TNI Angkatan Udara kini memiliki 22 pesawat latih T-50/T-50i buatan Korea Selatan setelah enam unit tambahan rampung dikirimkan. Penambahan ini memberi dorongan bagi kesiapan operasional skuadron penerbang dan pelatihan taktis pilot.
Enam jet baru tersebut bukan sekadar menambah jumlah armada, melainkan juga memperluas dukungan platform latihan bagi penerbang TNI AU. Pesawat T-50i merupakan varian ekspor dari jet latih supersonik yang diproduksi Korea Aerospace Industries atau KAI.
Jumlah Armada Bertambah dari 16 menjadi 22 Unit
Kerja sama Indonesia dengan KAI untuk keluarga pesawat T-50 telah berjalan sejak 2011. Pada tahun itu, kedua pihak menandatangani kesepakatan pengiriman 16 pesawat latih T-50 ke Indonesia.
KAI kemudian menandatangani kontrak tambahan penyediaan T-50i untuk TNI AU pada 2021. Pengiriman pertama dari pesanan tambahan tersebut telah dilakukan pada Februari, sebelum enam unit terakhir diselesaikan pengirimannya.
| Jenis Pesawat | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| T-50/T-50i | 22 unit | 16 unit dari kerja sama 2011 dan 6 unit tambahan |
| KT-1 | 20 unit | Pesawat latih buatan Korea Selatan |
| Total pesawat Korea Selatan | 42 unit | Mencakup keluarga T-50/T-50i dan KT-1 |
Dengan enam pesawat tambahan itu, akumulasi pesawat T-50 buatan Korea Selatan yang diterima Indonesia mencapai 22 unit. Armada tersebut menjadi bagian dari total 42 pesawat buatan Korea Selatan yang telah diperoleh Indonesia.
Selain keluarga T-50, Indonesia juga telah menerima 20 pesawat latih KT-1. Kehadiran dua platform ini menunjukkan kerja sama dirgantara kedua negara mencakup lebih dari satu jenis pesawat latih.
Difokuskan untuk Kemampuan Operasional Skuadron
Seorang pejabat TNI AU menyatakan enam pesawat yang baru diserahkan diharapkan memberi kontribusi langsung terhadap kesiapan skuadron penerbang. Fokus penggunaannya mencakup peningkatan kemampuan operasional sekaligus pelatihan taktis bagi para pilot.
“Enam pesawat T-50i yang baru diserahkan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan operasional skuadron penerbang serta memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan pelatihan taktis para pilot,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip Chosun Biz. Pernyataan itu menempatkan tambahan armada sebagai bagian dari kebutuhan pelatihan penerbang TNI AU.
Indonesia disebut sebagai pelanggan asing pertama untuk pemesanan jet T-50i. Posisi tersebut menjadikan Indonesia salah satu pengguna awal varian ekspor pesawat latih supersonik buatan KAI.
KAI Siapkan Dukungan Setelah Pengiriman
KAI memandang penyelesaian pengiriman enam unit T-50i sebagai pencapaian penting bagi perusahaan. Pihak perusahaan menilai proses tersebut memadukan kepercayaan pelanggan dengan kemampuan KAI dalam mengembangkan serta memproduksi pesawat.
Setelah tahap penyerahan selesai, KAI menyatakan akan tetap memberikan dukungan kepada pengguna. “Kami juga akan melakukan yang terbaik dalam dukungan logistik dan dukungan teknis lanjutan yang stabil,” kata pejabat KAI.
Dukungan logistik dan teknis tersebut menjadi bagian dari kerja sama setelah pesawat diterima oleh TNI AU. Artinya, hubungan kedua pihak tidak berhenti pada proses produksi dan pengiriman armada.
Sejalan dengan Kerja Sama KF-21
Kerja sama pertahanan Indonesia dan Korea Selatan juga mencakup proyek pengembangan jet tempur KF-21. Indonesia turut ambil bagian dalam proyek pesawat tempur buatan Korea Selatan tersebut.
Tambahan enam T-50i hadir di tengah cakupan kerja sama pertahanan kedua negara yang terus mencakup sektor dirgantara. Bagi TNI AU, armada baru ini diharapkan memperkuat operasional skuadron penerbang serta kebutuhan pelatihan taktis pilot.







