China sedang mendorong kecerdasan buatan menjadi mesin utama perubahan di industri pelayaran. Di Tianjin, sorotan itu terlihat jelas saat pameran industri pelayaran internasional menempatkan AI bukan lagi sebagai alat bantu, tetapi sebagai penggerak baru efisiensi, koordinasi, dan pengambilan keputusan.
Arah tersebut penting karena sektor pelabuhan dan logistik laut kini menghadapi tuntutan operasi yang semakin kompleks. Di saat peluang efisiensi membesar, risiko baru soal keamanan dan tata kelola juga ikut naik.
AI masuk ke inti operasi pelabuhan
Pameran edisi keempat itu dibuka di Tianjin, China utara, pada Selasa (2/6), dengan tema yang menekankan pengiriman global dan masa depan baru bagi pengembangan pelabuhan serta pelayaran melalui pemanfaatan AI. Acara berlangsung selama empat hari dan mencakup pelayaran hijau, peralatan maritim, layanan logistik, serta bidang lain yang terkait erat dengan ekosistem pelayaran.
Sejak 2023, ajang ini digelar setiap tahun di Tianjin untuk memperkuat kerja sama pelayaran global, investasi industri, dan pertukaran perdagangan. Tahun ini, pembahasan AI menjadi salah satu titik perhatian karena kebutuhan efisiensi di sektor ini terus meningkat.
Xu Kai dari Institut Pelayaran Internasional Shanghai menilai China telah membangun jaringan terminal peti kemas otomatis terbesar di dunia. Kemajuan itu ditopang oleh derek tepi pantai nirawak, kendaraan berpemandu cerdas, dan area penumpukan otomatis.
Menurut Xu, operasi terminal kini tidak hanya efisien, tetapi juga mampu melakukan optimisasi dinamis secara regional. Sistem itu bisa merespons kedatangan kapal yang berubah-ubah, cuaca mendadak, dan lonjakan arus barang secara waktu nyata.
AI dituntut makin mandiri dan terhubung
Perubahan operasi pelabuhan membuat kebutuhan terhadap AI ikut bergeser. Xu mengatakan AI perlu berkembang dari sistem yang sekadar menjalankan perintah menjadi mampu melakukan penalaran secara mandiri.
Ia juga menekankan bahwa arah berikutnya bukan lagi hanya satu mesin yang bekerja sendiri. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi kelompok, saat berbagai perangkat dan sistem cerdas terhubung dalam satu operasi.
Pandangan itu menunjukkan bahwa modernisasi pelayaran kini tidak berhenti pada otomasi alat berat. Tantangan utamanya justru bergeser ke koordinasi antarsistem, kecepatan respons, dan kemampuan membaca perubahan lapangan secara serentak.
Di sisi lain, China juga dipandang memegang posisi sangat penting dalam lanskap pelayaran global. Waqas Samad, CEO Lloyd’s List Intelligence, mengatakan China adalah pemilik armada kapal terbesar di dunia, pembangun kapal terbesar, sekaligus produsen kontainer pelayaran terbesar.
Menurut Samad, ukuran infrastruktur itu memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana China merepresentasikan masa depan industri pelayaran lewat kombinasi konektivitas, teknologi, dan kecerdasan. Karena itu, pembahasan AI di Tianjin memiliki konteks yang lebih luas dari sekadar efisiensi domestik.
Efisiensi besar, peran manusia tetap penting
Thomas Sim, presiden Federasi Internasional Asosiasi Perusahaan Layanan Logistik, menilai AI akan membentuk ulang industri pelayaran dengan cara yang praktis dan besar. Namun, ia menegaskan bahwa AI seharusnya memperkuat kemampuan perusahaan logistik, bukan menggantikan penilaian profesional mereka.
Sim juga menekankan bahwa AI perlu meningkatkan kemampuan manusia tanpa menghapus akuntabilitas. Dalam pandangannya, perusahaan layanan logistik tetap harus menjadi penyedia solusi tepercaya, bukan sekadar operator platform.
Pandangan itu relevan karena adopsi AI di pelayaran tidak hanya menyentuh teknologi di pelabuhan. Dampaknya juga merambat ke pengelolaan rantai pasok, koordinasi pengiriman, dan pengambilan keputusan yang selama ini sangat bergantung pada pengalaman manusia.
Risiko keamanan ikut naik seiring otonomi AI
Wakil Presiden China Merchants Group Limited Feng Boming mengatakan AI sedang bergerak dari asisten percakapan menuju agen cerdas yang berorientasi pada aksi. Sistem seperti ini dinilai makin mampu memahami tujuan pengguna, memanfaatkan berbagai alat, dan menjalankan tugas tertentu secara mandiri.
Namun, Feng mengingatkan bahwa kenaikan tingkat otonomi itu membawa tanggung jawab keamanan yang lebih besar. Semakin luas peran AI di berbagai industri, semakin banyak pula risiko keamanan dan tantangan tata kelola yang harus dihadapi.
Menurut dia, situasi ini menuntut pengembangan industri yang tertib dan pengoperasian sektor yang aman. Karena itu, peluang besar yang dibawa AI di pelayaran juga harus diimbangi dengan pengawasan, standar keamanan, dan tata kelola yang lebih matang.
Sorotan di Tianjin menunjukkan bahwa transformasi pelayaran kini bergerak di dua jalur sekaligus. AI menjanjikan pelabuhan yang lebih responsif dan logistik yang lebih efisien, tetapi sektor ini juga harus siap menghadapi tuntutan tanggung jawab yang sejalan dengan meningkatnya otonomi sistem.
