Nasib kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran kembali berada di titik rawan setelah serangan terbaru terjadi di kawasan Selat Hormuz. Meski nota kesepahaman sudah berlaku, insiden baru ini menunjukkan bahwa jalur menuju stabilitas masih mudah goyah.
Yang dipertaruhkan bukan hanya gencatan senjata, tetapi juga kepercayaan yang dibangun lewat dokumen 14 poin yang baru berjalan sejak 18 Juni. Di tengah saling tuding pelanggaran, diplomasi memang belum tertutup, namun ruang untuk salah hitung kini semakin sempit.
MoU yang Masih Diuji di Lapangan
Kesepakatan damai itu ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Isi dokumennya mencakup penghentian operasi militer, gencatan senjata, pembentukan komite kerja, dan upaya mencegah konflik meluas ke berbagai front.
MoU tersebut juga memuat pengaturan keamanan sementara di Selat Hormuz. Selain itu, ada pembahasan soal izin ekspor minyak Iran dan pelepasan aset Iran yang dibekukan, dua isu yang masih menjadi sorotan utama dalam implementasi kesepakatan.
Serangan Baru Memicu Tuduhan Timbal Balik
Ketenangan itu terganggu setelah AS melancarkan serangan pada 26 Juni sebagai respons atas dugaan serangan Iran terhadap kapal kargo berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, sehari sebelumnya. Kapal tersebut dilaporkan melintas di Selat Hormuz saat insiden terjadi.
US Central Command atau Centcom menyebut serangan itu sebagai respons tegas. Dalam pernyataan di X, Centcom mengatakan pesawat tempurnya menyerang lokasi penyimpanan rudal, drone, dan radar pesisir Iran.
Washington menilai tindakan Iran terhadap kapal komersial itu melanggar gencatan senjata. AS juga menilai insiden tersebut mengganggu kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Teheran Menolak Tuduhan AS
Dari sisi Iran, respons yang muncul justru berlawanan dengan tuduhan Washington. Otoritas Urusan Selat Teluk Persia atau PGSA lebih dulu mengingatkan kapal-kapal agar hanya menggunakan jalur pelayaran resmi yang ditetapkan pemerintah Iran.
PGSA menegaskan kapal yang melintas di luar jalur resmi tidak akan mendapat perlindungan jalur aman. Otoritas itu juga menyebut konsekuensi dari pelayaran di jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal.
Iran kemudian membantah telah melanggar gencatan senjata. Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan AS justru lebih dulu melanggar kesepakatan dengan menyerang wilayah Iran lewat udara.
Iran juga mengklaim mendeteksi pesawat militer Israel mendekati wilayah udaranya melalui negara tetangga. Militer Iran menyebut pergerakan itu sebagai ancaman dan mengatakan akan merespons jika merasa terancam.
Diplomasi Masih Dibuka, tapi Belum Final
Presiden Donald Trump menilai Iran telah melanggar gencatan senjata dan harus menerima konsekuensi. Saat ditanya soal respons AS, Trump hanya menjawab singkat, “Anda akan mengetahuinya.”
Trump kemudian menyebut Iran meminta pertemuan di Doha, Qatar. Gedung Putih mengatakan utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Namun Iran membantah narasi itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan delegasi Iran memang akan berangkat ke Doha, tetapi agenda utamanya adalah menindaklanjuti implementasi nota kesepahaman, bukan negosiasi kesepakatan akhir.
Baghaei juga mengatakan Iran belum memasuki tahap perundingan final. Ia menambahkan, dalam beberapa hari mendatang tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan pihak AS di tingkat mana pun.
Poin yang Masih Jadi Sorotan
Beberapa bagian MoU tetap menjadi fokus kedua pihak, terutama soal mekanisme ekonomi dan pengawasan di kawasan. Iran saat ini disebut memprioritaskan Pasal 10 tentang ekspor minyak dan Pasal 11 mengenai pelepasan aset yang dibekukan.
| Poin MoU | Isi Utama | Status Pembahasan |
|---|---|---|
| Penghentian operasi militer | Gencatan senjata dan penghentian serangan | Masih diuji oleh insiden terbaru |
| Selat Hormuz | Pengaturan keamanan sementara | Menjadi titik paling sensitif |
| Komite kerja | Memantau pelaksanaan MoU | Masih dalam tahap implementasi |
| Ekspor minyak Iran | Izin ekspor minyak | Diprioritaskan Iran |
| Aset Iran | Pelepasan aset yang dibekukan | Masih dibahas |
Selama poin-poin itu belum menemukan titik temu yang benar-benar stabil, peluang menjaga kesepakatan damai tetap terbuka. Namun satu insiden militer lagi bisa menjadi ujian paling berat bagi upaya meredakan konflik di Timur Tengah.
Di saat yang sama, Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian karena menyangkut keamanan pelayaran dan arus energi dunia. Itulah sebabnya setiap langkah balasan dari AS maupun Iran berpotensi mengubah arah kesepakatan yang sejak awal memang sudah tampak rapuh.
Source: www.beritasatu.com






