Bulan Dzulhijjah kembali menjadi perhatian umat Islam karena 10 hari pertamanya disebut sebagai hari-hari yang sangat dicintai Allah. Di momen ini, ibadah tidak harus menunggu keberangkatan haji atau umrah untuk mendapat nilai besar.
Justru bagi yang belum berkesempatan ke Tanah Suci, Dzulhijjah menjadi ruang luas untuk mengejar amal yang utama. Sejumlah amalan sederhana disebut memiliki pahala berlipat dan bisa dilakukan dalam aktivitas harian.
Puasa di 10 hari pertama
Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Di dalamnya terdapat puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnu an-Najar, puasa Tarwiyah dan Arafah disebut dapat menghapus dosa bagi yang menjalankannya. Menurut mayoritas ulama, dosa yang dimaksud adalah dosa kecil.
Keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah juga ditekankan dalam riwayat yang dinukil Majelis Ulama Indonesia dari Ibnu Abbas RA. Rasulullah disebut bersabda bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi 10 hari pertama Dzulhijjah.
Riwayat itu juga menyebut amal di dalamnya lebih baik daripada jihad fi sabilillah. Pengecualian hanya berlaku bagi jihad seseorang yang berkorban jiwa dan harta hingga mati syahid.
Zikir dan tilawah yang mudah dijaga
Selain puasa, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir sepanjang awal Dzulhijjah. Imam An-Nawawi, sebagaimana dikutip NU Online, menjelaskan bahwa zikir sangat disunahkan pada sepuluh awal Dzulhijjah dan semakin kuat anjurannya pada hari Arafah.
Zikir yang bisa diamalkan meliputi tahlil, takbir, tahmid, tasbih, istigfar, dan salawat nabi. Bacaan ini mudah dilakukan di sela aktivitas harian sehingga cocok menjaga suasana ibadah tetap hidup sepanjang bulan mulia ini.
Malam-malam Dzulhijjah juga dianjurkan untuk dihidupkan dengan membaca Al-Qur’an. Bahkan membaca meski hanya 10 ayat tetap bernilai besar karena setiap huruf Al-Qur’an dihitung sepuluh kebaikan.
Pahala itu disebut berlipat pada bulan yang dimuliakan ini. Karena itu, tilawah menjadi salah satu cara paling praktis untuk mengisi Dzulhijjah tanpa memerlukan persiapan khusus.
Berbuat baik kepada sesama
Amalan lain yang mendapat perhatian besar adalah menebar kebaikan kepada orang lain. Kebaikan semacam ini bisa dilakukan kapan saja, tetapi pada bulan Dzulhijjah nilainya disebut lebih istimewa karena pahalanya dilipatgandakan.
Bentuknya tidak harus besar. Membantu orang yang kesulitan, memberi jalan kepada yang kebingungan mencari alamat, atau mengangkat barang berat sudah termasuk amal baik yang dianjurkan.
Kebaikan itu juga bisa ditujukan kepada orang yang dikenal maupun orang asing yang membutuhkan bantuan. Yang ditekankan bukan besar kecilnya tindakan, melainkan ketulusan saat menjalankannya.
Para ulama juga menekankan bahwa di bulan mulia ini amal kebaikan dan dosa sama-sama mendapat bobot yang lebih besar. Karena itu, Dzulhijjah sering dipandang sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah sederhana yang bernilai tinggi.
Bagi umat Islam yang belum berhaji atau umrah, puasa, zikir, tilawah Al-Qur’an, dan berbuat baik kepada sesama menjadi jalan untuk tetap memaksimalkan Dzulhijjah. Semua itu dapat dilakukan tanpa menunggu kemampuan fisik dan biaya perjalanan ke Tanah Suci.
Source: www.beautynesia.id






