Drauger OS 7.8 datang dengan ambisi yang tidak main-main, yaitu mengubah Ubuntu menjadi distro Linux yang lebih siap untuk gaming. Rilis ini menonjol karena membawa kernel baru, KDE Plasma, dan sejumlah keputusan teknis yang langsung menyasar kebutuhan gamer.
Di tengah banyak distro gaming yang memilih jalur berbeda, Drauger OS tetap bertahan dengan basis Ubuntu. Strategi itu membuatnya terasa familier bagi pengguna Linux, tetapi dengan pendekatan yang lebih agresif untuk performa dan kenyamanan bermain.
Kernel 7.0 dan NTSYNC jadi fondasi utama
Salah satu pembaruan paling penting di Drauger OS 7.8 adalah penggunaan Linux kernel 7.0 sejak instalasi awal. Kernel ini disebut membawa dukungan NTSYNC sejak hari pertama, yang menjadi salah satu fokus performa utama distro ini.
Bagi sistem yang memang diposisikan untuk gaming, fondasi di level kernel sangat menentukan. Drauger OS mengklaim pembaruan ini memberi peningkatan performa yang jauh lebih baik dibandingkan Drauger OS 7.7 saat pertama kali dirilis.
KDE Plasma 6.5 dan Wayland jadi standar baru
Perubahan besar lain ada pada desktop yang dipakai. Drauger OS 7.8 kini menggunakan KDE Plasma 6.5 untuk menggantikan pendekatan desktop sebelumnya, sekaligus menghadirkan tampilan yang lebih modern dan fleksibel.
Pengembang juga menjadikan Wayland sebagai default untuk seluruh instalasi baru. Kombinasi Plasma 6.5 dan Wayland disebut memberi dukungan yang lebih baik untuk VRR dan HDR, dua fitur yang semakin relevan di sistem gaming modern.
Langkah ini juga menunjukkan arah pengembangan yang jelas, yakni meninggalkan komponen lama yang dianggap kurang ideal untuk pengalaman bermain. Sebelumnya, proyek ini sudah mengganti GNOME dengan KDE Plasma dan beralih dari PulseAudio ke PipeWire untuk memperkuat fondasi multimedia.
Firefox kini dibawa lewat Flatpak
Drauger OS 7.8 juga mengubah cara browser bawaannya didistribusikan. Firefox kini dikirim sebagai Flatpak, bukan dalam format yang oleh pengembang disebut sebagai “snappy nonsense”.
Perubahan ini punya dua tujuan yang jelas. Pembaruan Firefox bisa dilakukan saat pengguna menginginkannya, sementara pendekatan Flatpak diposisikan sebagai opsi yang lebih aman.
Di distro yang menargetkan gamer, detail seperti ini tetap penting karena bisa mengurangi urusan teknis di luar aktivitas utama. Dengan aplikasi bawaan yang lebih mudah dikelola, sistem terasa lebih praktis sejak awal dipakai.
Posisi unik di tengah distro gaming lain
Drauger OS berada di ruang yang sudah diisi nama lain seperti Bazzite dan CachyOS. Namun proyek ini mencoba berbeda dengan tetap memanfaatkan ekosistem Ubuntu sambil membentuk identitasnya sendiri sebagai distro gaming.
Pilihan itu menarik karena Ubuntu punya basis pengguna besar dan dukungan paket yang luas. Di sisi lain, Drauger OS tidak berhenti sebagai Ubuntu desktop biasa, melainkan terus memangkas dan mengganti elemen yang dianggap kurang cocok untuk gaming.
Gabungan kernel 7.0, dukungan NTSYNC, KDE Plasma 6.5, Wayland, PipeWire, dan Flatpak untuk Firefox menunjukkan arah yang konsisten. Semua keputusan itu diarahkan untuk membuat sistem lebih siap dipakai bermain game sejak awal, bukan sekadar menjadi Ubuntu dengan tambahan aplikasi game.
Bagi pengguna Linux yang mencari alternatif berbasis Ubuntu dengan fokus kuat pada gaming, Drauger OS 7.8 menjadi rilis yang patut diperhatikan. Versi Urgal ini memperlihatkan bahwa distro gaming berbasis Ubuntu masih punya ruang untuk berkembang dengan identitas yang cukup berbeda.
