Coinbase Kembali Rugi, Penurunan Volume Kripto Mulai Menekan Bisnis Inti

Coinbase Global kembali berada di bawah tekanan saat momentum perdagangan kripto melemah dan volatilitas pasar menekan aktivitas transaksi. Bursa aset digital itu membukukan rugi kuartalan kedua berturut-turut, sementara sahamnya turun sekitar 5% dalam perdagangan setelah jam bursa.

Kondisi ini muncul di tengah pelemahan pasar aset digital yang lebih luas pada awal 2026. Momentum harga kripto mereda, kondisi keuangan mengetat, dan ketidakpastian makro yang masih bertahan ikut menurunkan selera risiko setelah reli ke rekor tertinggi pada Oktober tahun lalu.

Pendapatan transaksi terkikis tajam

Chief Financial Officer Alesia Haas mengatakan kondisi makro benar-benar sulit. Ia menyebut kapitalisasi pasar kripto total dan volume perdagangan kripto total sama-sama turun lebih dari 20% secara kuartalan.

Dampaknya langsung terasa pada bisnis inti Coinbase. Pendapatan transaksi anjlok sekitar 40% menjadi $756 juta dari setahun sebelumnya.

Total pendapatan Coinbase juga turun tajam menjadi $1,43 miliar dari $2,03 miliar setahun sebelumnya. Perusahaan melaporkan rugi bersih $394,1 juta, atau $1,49 per saham, untuk kuartal yang berakhir 31 Maret.

Hasil itu berbalik dari laba $65,6 juta, atau 24 sen per saham, pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya pelemahan volume perdagangan memukul bisnis utama bursa kripto terbesar di Amerika Serikat itu.

Bisnis di luar trading ikut tertekan

Tekanan tidak hanya datang dari transaksi jual beli aset digital. Pendapatan unit subscription and services yang menaungi bisnis di luar trading turun 13,5% menjadi $583,5 juta pada kuartal pertama tahun ini.

Pendapatan berbasis langganan juga terdorong turun di tengah ketidakpastian ekonomi. Investor yang lebih berhati-hati mengurangi eksposur kripto yang bersifat diskresioner.

Situasi itu makin berat karena aset digital semakin kehilangan fungsi sebagai lindung nilai portofolio. Kripto kini lebih sering bergerak searah dengan pasar keuangan yang lebih luas, sehingga aliran masuk dari lintas aset ikut melemah.

Efeknya merembet ke pasar

Saham Coinbase sudah turun hampir 15% sepanjang 2026. Tekanan serupa juga dirasakan pemain lain di industri yang sama ketika volume perdagangan melemah.

Robinhood Markets pekan lalu gagal memenuhi estimasi pendapatan dan laba kuartalan. Hasil itu ikut terbebani volume perdagangan yang lebih lemah.

Di sisi lain, Coinbase mencoba menahan tekanan biaya dengan langkah efisiensi. Perusahaan memangkas sekitar 700 pekerjaan, atau sekitar 14% dari tenaga kerja globalnya.

Pemangkasan itu dilakukan untuk menekan biaya di tengah volatilitas pasar kripto. Coinbase juga ingin menata ulang bisnisnya menuju era kecerdasan buatan.

CEO Brian Armstrong mengatakan dalam blog bahwa kondisi pasar saat ini menuntut perusahaan merampingkan operasi dan “muncul lebih ramping” menjelang siklus kripto berikutnya. Analis menilai langkah tersebut mencerminkan saham yang lemah dan turunnya volume perdagangan.

Regulasi masih jadi harapan

Di tengah tekanan bisnis, Coinbase tetap melihat peluang dari sisi regulasi. Chief Legal Officer Paul Grewal mengatakan perusahaan yakin RUU Clarity akan masuk tahap markup bulan ini, lalu disusul pemungutan suara di awal musim panas.

Target akhirnya adalah undang-undang ditandatangani pada akhir musim panas. RUU Clarity sendiri diperkenalkan pada Mei tahun lalu untuk membentuk kerangka regulasi yang lebih jelas bagi aset digital di Amerika Serikat.

Aturan itu juga akan membagi tanggung jawab pengawasan industri kripto di AS. Perkembangan ini penting bagi pembahasan soal rewards, termasuk perdebatan terbaru yang menyebut stablecoin yield tidak akan membolehkan rewards pada saldo dalam rancangan terbaru.

Bagi Coinbase, arah regulasi bisa menjadi penentu baru saat pendapatan transaksi masih tertekan. Namun untuk saat ini, pelemahan pasar kripto dan menurunnya volume perdagangan tetap menjadi tantangan terbesar bagi bisnis inti perusahaan.

Exit mobile version