Bio-Based Makin Geser Kulit dan Bahan Fosil, BrrrX Tetap Dingin Tanpa Turun Performa

Author: Cung Media

Industri fashion dan tekstil sedang bergerak ke arah yang sama: meninggalkan bahan fosil dan mencari pengganti material hewani, tanpa mengorbankan performa. Yang menarik, perubahan itu tidak lagi berhenti pada isu ramah lingkungan, tetapi juga menyentuh pendinginan, kelembapan, daya tahan, dan transparansi rantai pasok.

Sejumlah pengembangan yang muncul belakangan memperlihatkan arah itu dengan jelas. Mulai dari bio-leather berbasis getah pohon, foam nabati untuk kasur, kain fungsional berteknologi pendingin, sampai pelacakan material digital, semuanya menunjukkan bahwa material baru kini dituntut lebih dari sekadar “lebih hijau”.

Bio-leather dari getah shiringa

Desainer London Patrick McDowell kembali bekerja sama dengan Collective Fashion Justice untuk membuat trench coat dari Shiringa bio-leather milik Caxacori Studio. Bahan ini dibuat dari lapisan katun Peru yang dilapisi material lateks berbasis getah.

Caxacori Studio bekerja dengan masyarakat adat di Amazon yang mengambil getah dari pohon shiringa tanpa merusak tanaman. Komunitas ini sudah lama memakai getah shiringa untuk membuat kain dan material tahan air, dan pemakaian di industri mode memberi nilai ekonomi tambahan yang dapat membantu mencegah pohon ditebang.

Emma Håkansson, pendiri Collective Fashion Justice, mengatakan bio-leather shiringa punya karakter yang disebut melampaui kulit hewan karena lebih supple, durable, water resistant, dan flexible. McDowell menampilkan trench coat itu dalam koleksi Fall/Winter 2026 dengan warna merah berdebu dan tetap mempertahankan bentuk trench klasik.

Kain pendingin yang cepat kering

Di sisi performa kain, Brrr memperkenalkan BrrrX, sebuah pengembangan yang menggabungkan teknologi pendingin dan manajemen kelembapan. Kain ini memakai benang berbentuk X yang menambah luas permukaan tiap filamen sehingga kelembapan mengalir dan menguap lebih cepat.

Teknologi pendingin BrrrX berasal dari mineral alami yang tertanam di dalam benang, bukan diaplikasikan di permukaan. Perusahaan menyebut cara ini membuat karakter performa tidak mudah menurun karena pencucian dan pemakaian, sementara kainnya juga memberi perlindungan alami terhadap sinar ultraviolet.

Brrr dijadwalkan menampilkan sampel BrrrX di Functional Fabric Fair di New York pada 8-9 Juli. Langkah itu menegaskan bahwa kain fungsional semakin diarahkan ke kombinasi kenyamanan, perlindungan, dan ketahanan jangka panjang.

Foam nabati untuk menggantikan bahan fosil

Leesa Sleep juga mengambil jalur yang sama lewat GreenFlex foam berbahan nabati. Peluncurannya mencakup sebagian besar lini produk, dengan pengecualian Oasis Chill Hybrid dan Legend Hybrid.

GreenFlex dikembangkan secara internal, dan tim riset Leesa membuat polyols, bahan dasar polyurethane, dari tanaman yang ditanam di lahan marginal yang tidak bisa dipakai untuk pertanian komersial seperti budidaya pangan. Proses produksinya memakai sekitar 45 persen minyak yang diambil dari tanaman dan tidak memerlukan konversi kimia untuk mengubah minyak hasil ekstraksi menjadi polyols.

Berkat struktur open-cell, kasur dengan foam ini dapat memberi aliran udara, menopang titik tekanan, dan menjaga bentuknya. Sebuah laboratorium pihak ketiga menyatakan GreenFlex mengandung 26 persen renewable bio-based content dan meraihnya sertifikasi USDA Certified Biobased Product.

Produk itu juga membawa sertifikasi CertiPUR-US dan Greenguard Gold. Dengan itu, Leesa menempatkan bio-based foam bukan hanya sebagai alternatif fosil, tetapi juga sebagai material yang tetap memenuhi standar kenyamanan dan keamanan produk.

Pelacakan bahan dan produksi yang makin transparan

Dorongan material baru juga bergerak ke sisi rantai pasok. Nativa bekerja sama dengan TextileGenesis untuk melacak katun dan wol bermerek dari pertanian sampai pakaian jadi.

TextileGenesis, bagian dari Lectra, memakai sistem digital chain of custody dengan pendekatan blockchain-inspired. Platform ini menggunakan Fibercoins untuk mewakili aliran material berdasarkan berat, dengan satu kilogram setara satu koin.

Nativa mengambil serat dari peternakan bersertifikasi yang memenuhi standar perlakuan terhadap hewan, praktik tenaga kerja, dan penggunaan lahan. Sebelum memakai TextileGenesis, perusahaan mengandalkan transaction certificates, sedangkan sistem digital baru itu memberi catatan yang lebih sulit dimanipulasi dan membantu mencegah ketidaksesuaian antara berat serat yang dibeli dan massa yang diklaim di produk akhir.

AFFOA juga mengumumkan empat penerima penghargaan gelombang ketiga program Product Accelerator for Functional Fabrics. Salah satunya adalah The Lycra Company, yang akan bekerja dengan AFFOA pada 3D prototyping untuk pakaian ketat seperti sports bra dan leggings, dengan target memangkas lead time dari dua sampai tiga bulan.

Ecotune mendapat dukungan untuk menguji coating tekstil 100 persen bio-based dan bebas plastik yang disebut price-neutral terhadap PVC dan polyurethane. AFFOA juga memilih platform SolvoGenesis milik MacroCycle Technologies untuk daur ulang polyester pascakonsumsi, yang menghasilkan resin PET kualitas virgin dengan pengurangan penggunaan energi lebih dari 80 persen dibanding PET konvensional.

Di tengah rangkaian itu, Gentex Corporation akan bekerja dengan AFFOA untuk mengotomatisasi penjahitan komponen helm. Arah yang muncul cukup tegas: material masa depan dituntut bukan hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien, lebih transparan, dan lebih siap dipakai di lini produksi nyata.

Terbaru