Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir kembali mengirim sinyal keras ke Washington. Ia menolak pendekatan Amerika Serikat terhadap nota kesepahaman dengan Iran dan menegaskan bahwa Israel tidak akan menggantungkan keputusan keamanannya kepada pihak luar.
Pernyataan itu menegaskan jarak pandang yang makin lebar antara Israel dan AS dalam membaca ancaman dari Teheran. Bagi Ben Gvir, ancaman Iran tidak bisa dianggap selesai hanya karena ada jalur diplomasi atau kesepakatan sementara.
Israel tidak percaya Iran akan berubah
Dalam wawancara dengan Channel 7 Israel yang disiarkan pada Selasa (23/6), Ben Gvir menyebut pendekatan AS terlalu percaya bahwa Iran akan benar-benar menghentikan program nuklirnya. Ia menilai anggapan itu tidak realistis karena Teheran masih dianggap memiliki ambisi yang sama terhadap Israel.
Ia juga menolak pandangan bahwa Iran akan melepaskan cita-cita untuk menghancurkan Israel melalui sebuah kesepakatan diplomatik. Sikap itu memperlihatkan bahwa Tel Aviv tetap memandang Iran sebagai ancaman strategis yang belum berubah.
Pesan keras soal keputusan keamanan
Ben Gvir menegaskan Israel harus siap menghadapi ancaman Iran dengan langkah sendiri. Ia menyatakan kebijakan keamanan Tel Aviv tidak boleh ditentukan oleh tekanan luar, meski datang dari mitra dekat seperti Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, ia bahkan menegaskan tidak ada keadaan apa pun yang bisa memaksa Israel mengikuti perintah seorang teman. Pesan ini memperlihatkan sikap keras pemerintah Israel saat menempatkan keamanan nasional di atas pertimbangan diplomasi.
Washington dan Tel Aviv tidak satu arah
Pernyataan Ben Gvir muncul di tengah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mendorong Israel menghentikan operasi militer di Libanon. Langkah itu disebut menjadi bagian dari implementasi kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan kawasan.
Namun, dari sudut pandang Israel, fokus keamanan tidak berhenti pada program nuklir Iran. Pemerintah Benjamin Netanyahu juga tetap memandang keberadaan Hizbullah di Libanon sebagai ancaman langsung yang harus ditangani di lapangan.
Rudal balistik dan Libanon ikut masuk hitungan
Selain isu nuklir, tokoh-tokoh politik Israel juga menilai pembahasan dengan Iran belum menyentuh persoalan rudal balistik secara memadai. Bagi Tel Aviv, kemampuan rudal Iran sama berbahayanya dengan program nuklir dan semestinya masuk dalam agenda perundingan.
Perbedaan pandangan itu membuat upaya merumuskan kesepahaman yang bisa diterima semua pihak semakin rumit. Israel menilai ancaman Iran tidak cukup diselesaikan dengan janji pengawasan atau pembatasan sementara.
Di saat tekanan diplomatik dari Washington terus berjalan, Israel tetap mempertahankan operasi militernya dan kehadiran pasukan di Libanon Selatan. Sikap itu dikaitkan dengan upaya Israel untuk menahan pengaruh Hizbullah dan menjaga perbatasannya.
Perbedaan sikap antara AS dan Israel menunjukkan kerja sama kedua negara tidak selalu berjalan searah ketika menyangkut Iran dan stabilitas Timur Tengah. Selama Israel menilai ancaman dari Teheran masih aktif, perdebatan soal batas diplomasi dan tindakan sepihak kemungkinan tetap menjadi isu utama.
Source: mediaindonesia.com






