Bank of England mulai melonggarkan rancangan aturan stablecoin setelah muncul kekhawatiran bahwa kebijakan terlalu ketat bisa menghambat pasar sterling-backed yang masih muda. Namun, penyesuaian itu belum dianggap cukup oleh sebagian pelaku industri untuk membuat Inggris lebih kompetitif.
Bank sentral Inggris itu sedang memfinalisasi aturan untuk stablecoin berbasis pound sterling yang ditujukan untuk pembayaran ritel. Dalam draf akhir, batas kepemilikan individu yang semula dipertimbangkan dihapus, lalu diganti dengan batas total penerbitan per stablecoin yang pada tahap awal dipatok sebesar £40 miliar.
Cadangan Masih Aman, Ruang Gerak Penerbit Sedikit Lebih Luas
Perubahan lain menyentuh komposisi aset pendukung. Penerbit stablecoin yang digunakan luas kini diizinkan menempatkan hingga 70% cadangan dalam surat utang pemerintah jangka pendek, naik dari proposal sebelumnya yang hanya 60%.
Sisa aset harus disimpan dalam simpanan bank sentral yang tidak menghasilkan bunga. Skema ini tetap menjaga cadangan pada level aman, tetapi memberi ruang yang sedikit lebih besar bagi penerbit untuk mengelola aset pendukung mereka.
Stablecoin sendiri adalah token digital yang dirancang menjaga nilai tetap dan biasanya dipatok ke mata uang fiat. Aset ini lazim didukung instrumen tradisional seperti surat utang pemerintah.
Inggris Masih Berjalan Lebih Hati-Hati
Pasar stablecoin berkembang cepat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di bawah pemerintahan Trump di Amerika Serikat yang lebih ramah terhadap kripto. Di Inggris, stablecoin masih berada di bawah aturan terbatas yang terutama berfokus pada anti pencucian uang dan promosi keuangan.
Situasi itu berbeda dengan Uni Eropa yang sudah menjalankan rezim komprehensif MiCA sejak Desember 2024, meski kini sedang ditinjau ulang. Karena itu, arah kebijakan Inggris dipandang penting bagi masa depan sterling-backed stablecoin.
Meski Bank of England menyebut posisinya sebagai final, bank sentral itu masih membuka ruang masukan. Industri dapat menyampaikan tanggapan sebelum 22 September untuk menyoroti tantangan yang masih mereka temui.
Industri Menilai Masih Terlalu Konservatif
Sambutan dari pelaku industri tidak sepenuhnya hangat. Sebagian menilai perubahan ini positif karena menyerap sebagian masukan, tetapi mereka juga menganggap dasar kebijakannya belum berubah banyak.
Adam Jackson dari lobi fintech Innovate Finance mengatakan rezim itu tetap yang paling hati-hati dan paling konservatif di dunia. Ia juga menyoroti bahwa Inggris akan menjadi satu-satunya negara di dunia di mana hingga 30% aset perbankan tidak menghasilkan pendapatan sama sekali.
Menurut Jackson, kondisi itu membuat model bisnis di Inggris berbeda dari negara lain dan memunculkan pertanyaan mengapa investor mau menanamkan dana di sana. Sementara itu, CEO ClearBank Group Mark Fairless menilai perubahan terbaru memang menjanjikan, tetapi Inggris tetap sulit memenangkan perlombaan global aset digital jika sterling stablecoin kurang menarik secara komersial atau kalah berguna dibandingkan versi dolar dan euro.







