BI Jateng Andalkan 4 Program Baru, Dari Kopi hingga Pertanian untuk Genjot Ekonomi Daerah

Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah menyiapkan empat program baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di tengah upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Langkah ini diarahkan ke sektor yang dinilai punya efek berantai besar bagi usaha lokal dan aktivitas ekonomi di daerah.

Fokus BI Jateng kali ini tidak hanya berada di pengendalian inflasi. Lembaga ini juga ingin memperkuat sektor-sektor yang dianggap lebih berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan pelaku usaha di lapangan.

Empat sektor yang dipilih

Empat program baru itu meliputi Cangkir Barista untuk pengembangan sektor kopi, Citra Nusa untuk industri wastra dan kriya, Air Berkah untuk usaha air minum di lingkungan pesantren, serta Tani Berkah untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian dari hulu.

Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah M. Noor Nugroho mengatakan program-program tersebut dipilih karena dinilai punya potensi ekonomi besar dan dapat memberi dampak luas kepada masyarakat. “Jadi, kita berharap yang lebih impactful,” kata Noor di Kantor BI Jateng, Kamis (25/6/2026).

Pilihan itu juga tidak berdiri sendiri. Noor menyebut kantor pusat telah mengidentifikasi sektor-sektor yang dianggap paling layak didorong agar manfaatnya lebih terasa bagi ekonomi daerah.

Ekosistem kopi hingga pertanian hulu

Cangkir Barista diarahkan untuk memperkuat ekosistem kopi, yang selama ini memiliki rantai nilai luas dari hulu hingga hilir. Sektor ini dinilai mampu menggerakkan banyak pelaku usaha lokal jika dikembangkan secara lebih terarah.

Sementara itu, Citra Nusa difokuskan untuk memperkuat industri wastra dan kriya yang menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif daerah. Adapun Air Berkah menyasar pengembangan usaha air minum di pesantren, sedangkan Tani Berkah ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dari sisi hulu.

Inflasi tetap jadi perhatian

Di sisi lain, BI Jawa Tengah tetap menjalankan pengendalian inflasi. Saat ini, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,86 persen dan masih berada di bawah tingkat inflasi nasional.

Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama pemerintah daerah mengembangkan sistem informasi terintegrasi. Sistem ini dirancang agar perkembangan harga dan pasokan komoditas bisa dipantau lebih cepat.

Noor mengatakan sistem itu disiapkan agar harga, pasokan, dan kondisi terkait lainnya bisa dipantau secara lebih efektif. BI juga ingin memiliki early warning system untuk membaca potensi gangguan pasokan atau gejolak harga lebih dini.

Respons cepat saat ada tekanan harga

Dengan peringatan dini tersebut, BI berharap respons terhadap tekanan harga bisa dilakukan lebih cepat. Mekanisme ini diharapkan membantu mencegah dampak yang lebih luas di masyarakat ketika ada sinyal gangguan pasokan.

Noor menjelaskan, indikator dalam sistem itu akan memberi sinyal saat muncul potensi masalah yang perlu diantisipasi. Dengan begitu, langkah penanganan bisa segera dilakukan sebelum gejolak harga membesar.

Melalui kombinasi pengendalian inflasi dan penguatan sektor unggulan, BI berharap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap terjaga. Upaya itu juga diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi, meningkatkan produktivitas usaha, dan memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Source: indoraya.news

Terkait