China kembali menunjukkan bahwa kekuatan terbesarnya di energi bersih bukan hanya pada teknologinya, tetapi pada skala industrinya yang mampu menekan biaya. Di ajang Pameran Rantai Pasokan Internasional China atau CISCE di Beijing, ekosistem energi bersih negara itu tampil sebagai mesin utama transisi hijau global.
Pameran tersebut mempertemukan perusahaan energi, produsen peralatan, dan mitra lintas negara dalam satu rantai pasok yang saling terhubung. Bagi banyak negara, kombinasi produksi massal, inovasi, dan harga yang lebih terjangkau membuat teknologi China sulit diabaikan.
CISCE Menjadi Etalase Rantai Energi Bersih
Di paviliun energi bersih, pengunjung bisa melihat gambaran utuh industri China, mulai dari pengembangan sumber daya, manufaktur, hingga kerja sama lintas batas. Kehadiran perusahaan milik negara, pelaku swasta, dan mitra internasional memperlihatkan bahwa transisi energi kini digerakkan oleh banyak sisi sekaligus.
Salah satu yang menarik perhatian datang dari China National Offshore Oil Corporation atau CNOOC. Perusahaan itu menampilkan instalasi silinder besar yang menggambarkan masa depan ketika peralatan ekstraksi minyak lepas pantai hidup berdampingan dengan lingkungan laut.
Pajangan tersebut menandai perubahan cara sektor energi China memposisikan diri. Energi fosil tidak lagi semata dipandang sebagai sumber emisi tinggi, tetapi juga bagian dari dorongan menuju pembangunan rendah karbon.
Presiden CNOOC Huang Yongzhang mengatakan pembangunan rendah karbon telah menjadi konsensus global. Ia menegaskan komitmen perusahaan untuk bekerja sama dengan mitra internasional di seluruh rantai nilai guna mendorong transformasi itu.
AI Mulai Jadi Alat Efisiensi Energi
Teknologi digital juga mendapat panggung besar di pameran ini. Kecerdasan buatan diposisikan sebagai alat penting untuk menekan biaya sekaligus meningkatkan kualitas pengembangan energi bersih.
Shenglong Electric, perusahaan swasta di bidang jaringan pintar dan manajemen energi cerdas, meluncurkan switchgear tegangan rendah generasi baru yang didukung AI. Perusahaan itu juga memperlihatkan sistem manajemen energi cerdas berbasis digital twin.
Menurut insinyur Shenglong, Hu Jia, AI berfungsi sebagai “otak cerdas” di balik peralatan energi bersih. Switchgear baru itu memungkinkan pengguna memantau distribusi daya lewat satu antarmuka, sekaligus mendukung prediksi kegagalan, pemeliharaan, dan penghematan energi berbasis AI.
Hu Jia menyebut penerapan itu dapat memangkas biaya operasional hingga 60 persen. Sistem manajemen energinya juga diklaim mampu menurunkan konsumsi energi bangunan secara signifikan.
Teknologi Shenglong tidak hanya dipakai di China. Peralatan perusahaan itu telah digunakan dalam proyek global seperti pabrik minyak nabati di Brasil, perguruan tinggi putri di Niger, dan pabrik material baru di Indonesia.
Cakupan bisnisnya kini menjangkau lebih dari 50 negara dan kawasan. Jejak itu menunjukkan solusi energi cerdas dari China mulai menjadi bagian dari transisi hijau di berbagai wilayah dengan kebutuhan pembangunan yang berbeda.
Skala Domestik China Menopang Ekspansi Global
Kekuatan utama China di sektor ini bertumpu pada pasar domestik dan kapasitas industrinya sendiri. Menurut pejabat senior Administrasi Energi Nasional China, Liang Changxin, negara itu telah membangun sistem energi terbarukan terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Konsumsi energi nonfosil China disebut memimpin dunia selama 11 tahun berturut-turut. Energi terbarukan juga telah menyumbang lebih dari 60 persen kapasitas daya terpasang di negara tersebut.
Liang menambahkan, instalasi tenaga angin dan surya sudah melampaui tenaga termal. Kedua sektor itu menyumbang lebih dari setengah penambahan kapasitas baru global, sehingga pengaruh China terhadap percepatan pasar energi bersih dunia makin terasa.
Dari basis domestik itu, China memperluas pengaruh industrinya lewat kerja sama internasional. Saat ini, negara tersebut terlibat dalam proyek energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan kawasan.
China juga memasok lebih dari 80 persen komponen fotovoltaik dunia dan 70 persen peralatan tenaga angin. Angka itu menempatkan negara tersebut sebagai simpul utama dalam rantai pasokan energi bersih global.
Angin, Surya, dan Penyimpanan Energi Makin Mendunia
Ming Yang Smart Energy Group menunjukkan arah ekspansi itu lewat inovasi di bidang energi angin, surya, dan penyimpanan energi. Perusahaan ini memanfaatkan data luas dari ladang angin lepas pantai untuk mengembangkan teknologi turbin angin terapung yang disebut terdepan di dunia.
Ming Yang kini mengoperasikan lebih dari 20.000 turbin angin di seluruh dunia. Skala operasi ini memberi perusahaan basis data dan pengalaman lapangan besar untuk memperkuat pengembangan teknologi berikutnya.
Perwakilan perusahaan menyebut turbin mereka mendapat sambutan kuat di pasar Amerika Selatan, Jepang, dan Vietnam. Kehadiran perusahaan itu juga makin dalam di Eropa dan Timur Tengah, termasuk lewat kemitraan terbaru di Arab Saudi.
Di sisi lain, pandangan serupa datang dari akademisi internasional. Ned Ekins-Daukes dari Universitas New South Wales di Australia menilai teknologi surya fotovoltaik, penyimpanan baterai, dan tenaga angin dulu terlalu mahal untuk dipertimbangkan secara serius.
Namun kini, menurut dia, China telah membangun manufaktur dan rantai pasokan yang sangat efisien sehingga teknologi tersebut mampu menyediakan listrik dengan biaya paling murah. Efisiensi itu membuat perangkat keras energi bersih lebih terjangkau dan membuka peluang bagi banyak negara untuk mendorong ekonomi lewat transisi energi.






