Inflasi Indonesia pada Juni 2026 bergerak dengan pola yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tekanan harga kali ini lebih banyak datang dari bensin dan sektor transportasi, sementara pangan tidak lagi menjadi biang utama inflasi bulanan.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan berada di level 3,34 persen, dengan inflasi bulanan 0,44 persen month-to-month. Indeks Harga Konsumen tercatat 111,89, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,79 persen.
Transportasi Jadi Pendorong Terbesar
Kelompok transportasi menjadi pendorong utama inflasi pada Juni 2026. Kelompok ini mencatat inflasi bulanan 2,29 persen dan memberi andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Di dalamnya, kenaikan harga bensin menjadi penyumbang paling dominan dengan andil inflasi bulanan 0,21 persen. Tarif angkutan udara menyumbang 0,05 persen, sementara pelumas atau oli mesin menambah 0,01 persen.
| Komponen | Andil Inflasi Bulanan | Keterangan |
|---|---|---|
| Bensin | 0,21 persen | Pendorong utama kelompok transportasi |
| Tarif angkutan udara | 0,05 persen | Menguatkan inflasi transportasi |
| Pelumas atau oli mesin | 0,01 persen | Kontribusi tambahan |
Tekanan dari transportasi juga lebih besar dibandingkan kelompok lain pada pergerakan bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya memberi andil 0,06 persen, sedangkan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberi andil 0,02 persen.
Pangan Masih Penting Di Laju Tahunan
Meski tak lagi mendominasi inflasi bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mencatat inflasi 4,67 persen dan memberi andil 1,36 persen terhadap inflasi nasional.
Kelompok transportasi juga masih menyumbang inflasi tahunan sebesar 4,57 persen dengan andil 0,55 persen. Di sisi pangan, ikan segar menjadi komoditas dengan andil tahunan terbesar, yakni 0,23 persen.
| Kelompok | Inflasi Tahunan | Andil ke Inflasi Nasional |
|---|---|---|
| Makanan, minuman, dan tembakau | 4,67 persen | 1,36 persen |
| Transportasi | 4,57 persen | 0,55 persen |
Beras menyumbang 0,16 persen terhadap inflasi tahunan, disusul minyak goreng 0,14 persen, cabai merah 0,11 persen, serta daging ayam ras dan bawang merah yang masing-masing memberi andil 0,08 persen. Sejumlah komoditas non-pangan seperti bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, uang kuliah, dan emas perhiasan juga ikut mendorong kenaikan harga secara tahunan.
Harga Yang Turun Menahan Laju Kenaikan
Di tengah kenaikan pada sejumlah komoditas, beberapa barang justru turun dan menahan inflasi agar tidak lebih tinggi. Secara bulanan, daging ayam ras menjadi penahan inflasi terbesar dengan andil deflasi 0,06 persen.
Telur ayam ras juga mencatat andil deflasi 0,02 persen, baik secara bulanan maupun tahunan. Sawi hijau, ketimun, kelapa, bawang putih, dan daging babi masing-masing memberi andil deflasi tahunan 0,01 persen.
Pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, inflasi tahunan tercatat 10,10 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyebab utama di kelompok ini dengan andil 0,61 persen.
Lebih Tinggi Dari Dua Juni Sebelumnya
Laju inflasi tahunan Juni 2026 juga lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang tercatat 1,87 persen. Angka itu bahkan melampaui Juni 2024 yang berada di level 2,51 persen.
Perubahan ini menunjukkan tekanan harga pertengahan tahun bergerak lebih cepat ke sektor mobilitas, meski pangan tetap kuat dalam pembentukan inflasi tahunan. Data Juni 2026 menegaskan bahwa kenaikan harga bensin punya pengaruh besar terhadap biaya hidup masyarakat pada bulan tersebut.







