Film Backrooms kini jadi sorotan karena berhasil mengubah mitos internet menjadi tontonan layar lebar yang sangat laku. Dalam sepuluh hari sejak dirilis, film arahan Kane Parsons itu meraup pendapatan global US$212,6 juta per Senin (8/6/2026) dan langsung tercatat sebagai film terlaris dalam sejarah studio A24.
Capaian itu menunjukkan bahwa cerita yang lahir dari ruang digital masih punya daya ledak besar ketika dipindahkan ke sinema. Di Amerika Utara, film ini menyumbang US$135 juta, sementara pasar internasional menambah US$77,6 juta dan ikut mendorong posisinya sebagai salah satu film horor paling sukses secara komersial tahun ini.
Dari thread sederhana menjadi horor global
Backrooms berawal dari sebuah thread dan foto sederhana yang sempat beredar di internet. Dari bahan yang sangat minimal itu, kisahnya tumbuh menjadi mitologi horor digital yang memicu ribuan teori, cerita, dan video buatan penggemar.
Kane Parsons mengangkat konsep tersebut ke layar lebar tanpa menghilangkan inti yang membuatnya populer, yaitu misteri. Pendekatan ini menjaga Backrooms tetap terasa asing, karena film tidak berusaha menjelaskan semuanya secara gamblang.
Kisah kehilangan kendali
Film ini mengambil latar dekade 1990-an di kawasan pinggiran Santa Clara Valley, California. Chiwetel Ejiofor berperan sebagai Clark, seorang pria paruh baya yang menghadapi kecanduan alkohol dan tekanan akibat bisnis toko furniturnya yang runtuh.
Cerita bergerak ketika Clark memeriksa gangguan listrik di ruang bawah tanah tokonya dan menemukan portal misterius. Portal itu membawanya ke dimensi asing yang disebut Backrooms, lalu pengalaman aneh tersebut mulai ia ceritakan kepada orang terdekat, termasuk psikolognya, Marry.
Ketegangan meningkat saat klien Marry mendadak menghilang dan tidak datang ke sesi konsultasi. Keputusan Marry untuk mencari tahu sendiri justru menyeretnya masuk ke Backrooms, tempat yang perlahan membuka lapisan misteri lebih besar dari dugaan awal.
Atmosfer yang menekan, bukan penjelasan yang panjang
Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia menjaga rasa tidak pasti. Backrooms digambarkan sebagai dimensi di luar batas realitas, berisi labirin raksasa, ruangan kosong yang seragam, lorong tanpa ujung, dan dengungan lampu neon yang terus membangun ketegangan.
Parsons membiarkan penonton mengikuti perjalanan Clark tanpa kepastian tentang apa yang menunggu di ujung lorong. Strategi itu membuat film lebih mengandalkan atmosfer daripada penjelasan, sehingga rasa takut tumbuh dari ancaman yang terlihat sekaligus dari kemungkinan yang tidak terlihat.
Visual kuat, cerita tidak selalu setajam konsep
Secara visual, Backrooms dinilai kuat dalam membangun dunia yang memikat sekaligus mengganggu. Namun, sisi ceritanya disebut tidak selalu sekuat atmosfer yang dibangun, sehingga ada bagian yang terasa kurang solid dibandingkan kekuatan konsep dan visualnya.
Meski begitu, ruang abu-abu itulah yang justru menjadi daya tarik utamanya. Penonton tidak hanya diajak melihat ruang asing, tetapi juga dipaksa mempertanyakan apakah Backrooms adalah tempat fisik, ruang psikologis, atau sesuatu di antara keduanya.
Pada akhirnya, film ini memilih meninggalkan pertanyaan ketimbang jawaban pasti. Sikap itu membuat Backrooms tetap setia pada asal-usulnya sebagai mitos internet yang hidup dari rasa penasaran, bukan dari penjelasan yang tuntas.
Source: lifestyle.bisnis.com