ASEAN kembali berada di tengah sorotan geopolitik karena kawasan ini dinilai menghadapi tekanan dari luar yang kian terasa. Rusia memandang kondisi itu sebagai ujian bagi peran ASEAN dalam menjaga stabilitas Asia Pasifik di tengah persaingan pengaruh yang semakin rumit.
Pandangan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, saat menyoroti posisi ASEAN sebagai mitra dialog dan kerja sama dalam dinamika politik global. Ia menilai menjaga keseimbangan hubungan antarnegara di Asia Tenggara tidak sederhana karena setiap negara membawa kepentingan, latar belakang, dan karakter yang berbeda.
ASEAN dipandang masih jadi penopang stabilitas
Zakharova menilai negara-negara Asia Tenggara sejak lama berhadapan dengan tantangan internal yang tidak ringan. Perbedaan kepentingan nasional dan persoalan sejarah masih menjadi bagian dari realitas yang harus dikelola bersama.
Namun, ia menilai ASEAN tetap berhasil menyediakan ruang penyelesaian masalah melalui mekanisme regional dan dialog yang konstruktif. Menurutnya, organisasi ini membantu negara-negara anggota menyelaraskan hubungan tanpa mengabaikan prinsip saling menghormati.
“ASEAN telah menjadi mekanisme integrasi yang membantu negara-negara di kawasan menyelaraskan hubungan mereka, menyelesaikan banyak persoalan, meskipun tentu tidak semuanya,” kata Zakharova.
Pernyataan itu menempatkan ASEAN bukan sekadar sebagai forum pertemuan, tetapi sebagai penyangga yang menjaga hubungan antarnegara tetap berada di jalur kerja sama. Dalam pandangan Rusia, fungsi tersebut penting ketika kawasan menghadapi tekanan politik yang datang dari berbagai arah.
Tekanan eksternal dinilai ikut memengaruhi kawasan
Di sisi lain, Rusia melihat tantangan terbesar ASEAN tidak hanya datang dari dalam kawasan. Zakharova menyebut ada blok-blok eksternal yang dinilai berupaya memengaruhi hubungan antarnegara di Asia Tenggara dan memunculkan ketegangan baru.
Ia menggambarkan situasi itu sebagai dinamika yang kurang alami bagi kawasan tersebut. Menurutnya, pihak luar membawa agenda yang berpotensi berdampak destruktif terhadap keseimbangan regional.
Zakharova juga menyinggung Quadrilateral Security Dialogue atau QUAD, forum yang melibatkan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India. Ia menilai forum itu berasal dari luar kawasan dan tidak tumbuh secara alami dari kebutuhan regional Asia Tenggara.
“Baru-baru ini ada pertemuan QUAD. Kelompok ini berasal dari luar kawasan. Ini bukan sesuatu yang alami bagi kawasan tersebut,” ujarnya.
Persaingan pengaruh di Asia Tenggara makin terasa
Menurut Zakharova, keberadaan blok seperti QUAD berpotensi memengaruhi arah pengambilan keputusan di kawasan. Ia bahkan melihat adanya upaya bersaing dengan ASEAN untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh di antara negara-negara kawasan.
Pandangan itu membuat ASEAN diposisikan sebagai penyeimbang di tengah dorongan kekuatan eksternal. Dalam konteks tersebut, kemampuan ASEAN menjaga dialog dan tetap menjaga jarak dari rivalitas blok dianggap menjadi elemen penting bagi stabilitas regional.
Zakharova menegaskan bahwa menjaga hubungan antarnegara memang tidak selalu mudah, bahkan di lingkungan yang paling dekat sekalipun. Karena itu, tantangan yang dihadapi ASEAN dipandang sebagai bagian wajar dari hubungan internasional yang terus bergerak di tengah tekanan geopolitik.
Di saat kawasan Asia Tenggara semakin sering bersinggungan dengan kepentingan kekuatan besar, peran ASEAN sebagai penjaga stabilitas kembali diuji. Rusia melihat kemampuan organisasi itu mempertahankan keseimbangan internal akan menjadi faktor penting agar kawasan tetap tidak terseret lebih jauh ke dalam rivalitas blok luar kawasan.
Source: www.medcom.id






