Pemerintah harus menambah belanja negara sebesar Rp132 triliun untuk menutup kewajiban subsidi dan kompensasi energi. Tambahan ini sudah masuk dalam outlook APBN 2026, sehingga tekanan fiskal disebut masih berada dalam kendali.
Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan betapa besar beban yang harus ditanggung anggaran negara untuk menjaga harga energi tetap stabil. Sampai akhir Semester I-2026, realisasi subsidi dan kompensasi sudah menembus Rp233 triliun atau 52,1% dari pagu APBN 2026.
Defisit Masih Dijaga di Level 2,85% PDB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut outlook belanja negara 2026 kini diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun. Angka itu setara 102,6% dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun.
Purbaya menegaskan tambahan Rp132 triliun tersebut sudah diperhitungkan di dalam proyeksi itu dan bukan beban baru di luar rancangan fiskal. Pemerintah juga masih menargetkan defisit APBN 2026 berada di level 2,85% terhadap produk domestik bruto.
Ruang fiskal, menurut Purbaya, masih bisa membaik jika harga minyak dunia turun, penerimaan pajak dan bea cukai melampaui perkiraan, serta ekonomi tumbuh sesuai target. Dengan kombinasi itu, tekanan pada APBN dapat berkurang meski kebutuhan subsidi tetap tinggi.
Realisasi Subsidi Sudah Lewati Setengah Pagu
Data hingga akhir Semester I-2026 memperlihatkan belanja subsidi dan kompensasi sudah berjalan lebih cepat dari pagu tahunan. Dari total Rp233 triliun yang telah terserap, subsidi mencapai Rp116 triliun dan kompensasi Rp116,9 triliun.
| Komponen | Realisasi Semester I-2026 | Porsi terhadap pagu |
|---|---|---|
| Subsidi | Rp116 triliun | Bagian dari total 52,1% |
| Kompensasi | Rp116,9 triliun | Bagian dari total 52,1% |
| Total | Rp233 triliun | 52,1% dari pagu APBN 2026 |
Realisasi tersebut naik 44,4% dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar Rp161,4 triliun. Pemerintah menyebut kenaikan itu dipengaruhi oleh fluktuasi Indonesian Crude Price atau ICP, nilai tukar rupiah, serta meningkatnya volume penyaluran BBM, elpiji 3 kilogram, dan listrik bersubsidi.
Beban Tak Hanya Datang dari Energi
Tekanan anggaran juga datang dari sisi volume penyaluran yang terus naik. Di saat pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga di masyarakat, kebutuhan pembayaran subsidi dan kompensasi ikut membesar.
Selain energi, subsidi nonenergi juga mengalami kenaikan terutama karena pembayaran subsidi pupuk. Volume pupuk bersubsidi tercatat naik 21,4%, sehingga menambah beban belanja negara di luar sektor energi.
Dengan kondisi ini, subsidi energi kembali menjadi salah satu ujian fiskal terbesar pemerintah. APBN 2026 masih diarahkan tetap terkendali, tetapi arah harga minyak, kurs rupiah, dan penerimaan negara akan sangat menentukan seberapa besar ruang aman yang tersisa sampai akhir tahun.
