Pameran seni Art with Heart di Gandaria City, Jakarta, menghadirkan lebih dari sekadar deretan lukisan di ruang publik. Ajang ini menempatkan seniman difabel sebagai bagian penting dari percakapan tentang seni, kemandirian, dan akses yang lebih setara di tengah masyarakat.
Selama 21–24 Mei, atrium mal berubah menjadi galeri sementara dengan partisi tinggi yang membentuk lorong-lorong pameran. Di ruang itu, sekitar 70 karya lukis dari 20 perupa berkebutuhan khusus dan 18 perupa senior tanah air dipajang berdampingan.
Kolaborasi yang memberi ruang tumbuh
Art with Heart memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dengan format kolaboratif. Sejumlah nama yang terlibat antara lain Ampun Sutrisno, Hestu Wahyuni, Budi Ubrux, dan Suzanne.
Direktur Panasonic, Muhammad Arif Rachmat Gobel, mengatakan pameran ini dirancang agar seniman difabel bisa tumbuh lebih mandiri dan profesional. Ia menegaskan keinginan penyelenggara untuk membuka peluang nyata bagi mereka melalui kolaborasi dan akses pasar.
Pameran ini juga memberi jalur penjualan karya bagi pengunjung yang tertarik membeli lukisan. Menurut Arif, pengunjung dapat langsung menghubungi tim terkait, dan sebagian hasil penjualan akan didedikasikan untuk mendukung kemandirian seniman difabel melalui yayasan yang terlibat.
Seni sebagai medium pemberdayaan
Art with Heart tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga membangun ruang yang mendorong kepercayaan diri seniman difabel. Pameran ini menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium pemberdayaan yang memberi kesempatan setara.
Kehadiran karya-karya tersebut juga mengajak publik melihat disabilitas dari sudut pandang yang lebih luas. Pameran ini menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan bukan penghalang untuk menghadirkan karya yang kuat, ekspresif, dan bernilai jual.
Di antara karya yang dipajang, terdapat lukisan yang menampilkan enam sosok pemuka agama dengan kepala digantikan bingkai berisi ilustrasi rumah ibadah. Karya itu menghadirkan pesan persatuan yang kuat di tengah suasana pameran.
Makna tajuk “Kami”
Tajuk “Kami” dipilih karena memiliki makna yang selaras dalam bahasa Indonesia dan Jepang. Dalam bahasa Indonesia, kata itu merujuk pada kebersamaan, sedangkan dalam pemahaman kepercayaan Shinto di Jepang, kami dimaknai sebagai spirit atau jiwa yang berkaitan dengan alam.
Makna tersebut dipakai untuk menegaskan gagasan saling menjaga, berkembang, dan bertumbuh bersama. Dalam konteks Art with Heart, tema itu memperkuat pesan bahwa seni bisa menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, solidaritas, dan upaya membangun kemandirian bagi seniman difabel.
Galeri sementara di tengah ruang publik
Format pameran di atrium mal memberi pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Ruang komersial itu berubah menjadi tempat apresiasi seni yang lebih terbuka, sehingga karya para perupa dapat ditemui langsung oleh publik yang melintas.
Kombinasi seniman difabel dan seniman senior memberi lapisan makna tambahan pada pameran ini. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa ruang seni dapat dibangun sebagai pertemuan lintas pengalaman, sekaligus sebagai jalan untuk memperluas peran sosial para seniman difabel.
Source: mediaindonesia.com






