagikan selama Eid demi menutupi hilangnya ritual kurban.

Pasar sepi, daya beli jatuh

Di pasar Gaza, suasana hari raya tetap terasa, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih redup. Lapak pakaian, mainan, dan manisan masih berdiri, namun pembeli hampir tak terlihat.

Amjad Akram, pemilik toko pakaian anak di kawasan Remal, mengatakan biaya memasukkan barang ke Gaza sudah naik sekitar delapan kali lipat dibanding sebelum perang. Jika dulu pengiriman satu kotak pakaian memerlukan 250 shekel atau $88, kini biayanya sekitar 2.000 shekel atau $705.

Akram melihat daya beli warga jatuh drastis karena prioritas mereka bergeser ke makanan dan kebutuhan pokok. Banyak pembeli, katanya, hanya bertanya harga lalu pergi tanpa membeli apa pun.

Mohammed al-Najjar, pedagang daging, menambahkan sekitar 80 persen daging beku di pasar Gaza datang dari Israel, sebagian besar berasal dari Argentina atau Uruguay. Sisanya masuk dari Mesir dalam potongan besar, biasanya berbahan asal Brasil.

Ia juga mengatakan hewan ternak hidup hampir menghilang dari pasar. Harga satu kilogram daging domba kini mencapai sekitar 300 shekel atau $105, membuat banyak organisasi dan keluarga beralih ke daging beku.

Kehidupan yang berubah total

Di tenda lain, Mohammed Obeid menyambut Eid seorang diri setelah kehilangan istri, kedua kaki, dan rumahnya di Shujayea akibat perang. Ia kini duduk di kursi roda sambil menghabiskan waktu dengan membaca Alquran.

Obeid mengingat hidupnya dulu sebagai lelaki yang memiliki rumah empat lantai dan bergerak di tengah masyarakat dengan percaya diri. Ia juga dulu menyembelih hewan kurban dan membagikan daging kepada tetangga, tetapi kini justru orang lain yang memberinya bantuan dan sedekah.

Perubahan itu menunjukkan lebih dari sekadar kemerosotan ekonomi pribadi. Di Gaza, hilangnya kurban ikut menandai runtuhnya sistem sosial dan keagamaan yang selama ini bergantung pada amal dan organisasi keagamaan.

Di tengah sunyi yang sesekali pecah oleh takbiran dari kamp-kamp pengungsi dan mobil yang berkeliling kota dengan pengeras suara, Eid al-Adha pertama sejak gencatan senjata Oktober tetap berlalu tanpa banyak tanda sukacita. Bagi banyak keluarga, hari raya itu kini lebih mirip ujian untuk bertahan hidup daripada perayaan yang pernah mereka kenal.

Terkait