Amerika Serikat sedang mengkaji proposal penghentian sementara permusuhan selama 10 hari antara Iran dan Israel. Usulan ini menjadi perhatian karena mencakup pembukaan kembali pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Masa jeda konflik itu diharapkan memberi ruang bagi Washington dan Teheran untuk melanjutkan jalur perundingan. Namun, pembahasan diplomatik berlangsung ketika situasi keamanan antara Iran dan Israel masih belum stabil.
Usulan 10 Hari untuk Menahan Eskalasi
Menurut laporan Axios yang dikutip Viva.co.id pada Senin malam, 20 Juli 2026, proposal tersebut datang dari Qatar, Mesir, Pakistan, dan sejumlah mediator regional lain. Para mediator mendorong penghentian sementara konflik sebagai langkah untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih mempelajari rincian usulan tersebut. Belum ada kepastian mengenai hasil evaluasi Washington maupun kemungkinan penerapan gencatan senjata itu.
| Unsur Proposal | Rincian | Tujuan |
|---|---|---|
| Gencatan senjata | Penghentian sementara selama 10 hari | Menurunkan ketegangan Iran dan Israel |
| Selat Hormuz | Pembukaan kembali jalur pelayaran | Memulihkan akses perdagangan energi |
| Diplomasi AS-Iran | Ruang melanjutkan pembahasan | Menjaga proses perundingan tetap berjalan |
Selat Hormuz Masuk dalam Poin Penting
Proposal itu tidak semata membahas jeda pertempuran antara Iran dan Israel. Pembukaan kembali Selat Hormuz turut menjadi bagian penting dalam rancangan yang sedang dikaji AS.
Jalur tersebut disebut sebagai salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia. Karena itu, akses pelayaran di kawasan ini dipandang berkaitan langsung dengan kepentingan lebih luas di tengah konflik yang meningkat.
Dengan adanya penghentian sementara permusuhan, Washington dan Teheran diharapkan memiliki waktu untuk menyelamatkan nota kesepahaman yang sebelumnya telah disepakati. Kelanjutan proses itu bergantung pada hasil pembahasan proposal dan perkembangan situasi di lapangan.
Israel Diminta Menjaga Peluang Diplomasi
Di tengah pengkajian proposal, Washington disebut telah menyampaikan pesan kepada Israel agar tidak mengambil tindakan yang dapat menggagalkan diplomasi. Pesan tersebut menunjukkan AS masih melihat negosiasi sebagai salah satu jalan keluar dari konflik.
Permintaan itu menjadi penting karena setiap langkah yang memperbesar konfrontasi berpotensi membuat kesepakatan semakin sulit dicapai. Ruang perundingan yang tersedia dinilai masih rentan di tengah kondisi keamanan yang belum menentu.
AS pada saat yang sama dilaporkan tidak hanya mengandalkan hasil diplomasi. Washington juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi apabila pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan.
Kesiagaan Militer Berjalan Bersamaan
Belum ada rincian mengenai opsi yang tengah dipersiapkan AS sebagai langkah cadangan. Laporan yang ada hanya menyebut Washington terus memantau pengkajian proposal para mediator regional.
Sementara itu, militer Israel dilaporkan meningkatkan status kesiagaan karena kondisi keamanan belum stabil. Pasukan Israel disebut bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi yang dapat berkembang menjadi kampanye militer berskala penuh dalam beberapa hari mendatang.
Situasi ini membuat jalur diplomasi dan persiapan menghadapi eskalasi berjalan bersamaan. Hasil kajian AS atas proposal 10 hari tersebut akan menentukan apakah peluang jeda konflik dan pembukaan pelayaran dapat diteruskan ke tahap berikutnya.
