Upaya meredam kritik terhadap Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud justru berubah menjadi polemik baru. Seorang staf ahli gubernur, Sudarno, terekam dalam video yang beredar di Instagram saat meminta massa tidak menghina keluarga Rudy.
Pernyataan itu langsung menuai cibiran karena Sudarno mengaitkan pembelaannya dengan status keluarga sang gubernur. Ia menyebut istri Rudy, Syarifah Suraidah, sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dan menegaskan Rudy sebagai sosok yang taat beribadah.
Pembelaan yang justru memantik reaksi
Video tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap kebijakan anggaran Pemprov Kaltim yang dinilai fantastis. Sejumlah program yang lebih dulu ramai dibahas mencakup pengadaan mobil dinas mewah Rp8,5 miliar, renovasi rumah jabatan bernilai miliaran rupiah, dan biaya laundry operasional Rp450 juta per tahun.
Dalam cuplikan yang dikutip akun Instagram @ajmgrup_ig, Sudarno menyampaikan agar demonstran tidak menyerang keluarga kepala daerah. Ia juga membandingkan ketaatan salat Rudy dengan masyarakat yang melayangkan kritik.
“Jangan berani menghina keluarga Doktor Haji Rudy Mas’ud, karena istri beliau Syarifah Suraidah adalah cucu Nabi Muhammad,” ujar Sudarno.
Ia menambahkan, “Dan beliau kalau dengar azan langsung salat ke masjid, enggak kayak kalian yang belum tentu salat.”
Cibiran warganet tak terbendung
Alih-alih meredam tekanan publik, pembelaan itu memicu gelombang komentar sinis di media sosial. Sebagian warganet menilai isu garis keturunan dipakai untuk mengalihkan perhatian dari kritik atas kinerja dan pengelolaan anggaran.
Nada serupa juga muncul saat sejumlah pengguna media sosial menyoroti penampilan Syarifah Suraidah yang dianggap glamor. Bagi banyak komentar, argumen bernuansa agama itu tidak berhasil menggeser fokus publik dari persoalan utama yang sedang dipersoalkan.
Salah satu komentar menulis, “Nabi enggak menunjukkan kalau keluar itu harus berlebihan tampilannya,” tulis akun @alh***. Komentar lain datang dengan nada meremehkan klaim tersebut.
“Masa iya (cucu Nabi Muhammad), Syarifah rambutnya blonde,” tulis akun @dek**. Akun @im_ juga menulis, “Katanya none Belanda, kok tiba-tiba jadi cucu nabi.”
Desakan soal anggaran tetap menguat
Di tengah perdebatan itu, mahasiswa dan masyarakat tetap menyuarakan tuntutan agar Pemprov Kaltim lebih transparan dan efisien dalam mengelola anggaran. Kritik terhadap penggunaan dana daerah tetap menjadi isu utama yang belum tergeser oleh pembelaan berbasis identitas keluarga.
Sejumlah warganet juga mengingatkan bahwa pejabat publik semestinya dinilai dari kinerja, bukan dari perlindungan lewat sentimen agama atau garis keturunan. Setelah video itu menyebar luas, perdebatan di media sosial terus berlanjut dan memancing reaksi beragam dari publik.
Polemik ini menunjukkan bahwa pembelaan yang menyentuh simbol keagamaan tidak otomatis meredam tekanan publik. Dalam kasus Kaltim, sorotan justru kembali tertuju pada pertanyaan yang sama: bagaimana anggaran daerah dikelola, dan sejauh mana pejabat publik bisa menjawab kritik dengan data, bukan dengan pembelaan identitas keluarga.
Source: www.suara.com






