Commodore Pernah Kuasai Pasar, Begini Kekeliruan yang Pelan-Pelan Menenggelamkannya

Commodore pernah menjadi nama besar yang membentuk awal era komputer rumahan. Perusahaan ini melahirkan Commodore PET sebagai komputer all-in-one pertama, lalu Commodore 64 yang disebut sebagai desktop paling laris sepanjang masa.

Namun, kejayaan itu justru menutupi rapuhnya fondasi bisnis di dalam perusahaan. Saat Microsoft dan IBM mulai menguasai pasar komputasi, Commodore tidak lagi mampu menjaga posisinya dan akhirnya lenyap dari peta pada era 1990-an.

Keberhasilan yang membesar, tetapi juga menipu arah

Di bawah Jack Tramiel, Commodore mengejar visi agar komputer pribadi tidak lagi menjadi barang mahal dan eksklusif. Strategi itu berhasil karena perusahaan membuat perangkat yang terjangkau dan mudah diakses banyak orang.

Commodore PET yang dirilis pada 1977 menjadi langkah awal yang penting. Komputer itu laris di lingkungan kerja dan pendidikan, lalu Commodore 64 membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi.

Commodore 64 dijual seharga $595. Dengan kemampuan grafis yang efisien biayanya, perangkat ini menarik bagi pasar profesional dan konsumen, terutama gamer.

Penjualannya mencapai sekitar 12,5 juta unit. Angka itu membuat Commodore menjadi pemimpin de facto industri komputer rumahan.

Masalah mulai muncul setelah Tramiel pergi

Krisis mulai terlihat setelah Jack Tramiel meninggalkan perusahaan pada 1984. Setelah itu, Commodore kesulitan membangun strategi jangka panjang yang solid.

David John Pleasance, yang saat itu menjabat sebagai managing director Commodore, mengatakan perusahaan tidak pernah benar-benar pulih dari kepergian Tramiel. Tanpa rencana bisnis yang jelas, jajaran manajemen senior sering berganti dan banyak di antaranya tidak memahami bisnis komputer rumahan.

Dalam kondisi seperti itu, perusahaan cenderung mengejar keuntungan jangka pendek. Commodore pun terlalu lama bergantung pada kesuksesan Commodore 64.

Pergantian kekuasaan internal juga memperburuk keadaan. Hanya dalam dua tahun setelah Commodore 64 dirilis, dewan direksi memaksa Tramiel keluar, dan langkah itu disebut menjadi awal dari masalah yang lebih besar.

Amiga tidak cukup untuk membalik keadaan

Commodore sempat memiliki produk yang sangat maju lewat Amiga. Mesin ini dipuji sebagai perangkat multimedia pionir yang memadukan kebutuhan kantor, permainan, dan dunia kreatif, bahkan menarik perhatian Andy Warhol.

Meski begitu, status revolusioner itu tidak otomatis membuatnya sukses secara komersial. Pada 1985, Amiga gagal menembus pasar konsumen karena pemasaran Commodore dinilai tidak tepat sasaran.

Perusahaan tetap mencoba bertahan dengan model-model Amiga berikutnya. Upaya itu membantu menjaga bisnis tetap hidup untuk sementara, tetapi tidak cukup untuk mengubah arah perusahaan.

Pasar berubah, Commodore terlambat membaca sinyal

Memasuki 1990-an, persaingan komputer bergerak ke arah yang berbeda. Windows mulai mendominasi pasar dengan arsitektur yang menetapkan standar untuk komputer pribadi yang tidak bergantung pada perangkat keras tertentu.

Commodore terlambat menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Saat pasar bergerak cepat, perusahaan justru tertinggal dan tidak lagi berada dalam posisi kuat untuk menantang Microsoft dan IBM.

Kondisi keuangan pun makin berat. Pada 1994, Commodore mencatat kerugian $8,2 juta.

Tidak lama setelah itu, perusahaan tidak punya banyak pilihan selain mengajukan kebangkrutan. Kejatuhan Commodore menunjukkan bahwa produk legendaris saja tidak cukup jika perusahaan gagal berinovasi dan salah mengelola arah bisnis.

Warisan Commodore tetap hidup di kalangan penggemar teknologi. Commodore 64 masih dicintai hingga kini, Amiga mendapat rerelease modern, dan Amiga 500 yang disebut gagal pun masih bisa bernilai tambahan $600 jika ditemukan di basement keluarga.

Exit mobile version