Bitcoin Depot Menutup 9.276 ATM Kripto, Tekanan Hukum dan Aturan Menghantam

Author: Cung Media

Jaringan ATM kripto milik Bitcoin Depot kini berhenti beroperasi sepenuhnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Penutupan itu mengakhiri layanan sekitar 9.276 kios yang sebelumnya memungkinkan pengguna menukar uang tunai menjadi Bitcoin.

Operator yang tercatat di Nasdaq tersebut juga mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat. Langkah ini diambil ketika tekanan aturan, risiko gugatan, dan penurunan kinerja keuangan datang secara bersamaan.

Seluruh Kios Dinonaktifkan

ATM Kripto yang dioperasikan perusahaan telah dinonaktifkan, meski jaringan itu masih tergolong besar hingga tahun lalu. Mesin-mesin tersebut selama ini menjadi jalur transaksi tunai untuk membeli aset kripto di tiga negara.

Bitcoin Depot berbasis di Atlanta dan mengajukan permohonan pailit secara sukarela ke Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada Senin (18/5) waktu setempat. Melalui proses itu, perusahaan akan menghentikan kegiatan operasional secara permanen serta menjual aset sesuai ketentuan kepailitan.

Entitas Bitcoin Depot di Kanada turut dimasukkan ke dalam proses kepailitan di Amerika Serikat. Anak usaha di negara lain juga akan ditutup secara bertahap dengan mengikuti aturan hukum pada masing-masing yurisdiksi.

Aturan Baru Membebani Operasi

CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, menyatakan perubahan regulasi membuat model bisnis perusahaan tidak lagi dapat dipertahankan. Negara bagian menerapkan kewajiban kepatuhan yang lebih ketat, batas transaksi baru, hingga pembatasan atau larangan langsung terhadap pengoperasian BTM atau Bitcoin ATM.

Dalam siaran pers yang dikutip CoinDesk, Holmes mengatakan operator juga menghadapi peningkatan litigasi dan penegakan peraturan. “Di bawah kondisi saat ini, model bisnis perusahaan tak bisa bertahan,” kata Holmes.

Tekanan tersebut menunjukkan bahwa bisnis yang menghubungkan uang tunai dan aset digital menghadapi risiko lebih luas daripada sekadar fluktuasi pasar kripto. Operator perlu menangani kepatuhan transaksi sekaligus potensi penyalahgunaan layanan oleh pelaku penipuan.

Kerugian Membesar pada Kuartal I-2026

Kondisi keuangan perusahaan sudah melemah sebelum keputusan penghentian operasi diumumkan. Pada kuartal I-2026, pendapatan Bitcoin Depot turun 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Indikator Kuartal I-2026 Perubahan
Pendapatan Tidak dirinci Turun 49% secara tahunan
Laba/rugi Rugi US$9,5 juta Dari laba US$12,2 juta
Laba kotor US$45 juta Turun 85%

Perusahaan membukukan rugi US$9,5 juta, berbalik dari laba US$12,2 juta pada periode sebelumnya. Laba kotornya juga merosot 85% menjadi US$45 juta, berdasarkan data yang dilaporkan CNBC Indonesia.

Penurunan itu mempersempit ruang perusahaan untuk menghadapi perubahan aturan yang menambah beban operasional. Kondisi tersebut akhirnya mendorong perusahaan memilih proses restrukturisasi melalui pengadilan kebangkrutan.

Gugatan Penipuan Menambah Risiko

Di tengah pelemahan bisnis, Bitcoin Depot menghadapi gugatan besar dari jaksa agung negara bagian Massachusetts dan Iowa. Perusahaan dituduh memfasilitasi praktik penipuan kripto melalui jaringan ATM-nya.

Pengawasan terhadap ATM kripto meningkat setelah kerugian akibat penipuan melalui layanan tersebut mencapai rekor US$389 juta sepanjang tahun lalu. Angka itu disebut naik 58% dibandingkan 2024, sehingga regulator dan aparat penegak hukum memberi perhatian lebih besar pada potensi penyalahgunaannya.

Kebangkrutan Bitcoin Depot terjadi ketika adopsi institusional aset kripto terus berkembang lewat produk seperti exchange-traded fund atau ETF. Namun, jalur transaksi kripto berbasis uang tunai justru menghadapi pengawasan dan beban kepatuhan yang semakin berat.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terbaru