Pengunduran diri Ren Mayrhofer dari Google menjadi sorotan setelah bos keamanan Android itu menulis surat yang sangat keras terhadap arah perusahaan. Ia menyebut keputusannya tak terhindarkan, terutama setelah Google menandatangani kesepakatan yang memungkinkan Departemen Pertahanan AS memakai model AI miliknya untuk pekerjaan rahasia.
Surat itu tidak hanya mempersoalkan kerja sama dengan Pentagon. Mayrhofer juga menilai Google telah kehilangan kompas moral, dan mengkritik cara keputusan besar diambil tanpa perdebatan internal yang luas.
Keberatan pada penggunaan AI untuk kepentingan militer
Inti keberatan Mayrhofer tertuju pada kesepakatan yang diumumkan pada April. Perjanjian itu membuka jalan bagi Pentagon menggunakan teknologi AI Google untuk pekerjaan terklasifikasi, termasuk perencanaan militer dan tugas intelijen.
Mayrhofer mengatakan ia tidak bisa mendukung arah tersebut karena memandang dirinya sebagai seorang pasifis. Ia menyebut sudah lama memutuskan untuk tidak berkontribusi secara pribadi pada operasi militer yang bersifat ofensif.
Dalam surat perpisahannya, ia juga menulis bahwa tindakan melukai orang secara proaktif bukan sesuatu yang bisa ia dukung. Karena itu, ia akan segera menjauh dari pekerjaan yang berkaitan dengan sistem AI yang mungkin masuk dalam cakupan perjanjian pertahanan itu.
Kekhawatirannya meluas ke frasa “any lawful purpose” dalam kesepakatan tersebut. Menurutnya, frasa itu berisiko besar di tengah situasi politik saat ini dan bisa membuka jalan bagi pengawasan massal.
Mayrhofer bahkan menulis bahwa sebagai akademisi Eropa, ia melihat kemungkinan produk AI Google kelak dipakai secara langsung terhadap warga Uni Eropa, termasuk dirinya sendiri.
Budaya Google dinilai berubah jauh
Mayrhofer bergabung dengan Google pada 2017. Dalam suratnya, ia menggambarkan perusahaan yang ia temui saat itu sangat berbeda dari kondisi sekarang.
Ia menyebut Google dahulu terbuka terhadap diskusi, transparan, dan memberi ruang bagi karyawan untuk membawa nilai pribadi mereka ke dalam pekerjaan. Menurut dia, semangat “Don’t Be Evil” dulu bukan sekadar slogan, melainkan acuan nyata ketika tim harus mengambil keputusan sulit.
Ia juga mengingat bahwa pada masa itu kontrak dengan Pentagon pernah dibatalkan setelah karyawan menyuarakan penolakan. Mayrhofer bahkan menyebut dirinya ikut menandatangani surat terbuka pada 2018 yang menentang keterlibatan semacam itu.
Yang paling ia soroti bukan hanya isi keputusannya, tetapi prosesnya. Ia menulis bahwa isu-isu besar kini tidak lagi dibahas atau dikomunikasikan secara terbuka di dalam perusahaan, melainkan diputuskan oleh manajemen puncak.
Mayrhofer mengatakan hal itu bahkan terjadi meski dirinya berada dalam rantai manajemen. Menurut dia, beberapa perubahan penting tidak ia ketahui lewat saluran internal resmi.
Prinsip AI dan target lingkungan ikut dipersoalkan
Surat pengunduran diri itu juga menyinggung prinsip AI yang dipublikasikan Sundar Pichai pada 2018. Prinsip itu mencakup komitmen untuk tidak mengejar aplikasi senjata, teknologi pengawasan yang melanggar norma internasional, serta teknologi yang bertentangan dengan hukum internasional dan hak asasi manusia.
Mayrhofer menilai arah Google kini menjauh dari prinsip tersebut. Dalam salah satu bagian paling keras, ia menuduh manajemen diam-diam meninggalkan target menjadi carbon-neutral karena kebutuhan energi model AI.
Dengan begitu, kritiknya menyasar dua bidang sekaligus: etika penggunaan AI dan biaya ekologis dari ekspansi infrastruktur AI. Ia melihat keduanya sebagai tanda bahwa perusahaan sedang bergerak ke arah yang ia tidak bisa lagi dukung.
Penolakan internal terhadap kerja sama Pentagon sudah muncul lebih dulu
Kritik terhadap kemitraan Google dan Pentagon sebenarnya bukan hal baru di internal perusahaan. Saat laporan tentang kerja sama itu beredar lebih awal tahun ini, ratusan karyawan disebut menandatangani surat yang menolak pekerjaan AI militer terklasifikasi.
Peneliti Google DeepMind, Andreas Kirsch, juga mengkritik keputusan tersebut secara terbuka. Ia mengatakan merasa “malu” atas langkah itu.
Karena itu, pengunduran diri Mayrhofer menjadi bagian dari ketegangan yang lebih luas di perusahaan AI besar soal batas penggunaan teknologi canggih untuk kebutuhan pertahanan negara. Suratnya menambah tekanan pada Google di tengah perdebatan internal yang belum mereda.
Tetap di Google sampai masa pemberitahuan berakhir
Meski sudah mengajukan mundur, Mayrhofer tidak langsung meninggalkan perusahaan. Ia mengatakan akan tetap berada di Google selama masa pemberitahuan hingga 31 Agustus 2026, dengan keterlibatan waktu yang terbatas untuk merampungkan atau menyerahkan proyek yang masih berjalan.
Di saat yang sama, ia menegaskan akan segera memutus keterlibatan dari pekerjaan AI yang mungkin terkait dengan kesepakatan pertahanan tersebut. Setelah keluar, ia berencana tetap menekuni komunikasi terenkripsi end-to-end, protokol penyimpanan yang tangguh, identitas digital yang menjaga privasi, keamanan sistem tertanam, sistem operasi, dan keamanan rantai pasok.
Di akhir suratnya, Mayrhofer menulis bahwa ia sedih keputusan itu harus diambil. Namun ia juga berharap manajemen Google suatu hari menemukan kembali kompas moralnya.
