Polwan Pionir Jateng Ini Mengubah Pendampingan Warga Jadi Gerakan Harapan

Author: Cung Media

Di Jepara, Bripka Diyan Kristanti dikenal bukan hanya sebagai polisi, tetapi sebagai sosok yang membuka jalan bagi pendekatan sosial di tubuh kepolisian. Sebagai Bhabinkamtibmas perempuan pertama di jajaran Polda Jawa Tengah, ia membuktikan bahwa seragam cokelat bisa hadir dengan cara yang jauh lebih dekat dengan persoalan warga.

Selama lebih dari satu dekade bertugas di Polres Jepara, Bripka Diyan membangun relasi yang tidak berhenti pada patroli atau penegakan aturan. Ia hadir sebagai pendengar, penghubung bantuan, sekaligus pendamping bagi warga yang menghadapi masalah hidup yang rumit.

Gotong Royong Menjadi Jalan Membantu Warga

Kekuatan utama kiprahnya terletak pada kemampuan membangun jejaring. Ia merangkul pengusaha, relawan, tokoh masyarakat, dan para dermawan untuk menyalurkan bantuan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Bantuan itu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari beras rutin untuk janda lanjut usia, bedah rumah bagi warga kurang mampu, hingga pembangunan ulang rumah yang roboh akibat bencana. Dalam banyak kasus, ia tidak sekadar menghubungkan pihak-pihak yang ingin membantu, tetapi juga memastikan prosesnya selesai sampai tuntas.

Salah satu kisah yang paling menyita perhatian adalah pendampingannya terhadap pasangan tunawisma yang telah hidup bersama puluhan tahun tanpa ikatan pernikahan sah. Melalui sinergi yang ia bangun, pasangan itu akhirnya dapat menikah secara resmi secara hukum dan agama.

Setelah itu, Bripka Diyan juga menggerakkan donatur untuk membangun rumah layak huni bagi mereka. Dari situ terlihat bahwa bantuan sosial tidak hanya mengatasi kebutuhan fisik, tetapi juga memulihkan martabat warga yang selama ini terpinggirkan.

Ruang Aman Bagi Warga Untuk Bercerita

Perhatian Bripka Diyan tidak berhenti pada bantuan material. Ia juga memberi atensi besar pada isu kesehatan mental, kekerasan domestik, dan pencegahan bunuh diri yang kerap membuat korban memilih diam.

Dari keprihatinan itu lahir inovasi ruang aman bernama “DhieanMoe GonmuCrito” atau Tempatmu Bercerita. Program ini memberi warga ruang rahasia untuk menyampaikan persoalan, mendapatkan pendampingan, dan diarahkan ke pihak yang tepat.

Ia juga mengampanyekan gerakan “Mari BER3”, akronim dari Bersuara, Berbicara, dan Bercerita. Pesan utamanya sederhana, yaitu warga tidak perlu memendam masalah sendirian ketika ada ruang untuk didengar.

“Tidak semua masalah membutuhkan tindakan kepolisian, tetapi setiap masalah membutuhkan tempat untuk didengar,” ujar Bripka Diyan.

Belajar Psikologi Demi Memahami Akar Masalah

Komitmen itu membuat Bripka Diyan terus menambah kapasitas diri. Meski sudah bergelar Sarjana Hukum, ia memilih melanjutkan studi ke jenjang Magister Psikologi.

Langkah itu menunjukkan keyakinannya bahwa memahami trauma, dinamika psikologis, dan kondisi mental masyarakat sama pentingnya dengan memahami hukum. Ia menilai pendekatan seperti ini dibutuhkan agar konflik sosial bisa disentuh dari akarnya.

“Memahami manusia sama pentingnya dengan memahami hukum,” tuturnya.

Pengakuan Atas Dedikasi Di Luar Tugas Pokok

Dedikasi Bripka Diyan juga mendapat penghargaan dalam beberapa bentuk. Di antaranya Penghargaan Bhabinkamtibmas Polda Jateng Kategori Cerdas, Sertifikat Kompetensi LSP Kementerian Sosial RI, dan Juara III Storytelling tingkat Polda Jateng.

Di luar tugas kepolisian, ia aktif menjadi fasilitator Bimbingan Perkawinan atau BIMWIN Kemenag Jepara. Ia juga menjadi guru tamu di Pondok Pesantren Babussalam Jepara untuk membekali calon pengantin soal ketahanan keluarga.

Bagi warga Jepara, Bripka Diyan Kristanti menunjukkan bahwa polisi tidak hanya hadir saat aturan ditegakkan. Ia juga hadir ketika warga membutuhkan jalan keluar, ruang aman, dan seseorang yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh.

Source: infojateng.id
Terbaru