Bugatti Menolak Jual Suku Cadang, Mekanik Ini Membuktikan Hak Memperbaiki Diri Sendiri

Di tengah perdebatan soal hak memperbaiki barang, satu mobil rusak justru berubah menjadi contoh paling keras tentang siapa yang berhak membongkar dan menghidupkannya kembali. Kasus Bugatti Chiron Pur Sport milik Mat Armstrong memperlihatkan benturan langsung antara kontrol pabrikan dan hak konsumen.

Mulai 31 Juli 2026, aturan baru Uni Eropa tentang right to repair akan memberi konsumen hak legal untuk merawat, memperbaiki, atau memodifikasi produk seperti mobil, elektronik, hingga alat pertanian. Aturan itu juga mewajibkan produsen menyediakan suku cadang yang dibutuhkan, meski penerapannya di sektor otomotif masih menuai kritik.

Bugatti menolak perbaikan di luar jaringan resmi

Armstrong, mekanik asal Leicester di Inggris yang memiliki kanal YouTube dengan hampir 7 juta pengikut, membuat kisah ini mencuat lebih luas. Ia menayangkan proses membangun kembali Bugatti Chiron Pur Sport yang hancur dalam kecelakaan, lalu berhadapan dengan penolakan Bugatti untuk menjual komponen asli yang dibutuhkan.

Menurut Armstrong, pabrikan hanya bersedia memperbaiki mobil itu di pusat layanan milik mereka sendiri dengan biaya yang sangat mahal. Ia menyebut servis Bugatti Chiron bisa mencapai €20.000 hanya untuk ganti oli, sementara dirinya ingin mengerjakan perbaikan bersama bengkel yang ia percaya mampu menangani pekerjaan rumit itu.

Dari total loss menjadi proyek yang ditonton jutaan orang

Chiron berlapis ungu itu pertama kali dilihat Armstrong setelah mengalami kecelakaan serius di Los Angeles. Bagian depan mobil hancur total, lalu ahli yang diterbangkan Bugatti dari Paris menyebutnya sebagai total loss dan tidak layak diperbaiki.

Bugatti juga menyatakan biaya untuk mengembalikan mobil ke spesifikasi asli akan mencapai sekitar $1,7 juta. Pemilik kemudian mengambil uang asuransi, mobil masuk ke sistem salvage di Amerika Serikat, dan akhirnya dibeli kembali lewat lelang sebelum sampai ke tangan Armstrong.

Dari situ, proses rebuild berubah menjadi serial panjang di YouTube. Puluhan video Armstrong tentang proyek ini ditonton jutaan kali, dan perhatian publik makin besar setelah kepala eksekutif Bugatti, Mate Rimac, ikut menanggapi langsung.

Rimac mengirim pesan yang menyebut bagian seperti monocoque kemungkinan rusak dan tak bisa diperbaiki. Ia juga menawarkan bantuan, tetapi menegaskan panel bodi dan sejumlah komponen lain tidak bisa diganti dengan alternatif aftermarket.

Argumen keamanan berhadapan dengan hak konsumen

Bugatti menilai perbaikan mandiri berisiko mengorbankan keselamatan mobil. Rimac bahkan membuat video di kanal YouTube miliknya dan mengklaim hanya ada dua fasilitas di dunia yang memiliki alat untuk mengerjakan pekerjaan itu dengan benar.

Armstrong tetap melanjutkan proyek tersebut dan menunjukkan bahwa mobil itu bisa dibangkitkan di luar jaringan resmi. Ia terbang ke Florida dan menyusun kembali mobil secara profesional, dengan bantuan komponen hasil cetak 3D, bagian dari mobil biasa seperti Audi A3, dan radiator pendingin khusus yang dibuat dari nol oleh perusahaan spesialis.

Kasus ini kemudian berkembang menjadi debat yang lebih besar dari sekadar satu supercar rusak. Aturan right to repair dirancang untuk mengurangi pemborosan sumber daya akibat mesin atau perangkat yang sulit diperbaiki dengan harga wajar, tetapi mobil modern membawa persoalan baru.

Dampak yang lebih luas dari satu garasi

Bengkel mobil memperingatkan bahwa akses publik ke telematika sistem bantuan canggih dapat memunculkan risiko privasi dan keamanan siber. Asosiasi mekanik mobil di Jerman juga menilai aturan itu bisa membuat mobil tua tetap dipakai lebih lama, terutama model bermesin pembakaran yang tidak lagi sesuai dengan regulasi emisi terbaru.

Perdebatan serupa ikut merembet ke luar Eropa. Negara bagian Maine di Amerika Serikat telah meloloskan aturan right-to-repair yang luas pada 2025, sementara Donald Trump juga menyinggung isu ini dalam pernyataan yang memuat anekdot keliru.

Di tengah semua itu, Armstrong menjadi simbol paling nyata dari tuntutan konsumen untuk membuka akses reparasi. Ia sebelumnya juga berhasil memperbaiki Bugatti Veyron miliknya sendiri dengan komponen dari Volkswagen Lupo, dan kisah Chiron ini kembali memunculkan pertanyaan yang sama tentang siapa yang seharusnya memegang kendali atas mobil yang sudah dibeli konsumen.

Terkait