Damai AS-Iran Buka Selat Hormuz, Rupiah Berpeluang Menguat

Author: Cung Media

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memberi harapan baru bagi pasar global, terutama lewat peluang lancarnya distribusi energi dan perdagangan internasional. Di Indonesia, efeknya bisa terasa sampai ke nilai tukar rupiah dan aktivitas ekspor-impor.

Anggota Komisi I DPR Nurul Arifin menilai situasi yang lebih tenang dapat mengurangi ketidakpastian ekonomi dunia. Ia melihat Indonesia berpotensi ikut diuntungkan jika jalur perdagangan internasional kembali stabil dan arus barang bergerak tanpa banyak hambatan.

Selat Hormuz Dibuka Kembali

Poin yang paling penting dari kesepakatan itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute strategis bagi distribusi minyak dan energi dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut biasanya langsung memengaruhi pasar global.

Nurul menyebut pembukaan jalur itu memberi sinyal positif bagi iklim ekonomi dan politik internasional. Dalam pernyataannya dikutip dari TVR Parlemen, ia mengatakan, “Dengan ditandatanganinya MoU ini, paling tidak Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Ini tentu positif bagi iklim politik dan ekonomi global karena distribusi energi dunia menjadi lebih lancar.”

Harga Energi dan Rupiah Bisa Terdorong

Stabilitas di Timur Tengah juga berpotensi menekan gejolak harga energi. Jika pasokan minyak tidak lagi tertekan, pasar bisa melihat harga minyak lebih terkendali dan nilai tukar dolar menjadi lebih stabil.

Dalam pandangan Nurul, kondisi seperti itu membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. “Kalau situasi di sana stabil, harga minyak berpotensi turun, nilai tukar dolar lebih stabil, dan rupiah juga bisa semakin menguat,” ujarnya.

Masih Ada Pembahasan Lanjutan

Meski kesepakatan damai ini memunculkan optimisme, prosesnya belum sepenuhnya selesai. Sejumlah isu strategis masih perlu dibahas lebih lanjut, termasuk program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi.

Nurul berharap para pihak menjaga komitmen agar kesepakatan tidak berhenti pada nota kesepahaman. Menurutnya, keberlanjutan dialog menjadi kunci agar stabilitas kawasan benar-benar terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, termasuk oleh perekonomian Indonesia.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru