Bank Indonesia diperkirakan menahan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur 17 hingga 18 Juni 2026. Ekspektasi itu muncul ketika harga minyak dunia melemah dan tekanan dari Timur Tengah mulai mereda.
Perubahan sentimen global tersebut memberi ruang lebih besar bagi bank sentral untuk menunggu arah inflasi berikutnya. Di saat yang sama, kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk impor energi dinilai ikut menyempit.
Selat Hormuz dan tekanan minyak dunia
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat harga minyak turun. Ia juga melihat kondisi itu berpotensi menurunkan permintaan impor dalam bentuk dolar.
“Saya melihat pada RDG besok kemungkinan besar Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga dengan melihat kondisi Selat Hormuz yang sudah dibuka. Pada saat Selat Hormuz dibuka, harga minyak turun sehingga permintaan impor berupa dolar semakin menyempit,” kata Ibrahim lewat pesan singkat pada Selasa (16/6/2026).
Menurut Ibrahim, normalisasi jalur distribusi minyak dunia dapat membantu meredakan tekanan harga. Kondisi itu juga membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter pada periode berikutnya jika inflasi global terus melandai.
Respons BI setelah kenaikan 25 basis poin
Ekspektasi penahanan suku bunga ini muncul hanya beberapa hari setelah BI mengejutkan pasar dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada 9 Juni 2026. Kenaikan itu ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan indeks harga konsumen, dan mempertahankan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi modal asing.
Namun, kenaikan bunga juga membawa konsekuensi pada pembiayaan negara. Ibrahim menilai beban utang pemerintah bisa meningkat jika suku bunga kembali naik, terlebih imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun sudah berada di level 7,4%.
“Kalau suku bunga BI dinaikkan lagi, imbal hasil obligasi bisa mendekati 8%. Beban utang pemerintah juga akan semakin tinggi,” ujarnya.
Rupiah berpeluang mendapat dukungan
Dari pasar valuta asing, keputusan BI untuk tidak mengubah suku bunga dinilai berpotensi memberi dukungan bagi rupiah di pasar spot. Ibrahim memperkirakan mata uang Indonesia bisa menguat sekitar 50 poin apabila BI mempertahankan kebijakan pada RDG kali ini.
Ia tetap mencermati risiko eksternal lain, terutama potensi friksi dagang global akibat kebijakan proteksionisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski begitu, tekanan dari perang dagang dinilai masih lebih kecil dibanding perbaikan kondisi di Timur Tengah.
Secara umum, indikator makroekonomi nasional dinilai masih cukup kuat untuk menghadapi dinamika global yang cepat berubah. Kelebihan pasokan minyak di pasar internasional juga berpotensi menekan harga komoditas itu mendekati target asumsi APBN.
Jika harga minyak terus turun, beban anggaran negara bisa ikut meringan dan fundamental rupiah mendapat penopang tambahan. Pasar kini menunggu sinyal Bank Indonesia mengenai seberapa lama kebijakan ketat akan dipertahankan.
