PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN kini mengelola dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sekitar Rp38 triliun. Di balik tambahan likuiditas tersebut, bank telah menyiapkan pengembalian sebagian dana pada September 2026.
Jadwal penarikan itu menjadi perhatian karena pengembalian dana pemerintah dapat memengaruhi perencanaan likuiditas bank. BTN menilai kepastian waktu penarikan memberi ruang untuk mengatur pendanaan sambil menjaga penyaluran kredit tetap berjalan.
Tambahan Rp13 Triliun Memperbesar Penempatan Dana
Total dana SAL di BTN bertambah setelah perseroan menerima penempatan baru sekitar Rp13 triliun pada semester I/2026. Tambahan tersebut memperbesar dana pemerintah yang tersedia untuk mendukung pembiayaan di tengah kebutuhan ekspansi kredit.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penambahan dana itu mendekati Rp13 triliun. “Kita ketambahan kurang lebih hampir Rp13 triliun,” kata Nixon seusai Konferensi Pers Paparan Kinerja Semester I/2026 di Jakarta.
Dana SAL tersebut digunakan BTN untuk mendukung penyaluran kredit sesuai arahan pemerintah. Penyalurannya mencakup Kredit Pemilikan Rumah atau KPR, kredit komersial, pembiayaan konstruksi, hingga kredit kepada BUMN seperti Perum Bulog.
| Indikator | Posisi atau Perubahan | Periode |
|---|---|---|
| Total dana SAL di BTN | Sekitar Rp38 triliun | Saat ini |
| Tambahan dana SAL | Sekitar Rp13 triliun | Semester I/2026 |
| Biaya dana BTN | Turun 112 bps menjadi 3,01% | Semester I/2026 |
| Pengembalian sebagian dana SAL | Nominal tidak diungkapkan | September 2026 |
Biaya Dana Turun saat Kredit Tetap Disalurkan
Penempatan dana SAL membantu BTN mengurangi tekanan untuk menghimpun dana dari masyarakat. Hingga akhir semester I/2026, biaya dana BTN turun 112 basis poin menjadi 3,01%.
Biaya dana yang lebih rendah memberi bank ruang lebih besar dalam mengelola sumber pendanaan ketika kredit terus disalurkan ke sejumlah segmen. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan persiapan saat sebagian dana pemerintah kembali ditarik.
Nixon tidak mengungkapkan nilai dana SAL yang akan dikembalikan pada September 2026. Meski demikian, ia menyebut BTN sudah mengetahui besaran porsi yang perlu disiapkan untuk pengembalian tersebut.
Menurut Nixon, kepastian jadwal merupakan faktor penting dalam pengelolaan likuiditas perbankan. “Nanti September [2026] ada porsi yang harus dikembalikan. Sekarang kan bagusnya schedule [untuk mengembalikan dana SAL] udah clear,” ujarnya.
Risiko Perebutan Likuiditas Perlu Diantisipasi
BTN berharap penarikan dana SAL mempertimbangkan waktu pelaksanaan agar tidak berbarengan dengan kebijakan lain yang juga menyerap dana dari pasar. Koordinasi diperlukan agar kondisi likuiditas perbankan tetap lebih terukur.
Pada akhir Juni 2026, persaingan mendapatkan likuiditas sempat meningkat saat penarikan dana SAL berlangsung bersamaan dengan kenaikan BI Rate, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI, serta penerbitan surat utang pemerintah. Kombinasi tersebut membuat sejumlah bank menaikkan suku bunga deposito untuk menarik dana masyarakat.
Kenaikan bunga deposito dapat membuat biaya dana perbankan meningkat karena persaingan penghimpunan dana menjadi lebih ketat. Kondisi ini menjadi salah satu alasan BTN menekankan pentingnya pengaturan waktu dalam penarikan dana pemerintah.
Nixon menyatakan tekanan likuiditas tersebut telah diatasi setelah bank-bank menyampaikan penjelasan kepada Menteri Keuangan dan DPR. Menurutnya, tekanan serupa dapat dicegah dengan koordinasi yang baik, terutama terkait jadwal pengembalian dana SAL.
Bagi BTN, tambahan dana SAL memperkuat dukungan pendanaan untuk kredit pada saat ini. Sementara itu, jadwal pengembalian pada September 2026 menjadi penanda penting bagi perseroan untuk menata kebutuhan likuiditas berikutnya.
