Bak Bumi Dan Langit, Harta Seskab Teddy Di Usia 37 Jauh Melampaui Dino Patti Djalal Saat 45

Sorotan terhadap kekayaan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan diplomat senior Dino Patti Djalal memunculkan perbandingan yang sangat timpang. Data LHKPN memperlihatkan Teddy menorehkan harta jauh lebih besar, meski usianya lebih muda dan posisinya dibandingkan dengan Dino saat berada di jabatan strategis.

Perbandingan ini mencuri perhatian di tengah polemik anggaran kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo. Dari data yang tercatat, Teddy memiliki harta bersih Rp 20,1 miliar tanpa utang, sementara Dino saat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat tercatat memiliki harta Rp 10,65 miliar dan masih menanggung utang.

Teddy yang diperkirakan lahir pada 1989 melaporkan total harta Rp 20.116.632.669 dalam LHKPN periodik 2025 yang dilaporkan pada Maret 2026. Angka itu juga menunjukkan kenaikan tajam karena dalam setahun hartanya disebut melonjak sekitar Rp 4,7 miliar.

Di sisi lain, Dino Patti Djalal yang lahir pada 1965 tercatat memiliki kekayaan Rp 10.650.000.000 saat menjabat Dubes RI untuk Amerika Serikat pada 2010. Saat itu, usianya 45 tahun, atau delapan tahun lebih tua dibanding Teddy pada data yang dibandingkan.

Aset Teddy lebih tebal di hampir semua pos

Porsi terbesar harta Teddy berasal dari properti dan aset nonproperti. Ia tercatat memiliki lima bidang tanah dan bangunan dengan total nilai Rp 9,04 miliar, lalu ditopang harta bergerak lainnya senilai Rp 7,7 miliar.

Likuiditas Teddy juga terlihat kuat karena uang kas dan setara kasnya mencapai Rp 2,1 miliar. Di sektor kendaraan, ia memiliki tiga mobil, yakni Toyota Jeep LC HDTP, Toyota Fortuner, dan Honda CRV, dengan total nilai Rp 1,21 miliar.

Hal lain yang menonjol adalah status kewajibannya. Teddy tidak memiliki utang, sehingga seluruh kekayaan bersihnya tercatat utuh tanpa pengurang kewajiban finansial.

Catatan kekayaan Dino saat menjadi dubes

Dalam data yang dibandingkan, aset Dino juga didominasi properti. Ia memiliki tanah dan bangunan di Jakarta Selatan senilai Rp 6,08 miliar, yang menjadi komponen terbesar dari total hartanya saat itu.

Untuk kendaraan, Dino mencatat dua unit mobil pribadi dengan total nilai Rp 800 juta. Nilai itu masih berada di bawah kepemilikan kendaraan Teddy yang dilaporkan lebih besar.

Dino juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp 2,07 miliar. Jumlah ini terpaut lebar dari pos serupa milik Teddy yang mencapai Rp 7,7 miliar.

Di sisi kas, Dino hanya mencatat Rp 286 juta. Ia juga masih memiliki utang Rp 1,15 miliar, sehingga posisi kekayaan bersihnya makin jauh dari Teddy yang nihil utang.

Jarak yang terlihat di angka LHKPN

Jika dibedah per pos, kesenjangan paling terasa muncul pada total kekayaan, harta bergerak lainnya, dan keberadaan utang. Teddy unggul di hampir semua kategori yang tercatat, dari kas hingga aset bergerak.

Total harta Teddy yang mencapai Rp 20,1 miliar hampir dua kali lipat dibanding Dino yang Rp 10,65 miliar. Selisih itu menjadi semakin jelas ketika dibandingkan dengan struktur aset masing-masing yang juga berbeda jauh.

Kas Teddy sebesar Rp 2,1 miliar jauh di atas kas Dino Rp 286 juta. Pada kendaraan, Teddy mencatat Rp 1,21 miliar dari tiga mobil, sedangkan Dino mencatat Rp 800 juta dari dua mobil.

Konteks publik yang melatarbelakangi sorotan ini membuat data kekayaan keduanya ikut diperbincangkan luas. Dari perdebatan soal anggaran hingga profil harta pejabat, angka di LHKPN kini menjadi bagian dari pembacaan publik terhadap figur-figur yang berada di pusat perhatian.

Source: www.suara.com
Exit mobile version