Changan Indonesia memilih jalur berbeda ketika persaingan kendaraan listrik asal China semakin agresif di Indonesia. Alih-alih menjadikan diskon besar sebagai pemikat utama, perusahaan ingin menawarkan nilai kepemilikan jangka panjang melalui Changan Deepal S05.
Strategi ini menyasar kekhawatiran konsumen terhadap nilai kendaraan setelah dibeli, terutama ketika harga mobil listrik dapat berubah cepat akibat kompetisi. Changan menilai pertumbuhan pasar EV perlu diimbangi dengan fondasi layanan yang membuat pemilik merasa lebih aman.
Deepal S05 dipasarkan di Indonesia dengan harga mulai Rp529 juta hingga Rp619 juta on the road Jakarta. Rentang tersebut mencakup dua pilihan sistem penggerak, yaitu battery electric vehicle atau BEV serta range-extended electric vehicle atau REEV.
Dua Pilihan untuk Kebutuhan Berbeda
Kedua varian tersebut menawarkan pendekatan yang berbeda dalam penggunaan sehari-hari. BEV ditujukan bagi pengguna yang mengutamakan penggerak listrik baterai, sementara REEV menyediakan dukungan mesin bensin sebagai generator ketika daya baterai mulai menipis.
| Varian | Jarak Tempuh | Informasi Utama |
|---|---|---|
| BEV | Hingga 470 kilometer | Pengisian baterai 30% ke 80% dalam 15 menit |
| REEV | Lebih dari 1.100 kilometer | Mesin bensin berfungsi sebagai generator |
Varian BEV Deepal S05 memiliki klaim jarak tempuh hingga 470 kilometer. Salah satu kemampuan yang ditonjolkan adalah pengisian cepat dari 30 persen ke 80 persen dalam waktu 15 menit.
Di sisi lain, varian REEV menawarkan jarak tempuh gabungan lebih dari 1.100 kilometer. Mesin bensin pada sistem ini tidak menjadi penggerak utama kendaraan, melainkan bekerja sebagai generator untuk mengisi daya baterai secara otomatis saat kapasitasnya berkurang.
Fokus Menjaga Nilai Kepemilikan
CEO Changan Indonesia Setiawan Surya mengatakan kompetisi yang dinamis menunjukkan pasar kendaraan EV di Indonesia sedang berkembang. Namun, perusahaan tidak ingin mengejar penjualan jangka pendek dengan pemangkasan harga sesaat.
“Bagi kami kompetisi yang dinamis itu adalah indikator bahwa pasar kendaraan EV di Indonesia memang sedang tumbuh. Namun fokus Changan di sini bukan pada pemangkasan harga sesaat demi mengejar penjualan jangka pendek,” ujar Setiawan Surya di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurut Changan Indonesia, penguatan ekosistem purna jual menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Langkah itu diarahkan untuk membantu menjaga nilai jual kembali kendaraan pada masa mendatang, bukan semata-mata menarik pembeli dengan harga awal yang lebih rendah.
Setiawan memandang perang harga sebagai kompetisi yang sulit memiliki titik akhir karena setiap merek dapat terus menyesuaikan penawarannya. “Karena kalau kita bicara perang harga itu tidak akan ada selesainya. Karena ada istilahnya ada harga ada rupa,” katanya.
Persaingan EV Bukan Hanya Soal Harga
Pendekatan Changan menempatkan layanan setelah penjualan sebagai bagian dari nilai yang ditawarkan kepada konsumen. Hal ini menjadi pembeda di tengah pasar mobil listrik yang semakin padat oleh produk dengan strategi harga kompetitif.
Dengan dua karakter penggerak yang berbeda, Deepal S05 memberi pilihan bagi calon pengguna sesuai pola perjalanan mereka. BEV menawarkan fokus penggunaan listrik baterai dan pengisian cepat, sedangkan REEV memberi dukungan jarak tempuh lebih jauh melalui generator bensin.
Changan memasuki persaingan ini dengan penekanan pada produk, pilihan teknologi, serta kesiapan purna jual. Bagi konsumen, harga Rp529 juta hingga Rp619 juta menjadi salah satu pertimbangan, tetapi perusahaan ingin nilai kendaraan setelah pembelian tetap menjadi perhatian utama.
Source: www.suara.com






