BBCA Anjlok 36%, Dividen 6% Ternyata Belum Cukup Menutup Risiko Loss

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali jadi perhatian setelah terkoreksi cukup dalam di tengah pelemahan pasar. Pada perdagangan Senin (8/6/2026), saham bank berkapitalisasi besar itu ditutup di Rp 4.850 per saham, turun Rp 225 atau 4,43%.

Di saat harga melemah, sebagian investor justru melihat peluang dari dividen yield yang naik ke kisaran 6%. Namun, lonjakan yield itu tidak otomatis berarti BBCA aman diburu, karena penurunan harga sahamnya jauh lebih besar daripada potensi imbal hasil dividen.

Yield naik karena harga turun

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, menilai dividend yield BBCA terdorong naik seiring koreksi harga saham. Secara teori, saham blue chip seperti BBCA dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memang bisa tampak memberi imbal hasil dividen lebih besar ketika harganya turun.

Berdasarkan kinerja keuangan tahun buku 2025, total dividen interim dan final BBCA berada di kisaran Rp 336 per lembar saham. Saat harga BBCA sempat terkoreksi ke area Rp 5.075 pada Senin pagi, yield dividen yang terlihat naik menjadi sekitar 6%.

Angka itu sekilas tampak kompetitif jika dibandingkan dengan bunga deposito bank konvensional. Meski begitu, besarnya yield tidak serta-merta menjadikan saham ini cocok untuk semua tipe investor.

Risiko capital loss masih dominan

Fath mengingatkan investor untuk tidak hanya terpaku pada dividend yield yang terlihat membesar ketika harga saham turun. Sepanjang tahun berjalan, harga saham BBCA telah melemah 36,76%, sehingga potensi keuntungan dividen perlu dihitung bersama risiko capital loss.

Dalam risetnya, ia menegaskan bahwa strategi berburu dividen di tengah pasar yang bergejolak lebih cocok untuk investor dengan horizon panjang. Ia menyebut periode investasi minimal 3 tahun atau lebih agar dividen punya peluang menutup fluktuasi harga saham.

Peringatan itu penting bagi investor jangka pendek. Jika horizon investasi di bawah satu tahun, dividen yang diterima dipastikan tidak cukup untuk menutup kerugian dari penurunan harga saham yang masih tertekan.

Apa yang perlu dicermati investor

Kondisi BBCA menunjukkan bahwa dividend yield tinggi tidak selalu berarti saham sedang murah secara aman. Yield bisa membesar karena pembagian dividen yang besar, tetapi juga bisa terdorong oleh harga yang jatuh lebih cepat.

Bagi investor, kondisi ini menuntut perhitungan yang lebih hati-hati terhadap tujuan investasi, toleransi risiko, dan lamanya dana ditempatkan. Pergerakan BBCA juga memperlihatkan bahwa saham unggulan tetap bisa terkoreksi tajam saat sentimen pasar melemah, meski reputasinya sebagai emiten perbankan besar masih kuat di mata banyak pelaku pasar.

Dengan harga yang masih berada di bawah tekanan, BBCA tetap menarik untuk dicermati bukan hanya dari sisi dividen. Arah pemulihan harga akan sangat menentukan apakah imbal hasil tersebut benar-benar memberi manfaat bagi investor atau justru kalah oleh risiko penurunan lanjutan.

Source: www.beritasatu.com

Terkait