
Strava mengungkap hasil yang tak terduga: komuter sepeda dunia justru paling kuat di kelompok Baby Boomer, bukan Gen Z. Temuan ini datang dari Strava Metro: Commute Report perdana yang memotret perilaku komuter sepeda global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Laporan itu menunjukkan bahwa bersepeda ke tempat kerja atau untuk aktivitas harian tidak lagi identik dengan generasi muda. Di banyak negara, pengguna yang lebih senior justru lebih aktif, sementara sepeda listrik ikut mempercepat pergeseran tersebut.
Baby Boomer memimpin, Gen Z tertinggal
Strava mencatat Baby Boomer sebagai kelompok paling aktif dalam komuter sepeda. Sebaliknya, Gen Z memiliki kemungkinan 21% lebih kecil untuk berkomuter dengan sepeda dibandingkan generasi Boomer.
Data ini menantang anggapan umum bahwa gaya hidup aktif di ruang publik terutama digerakkan anak muda. Hasilnya juga memperlihatkan bahwa kenyamanan, kebiasaan, dan dukungan teknologi dapat lebih berpengaruh daripada usia semata.
Sepeda listrik memperluas pilihan
Laporan itu menyoroti naiknya penggunaan sepeda listrik, terutama di kalangan Baby Boomer. Islandia tercatat sebagai negara dengan jumlah komuter E-bike terbanyak, disusul Belgia dan Norwegia.
E-bike memberi akses yang lebih luas bagi pengguna yang ingin tetap aktif tanpa harus mengandalkan tenaga penuh di setiap perjalanan. Bagi banyak komuter, sepeda listrik menjadi jembatan antara mobilitas praktis dan aktivitas fisik.
Skala perjalanan harian yang sangat besar
Selama periode pelaporan, total jarak yang ditempuh para pesepeda komuter mencapai 550 juta mil atau sekitar 885,1 juta kilometer. Strava menggambarkan angka itu setara dengan mengelilingi bumi sekitar 22.000 kali.
Jika dibandingkan dengan perjalanan misi ruang angkasa Artemis II mengelilingi bulan, jarak itu disebut lebih dari 2.170 kali lipat. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya pergerakan harian yang kini makin bergantung pada transportasi aktif.
Data komuter dipakai untuk infrastruktur kota
Strava Metro menyediakan data anonim dan gratis kepada lebih dari 4.000 perencana kota serta lembaga pemerintah di berbagai belahan dunia. Data pergerakan nyata dari pejalan kaki dan pesepeda itu dipakai untuk membantu perbaikan infrastruktur jalan.
Perusahaan menyebut hampir 1 miliar orang telah merasakan manfaat dari perbaikan infrastruktur yang didasari data tersebut. Posisi Strava pun bergerak dari sekadar aplikasi pelacak olahraga menjadi bagian dari pembangunan kota yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Tetap mengayuh di cuaca ekstrem
Laporan ini juga memperlihatkan ketangguhan para komuter sepeda di berbagai kondisi iklim. Mulai dari suhu dingin yang menusuk di Finlandia hingga cuaca hangat dan lembap di Jepang, para pengguna tetap konsisten mengayuh pedal.
Bagi pengambil kebijakan, pola ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan jalur sepeda yang layak dan aman tidak bisa bergantung pada kondisi cuaca atau wilayah tertentu. Infrastruktur yang baik dibutuhkan agar komuter bisa bergerak dengan lebih nyaman di berbagai situasi.
Brian Bell, Wakil Presiden Komunikasi dan Dampak Sosial Strava, menyebut Strava Metro sebagai jantung dari inisiatif dampak sosial perusahaan. Ia juga menegaskan bahwa setiap data perjalanan aktif yang terekam dapat membantu menciptakan pengalaman berkomuter yang lebih aman dan mudah bagi semua orang di masa depan.
Source: id.mashable.com




