Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali melonjak setelah CENTCOM mengumumkan serangan militer terbaru pada Minggu (12/7). Dalam sepekan, AS disebut sudah melancarkan tiga gelombang operasi ke wilayah Iran di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz.
Serangan itu dilakukan untuk menekan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintas di jalur laut strategis tersebut. CENTCOM menyatakan operasi dimulai pukul 17.00 waktu Timur Amerika Serikat atau ET, dan berlangsung atas arahan langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Serangan Terbaru dan Sasaran Militer
Dalam pernyataannya di media sosial X, Komando Pusat Amerika Serikat menyebut langkah itu dimaksudkan untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran atas eskalasi yang terus berlangsung di kawasan. Militer AS juga menegaskan bahwa operasi terbaru diarahkan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Gelombang terbaru ini menambah rangkaian operasi yang sudah dimulai sejak 7 Juli. Pada Sabtu (11/7), CENTCOM mengklaim telah menyerang sekitar 140 target militer Iran, termasuk lokasi rudal dan pesawat nirawak, gudang amunisi, jaringan komunikasi militer, hingga fasilitas pengawasan di wilayah pesisir.
| Gelombang Serangan | Waktu | Sasaran Utama |
|---|---|---|
| Serangan terbaru | Minggu (12/7) | Memukul kemampuan Iran di Selat Hormuz |
| Gelombang sebelumnya | Sabtu (11/7) | Sekitar 140 target militer, termasuk rudal, drone, amunisi, komunikasi, dan pengawasan pesisir |
| Rangkaian awal | Sejak 7 Juli | Tiga gelombang operasi militer dalam sepekan |
Balasan Iran dan Dampaknya di Kawasan
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Lokasinya mencakup Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman, menandakan eskalasi tidak lagi terbatas pada satu titik.
Menurut pemberitaan mediaindonesia.com, rangkaian ketegangan ini bermula setelah Iran menembaki kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz lalu mengumumkan penutupan jalur pelayaran itu hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pemerintah Amerika Serikat menilai tindakan tersebut melanggar nota kesepahaman yang disepakati kedua negara pada Juni lalu.
Selat Hormuz Masih Jadi Pusat Tekanan
Kesepakatan yang dimaksud dirancang untuk menghentikan seluruh aksi permusuhan secara segera dan permanen, sekaligus menjadi dasar negosiasi lanjutan untuk mengakhiri konflik. Namun, status Selat Hormuz tetap menjadi hambatan utama dalam pembahasan kedua pihak.
Selat Hormuz memegang peran vital bagi pasokan energi dunia. Sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair global melewati kawasan itu, sehingga setiap gangguan di jalurnya langsung memicu kekhawatiran di pasar dan keamanan regional.
Dengan tiga gelombang serangan dalam sepekan, AS dan Iran kini berada dalam fase konfrontasi yang lebih tajam. Selat Hormuz pun makin menonjol sebagai titik paling sensitif, karena setiap manuver militer di kawasan itu berpotensi memengaruhi jalur perdagangan energi dunia.
