Cuaca yang makin tidak menentu ikut memperbesar risiko Demam Berdarah Dengue atau DBD di Indonesia. Ancaman ini bukan hanya soal jumlah kasus, tetapi juga soal siapa yang paling rentan mengalami komplikasi berat saat penularan meningkat.
Perhatian publik terhadap DBD menguat karena perubahan iklim dapat memperluas kondisi yang disukai nyamuk Aedes aegypti. Saat suhu dan pola hujan berubah, habitat nyamuk pembawa virus dengue bisa meluas dan siklus hidupnya dapat berlangsung lebih cepat.
Beban DBD masih sangat besar
Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada memperkirakan total beban ekonomi DBD mendekati Rp9 triliun pada 2024. Studi itu juga menyebut lebih dari 2 juta kasus rawat inap, dengan BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun.
Di luar itu, pasien peserta BPJS dan keluarganya masih menanggung tambahan biaya sekitar Rp3,5 triliun. Sementara itu, pasien non-BPJS beserta keluarga menanggung sekitar Rp2,2 triliun, yang menunjukkan dampak finansial penyakit ini masih sangat luas.
Cuaca berubah, risiko ikut naik
Dalam data yang disampaikan, peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Probabilitas itu disebut bisa berlanjut di atas 90 persen hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya, penyebaran vektor dengue berpotensi makin mudah terjadi dan risiko penularan DBD ikut meningkat.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM, menegaskan bahwa beban DBD masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu dapat mendorong penyebaran penyakit ini.
Jakarta dan wilayah padat penduduk tetap perlu waspada
Di Jakarta, tantangan pengendalian DBD masih terlihat jelas. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, M.M., menyampaikan bahwa hingga 15 Juni 2026 tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di Jakarta.
Angka itu menegaskan bahwa ancaman DBD tetap nyata di wilayah padat penduduk dan mobilitas tinggi. Karena itu, pencegahan disebut tidak boleh menunggu kasus naik, melainkan harus menjadi kebiasaan di rumah, sekolah, dan tempat kerja.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga memperkuat edukasi masyarakat, peran kader Jumantik, penggerakan 3M Plus, serta kolaborasi lintas sektor. Langkah-langkah ini ditujukan untuk menekan tempat berkembangbiaknya nyamuk dan memperluas kesadaran publik.
Anak-anak dan orang dewasa sama-sama berisiko
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan kelompok usia 5–14 tahun menyumbang porsi kematian terbesar akibat DBD dalam tujuh tahun terakhir. Pada 2025, kelompok ini tercatat menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD.
Temuan itu menempatkan anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal penyakit ini. Namun, DBD juga banyak menyerang kelompok usia produktif, sehingga ancamannya tidak terbatas pada usia anak.
Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun. Pada 2025, kelompok ini mencapai 42 persen dari total kasus, yang menunjukkan bahwa penularan masih meluas di berbagai lapisan usia.
Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menekankan bahwa DBD bukan penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu tertentu. Ia mengingatkan bahwa penularan bisa terjadi kapan saja dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi syok dengue.
Pasien komorbid menghadapi risiko komplikasi lebih besar
Kelompok dewasa dengan penyakit penyerta juga perlu mendapat perhatian khusus. Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, menjelaskan bahwa DBD kerap dianggap sebagai penyakit anak, padahal orang dewasa juga bisa terinfeksi dan mengalami komplikasi serius.
Risiko komplikasi disebut meningkat pada pasien dengan hipertensi, diabetes melitus, penyakit ginjal, asma, atau penyakit paru kronik. Berdasarkan data yang disampaikan, orang dengan hipertensi berisiko 2–3 kali lebih tinggi, diabetes 3–5 kali lebih tinggi, penyakit ginjal hingga 7 kali lebih tinggi, dan asma atau penyakit paru kronik 2–12 kali lebih tinggi dibanding pasien tanpa komorbiditas.
Pencegahan harus dilakukan sebelum kasus melonjak
Pemerintah telah menyiapkan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 sebagai pedoman utama menghadapi DBD. Strategi itu akan diperkuat dengan Rencana Aksi Nasional yang sedang dikembangkan, dengan pendekatan yang mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk lewat 3M Plus, hingga pemanfaatan inovasi pencegahan termasuk vaksinasi.
IDAI mendorong orang tua berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan, termasuk vaksin dengue untuk anak yang telah direkomendasikan untuk perlindungan optimal. PAPDI juga merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18–60 tahun sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh.
Takeda melalui Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyebut beban DBD terus bertumbuh dan tidak boleh dianggap remeh. Ia juga mengatakan rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibanding dua dekade sebelumnya.
Takeda menggelar aktivasi ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD! di Urban Forest, Jakarta, sebagai upaya edukasi keluarga agar memahami pencegahan secara menyeluruh. Kegiatan itu menargetkan lebih dari 1.000 pengunjung selama dua hari, dengan rangkaian aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif, dan sesi berbagi bersama para ahli.
Dengan cuaca yang berpotensi memengaruhi penyebaran vektor dan kelompok rentan yang tersebar di berbagai usia, kewaspadaan terhadap DBD dinilai perlu menjadi kebiasaan harian. Menjaga lingkungan bebas jentik, menerapkan 3M Plus, dan mencari informasi medis yang tepat tetap menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit ini.
Source: lifestyle.bisnis.com






