Chip Buatan Sendiri Bawa China Rebut Puncak Superkomputer Dunia dari AS

China kembali mengambil posisi teratas dalam peringkat superkomputer global, dan kali ini lewat mesin bernama LineShine yang ditenagai chip buatan dalam negeri. Pencapaian itu bukan sekadar soal angka benchmark, tetapi juga sinyal kuat bahwa Beijing masih bisa mengejar ketertinggalan di tengah pembatasan teknologi dari Amerika Serikat.

LineShine menjadi superkomputer pertama dari China yang merebut posisi puncak TOP500 dari AS sejak 2017. Mesin itu menggusur El Capitan milik Lawrence Livermore National Laboratory di California, yang sebelumnya berada di posisi teratas.

China Menjawab Tekanan Teknologi AS

Langkah ini datang ketika rivalitas teknologi kedua negara terus memanas. Washington selama bertahun-tahun memperketat kontrol ekspor dan membatasi akses China ke chip serta teknologi frontier yang dinilai berpotensi mendukung kemampuan militernya.

Sejak masa jabatan pertama Presiden Donald Trump, pembatasan itu terus meluas, dan sejak 2022 akses China ke GPU kelas atas makin tertekan. Situasi tersebut ikut memaksa perusahaan dan lembaga riset di China mencari jalur komputasi yang tidak bergantung pada pemasok Amerika seperti Nvidia.

Berjalan Tanpa GPU, Mengandalkan CPU Lokal

Yang membuat LineShine menonjol adalah arsitekturnya. Sistem ini disebut tidak memakai GPU khusus seperti banyak superkomputer modern, melainkan berjalan sepenuhnya dengan CPU, yakni chip komputasi yang juga umum dipakai di perangkat elektronik konsumen.

National Supercomputing Center China menyebut pencapaian itu sebagai lompatan bersejarah di tengah hambatan teknologi asing. Pusat itu juga mengatakan LineShine dibangun dengan infrastruktur komputasi lengkap yang dikembangkan di dalam negeri, termasuk CPU dan high-bandwidth memory atau HBM.

Lebih Cepat 20 Persen dari El Capitan

TOP500 menyebut LineShine memiliki kecepatan komputasi 20% lebih cepat dibanding El Capitan. Selisih itu cukup untuk mengubah peta persaingan di puncak daftar, meski para ahli mengingatkan bahwa hasil TOP500 tidak otomatis sama dengan kekuatan AI sebuah negara.

Lu Yutong, kepala desainer LineShine, mengatakan di acara penghargaan TOP500 di Hamburg, Jerman, bahwa mesin tersebut menembus batas arsitektur hibrida konvensional yang selama ini menggabungkan CPU dan GPU. Pernyataan itu mempertegas posisi LineShine sebagai sistem yang dibangun dengan pendekatan berbeda dari banyak superkomputer kelas atas lain.

Dipakai untuk Riset Iklim Hingga AI

National Supercomputing Center China menyebut LineShine sudah digunakan untuk pemodelan iklim, simulasi teknik, penemuan obat, neuroscience, dan AI. Pemakaian yang beragam ini menunjukkan bahwa superkomputer tersebut bukan hanya simbol prestise, tetapi juga alat kerja riset yang aktif.

Di sisi lain, Andrew Rohl, direktur National Computational Infrastructure di Australia, menilai pencapaian itu memang mengesankan, tetapi bukan ukuran terbaik untuk menilai siapa yang paling unggul dalam AI. Ia menjelaskan bahwa TOP500 memakai benchmark lama yang dirancang untuk beban komputasi sains tradisional, bukan sistem AI modern.

Peta Persaingan Masih Terbuka

Rohl juga menyoroti bahwa banyak sistem AI terkuat milik perusahaan besar AS seperti xAI dan Google tidak masuk daftar, begitu pula sejumlah superkomputer di fasilitas pertahanan teratas karena alasan sensitivitas atau ekonomi. Artinya, posisi puncak TOP500 memberi gambaran penting, tetapi tidak menutup fakta bahwa persaingan komputasi tingkat tinggi masih jauh lebih luas.

Di bawah El Capitan, dua mesin Amerika lain masih berada di daftar, bersama satu mesin di Jerman. Italia, Swiss, dan Jepang juga tetap bertahan di sepuluh besar, sementara China kini menguasai posisi paling atas dengan pendekatan chip domestik yang berbeda dari arus utama industri.

Terkait