Seruan Reformasi Jilid II kembali menguat di Jawa Timur setelah dua elemen Badan Eksekutif Mahasiswa di wilayah itu mulai mengonsolidasikan gerakan. Dorongan ini lahir dari gabungan keresahan atas pelemahan rupiah, program pemerintah pusat, dan kekhawatiran atas arah demokrasi yang mereka nilai makin menurun.
BEM Nusantara Jatim Id dan BEM Nusantara Jatim Official sama-sama menyuarakan sikap itu melalui media sosial. Keduanya menempatkan isu ekonomi dan kebijakan negara sebagai alasan utama untuk mempersiapkan aksi turun ke jalan dalam waktu dekat.
Konsolidasi Di Akar Rumput
Koordinator Daerah BEM Nusantara Jatim Id, Deni Oktaviano Pratama, mengatakan gerakan ini lahir dari banyak persoalan yang terjadi di Indonesia. Ia menilai keresahan bukan hanya datang dari mahasiswa, tetapi juga dari masyarakat yang melihat kondisi negara bergerak di luar dugaan banyak pihak.
Menurut Deni, BEM Nusantara Jatim Id saat ini fokus melakukan konsolidasi di tingkat daerah. Jaringan di kabupaten dan kota yang terafiliasi sedang menyiapkan penguatan aksi dalam 2 atau 3 pekan ke depan, meski jadwal pastinya belum diputuskan.
Deni juga menyebut pelemahan rupiah dan dinamika kebijakan pemerintah bisa membuat gerakan di jalan berlangsung lebih cepat. Di sisi lain, mereka masih mengumpulkan kekuatan sebelum menentukan waktu dan bentuk aksi yang akan diambil.
Kritik Pada Program Pemerintah
BEM Nusantara Jatim Id menyoroti program pemerintah pusat seperti MBG dan Kopdes, serta masuknya militerisme ke ranah sipil sejak RUU TNI disahkan menjadi undang-undang. Mereka juga mengaitkan keresahan itu dengan sejumlah kasus penyerangan terhadap sipil yang dianggap memperkuat kesan kemunduran demokrasi.
Deni menegaskan mahasiswa tidak membenci sosok pemimpin negara. Namun, ia menilai program Prabowo-Gibran seperti MBG memunculkan keresahan karena muncul persoalan permainan MBG yang disebut mencakup jual-beli titik lokasi dan kasus yang menyeret mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Cs sebagai tersangka.
Dalam pandangan mereka, kritik, saran, dan ultimatum kepada pemerintah adalah bagian dari amanat rakyat. Deni bahkan menyebut reformasi jilid II akan terjadi ketika situasi dinilai sudah cukup memanas dan menumpuk.
Rupiah Dan Beban Anggaran
Seruan serupa juga datang dari BEM Nusantara Jatim Official yang dipimpin Koordinator Daerah Muhammad Zainnur Abdillah. Pihak ini baru membahas pelemahan rupiah yang disebut berada di level Rp18.012, lalu mengaitkannya dengan beban ekonomi negara.
Zainnur mengatakan sejumlah program Prabowo-Gibran dinilai membebani APBN karena banyak menyerap anggaran. Mereka menilai terlalu banyak pos belanja yang disubsidi negara, sehingga muncul tekanan fiskal yang perlu dikritik secara terbuka.
Gerakan dari daerah lain, termasuk Jawa Tengah, ikut mendorong sikap yang sama di Jawa Timur. Karena itu, BEM Nusantara Jatim Official sepakat melakukan konsolidasi pada tanggal 16 dan meminta kampus-kampus segera menyusun kajian masing-masing.
Isu Yang Akan Dibawa Ke Jalan
Dalam skema aksi yang sedang disiapkan, MBG, program Koperasi Desa Merah Putih, dan program pembangunan batalion menjadi sorotan utama. Zainnur mengatakan daftar tuntutan masih bisa bertambah setelah proses konsolidasi bersama BEM se-Jawa Timur selesai.
Perwakilan dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan Gresik disebut ikut terlibat dalam pembahasan itu. Mereka juga menyiapkan opsi aksi simbolis sebagai bagian dari gerakan yang ingin menaikkan kesadaran publik atas persoalan negara.
Zainnur mengingatkan pemerintah untuk segera sadar, membenahi sistem, serta mengevaluasi dan mengawasi kebijakan yang berjalan. Ia menilai jika tekanan publik diabaikan, gelombang aksi besar berpotensi turun ke jalan dan membuat situasi makin sulit dikendalikan.
Meski begitu, mahasiswa disebut tidak menginginkan kericuhan atau krisis yang membuat rakyat menderita. Karena itu, mereka tetap mendorong pemerintah merespons keresahan yang kini mulai terkonsolidasi di berbagai kampus di Jawa Timur.
