BBM Nonsubsidi Naik, Tapi Inflasi April Tetap Terkendali Menurut BPS

Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada April 2026 belum menjadi pemicu utama inflasi nasional. Badan Pusat Statistik menilai guncangannya tetap ringan karena komoditas ini dikonsumsi kelompok terbatas dan bobotnya dalam keranjang inflasi relatif kecil.

BPS mencatat inflasi bulanan atau month-to-month pada April 2026 sebesar 0,13%. Di sisi lain, kelompok transportasi justru menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,12% dan tingkat inflasi 0,99%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa struktur konsumsi membuat pengaruh BBM nonsubsidi tidak meluas. Ia menegaskan komoditas ini memiliki bobot rendah dalam perhitungan inflasi sehingga dampaknya terhadap angka umum menjadi tidak signifikan.

Penyesuaian harga sejumlah BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dilakukan sejak 18 April 2026. Meski harga naik, BPS menilai efeknya terhadap daya beli masyarakat secara luas masih terkendali.

Tarif angkutan udara lebih dominan

Dalam kelompok transportasi, pendorong inflasi terbesar justru datang dari tarif angkutan udara. BPS mencatat komoditas itu memberi andil 0,11%, sedangkan bensin hanya menyumbang 0,02%.

Ateng menyebut kenaikan tarif angkutan udara berkaitan dengan harga avtur yang meningkat dan mendorong biaya operasional maskapai. Tekanan itu membuat sektor penerbangan memberi dampak lebih besar terhadap inflasi dibandingkan BBM nonsubsidi.

Ia juga menekankan bahwa bobot avtur dalam indeks harga masih tidak besar. Karena itu, kenaikan di sektor penerbangan belum cukup untuk memberi efek yang signifikan pada inflasi umum.

Normalisasi tarif penumpang ikut membentuk pola inflasi

BPS juga mencatat adanya normalisasi tarif pada subkelompok jasa angkutan penumpang. Sebelumnya, sektor ini sempat mengalami deflasi akibat paket stimulus ekonomi pemerintah pada triwulan I 2026, termasuk insentif transportasi selama periode Lebaran dan Ramadan.

Kondisi tersebut membuat kelompok transportasi memang tampil sebagai penyumbang utama inflasi April 2026. Namun, karena bobot komoditas penyusunnya kecil, kenaikan yang terjadi tetap belum cukup kuat untuk mengangkat inflasi nasional secara berarti.

Dengan struktur konsumsi seperti itu, kenaikan harga bensin nonsubsidi dan avtur pada April 2026 lebih banyak terasa di subkelompok tertentu. BPS menilai tekanan harga masih terkendali karena pengaruh komoditas tersebut terhadap indeks umum tetap relatif kecil.

Source: mediaindonesia.com
Terkait