Armada Bayangan Tak Lagi Sekadar Soal Minyak, Kabel Bawah Laut Kini Jadi Sasaran Utama

Ancaman terbesar bagi perdagangan laut global kini tidak lagi hanya datang dari jalur sempit seperti Selat Hormuz. Shadow fleet, armada kapal tua yang kerap dipakai untuk melanggar sanksi, disebut bergerak di wilayah abu-abu hukum dan ikut mengintai kabel bawah laut yang membawa data serta arus bisnis dunia.

Kapal-kapal ini sulit dilacak, sulit dihentikan, dan kerap memanfaatkan celah aturan internasional untuk membangun penyangkalan yang masuk akal saat insiden maritim terjadi. Rusia dan China disebut memanfaatkan pola itu untuk menekan infrastruktur vital tanpa meninggalkan jejak yang mudah dibuktikan.

Armada tua dengan jejak yang sengaja dibuat kabur

Shadow fleet umumnya terdiri dari tanker dan kapal kargo tua dengan kepemilikan tidak transparan. Polanya berulang, mulai dari mematikan automatic identification system, menyiarkan posisi palsu, melakukan transfer barang antarkapal, hingga sering berganti bendera dan nama.

Sejumlah kapal juga dikaitkan dengan insiden kabel bawah laut di Laut Baltik dan dekat Taiwan. Newnew Polar Bear yang terdaftar di Hong Kong dan dimiliki China, misalnya, menyeret jangkar lebih dari 100 mil laut dan merusak pipa Balticconnector serta kabel-kabelnya.

Pada November 2024, kapal kargo Yi Peng 3 berbendera China juga menyeret jangkar dan memutus dua kabel di Laut Baltik. Di awal 2025, kapal Vasili Shukshin yang berbendera Belize dan dioperasikan Rusia disebut berlama-lama sekitar empat minggu di dekat Taiwan.

Dalam periode yang hampir bersamaan, Shunxin-39 berbendera Kamerun dan diawaki kru China memutus kabel di lepas Taiwan setelah memakai hingga enam identitas AIS dan dua nama. Kasus-kasus itu menunjukkan betapa mudahnya kapal bayangan menyamarkan pergerakan mereka di laut lepas.

Celah hukum yang membuat respons lambat

Masalah terbesar ada pada aturan internasional yang tertinggal jauh dari ancaman modern. Konvensi perlindungan kabel bawah laut berasal dari 1884, sementara UNCLOS hanya memberi yurisdiksi penegakan atas kabel bawah laut di perairan teritorial.

Kasus Eagle S memperlihatkan celah itu dengan sangat jelas. Pada Hari Natal 2024, kapal berbendera Kepulauan Cook yang terkait dengan shadow fleet Rusia memutus kabel listrik penghubung Finlandia dan Estonia serta merusak empat kabel data di zona ekonomi eksklusif Finlandia.

Estonia tidak melakukan investigasi atau naik ke kapal karena menafsirkan UNCLOS sebagai larangan memeriksa kapal di perairan internasional. Finlandia kemudian mengundang kapal itu masuk ke laut teritorialnya dan melakukan boarding, tetapi pengadilan Finlandia menyatakan tindakan itu tidak tepat karena pemutusan kabel terjadi di luar laut teritorial Finlandia.

Artinya, ada jarak antara lokasi pelanggaran dan tempat negara memiliki kewenangan penegakan hukum. Dalam banyak kasus, kewenangan menuntut jatuh ke negara bendera kapal, sementara banyak negara menjual bendera kemudahan tanpa memiliki kemauan atau kapasitas untuk bertindak.

Mengapa kapal ini sulit dihentikan

Shadow fleet juga memakai taktik untuk menghindari penangkapan. Mereka bisa mematikan AIS setelah melewati lokasi kabel, berlabuh di perairan internasional agar tidak bisa dinaiki, atau beroperasi dengan pengawalan kapal perang.

Di sisi lain, PBB dinilai tidak efektif karena Rusia dan China duduk di Dewan Keamanan. Kerangka hukum juga makin rumit karena peran sektor swasta, sebab penyedia konten dan hyperscaler seperti Google dan Meta memiliki sekitar 60 kabel bawah laut utama di dunia.

Aturan soal tanggung jawab mereka atas kerusakan dan kewajiban negara untuk melindungi kabel dari aktor lawan masih belum jelas. Kekaburan itu memberi ruang lebih besar bagi kapal-kapal yang mengandalkan identitas palsu dan penyangkalan.

Langkah yang mulai ditempuh negara-negara

Sejumlah negara mulai mendorong kerangka hukum bersama agar respons terhadap provokasi shadow fleet lebih cepat. Salah satu langkah awal adalah menyepakati pemahaman yang sama soal aturan boarding terhadap kapal yang diduga memalsukan identitas.

Jika sebuah kapal memanipulasi AIS atau berganti nama dan bendera, itu bisa menjadi alasan wajar untuk menduga kapal tersebut tidak berkebangsaan. Berdasarkan Pasal 110 UNCLOS, kapal tanpa kewarganegaraan dapat dihentikan dan diperiksa oleh kapal perang negara mana pun untuk memeriksa dokumennya.

Jika kemudian dipastikan tidak memiliki kebangsaan, kapal itu dapat disita. Langkah tersebut juga membuka jalan untuk penanganan muatan secara sah kepada pembeli yang legitimate.

Denmark, Australia, dan Selandia Baru telah mengadopsi undang-undang zona keselamatan kabel untuk memberi kewenangan penegakan hukum langsung kepada penjaga pantai di zona ekonomi eksklusif. UNCLOS Pasal 56 dan 60 mengizinkan aturan seperti itu selama sempit dan tidak mengganggu kebebasan pelayaran.

Karena aturan zona keselamatan harus dibuat di tingkat domestik, negara-negara yang taat hukum didorong agar tidak membiarkan sistemnya terfragmentasi. Beberapa analis khawatir aturan ini memicu balasan China terhadap kapal berbendera Eropa di Laut China Selatan, tetapi China sudah mengklaim kewenangan penegakan hukum atas hampir seluruh wilayah laut itu.

Sanksi, intelijen, dan tekanan pasar

Langkah lain datang dari sanksi dan intelijen keuangan. Penetapan sanksi Departemen Keuangan AS pada Januari 2025 terhadap 183 kapal tanker minyak, ditambah tindakan Inggris dan Uni Eropa, membuat muatan shadow fleet di terminal Baltik turun drastis pada Maret 2025.

Namun Rusia kemudian beradaptasi. Negara-negara juga bisa melacak pembayaran bendera lewat intelijen keuangan, mengungkap risiko kepada penanggung dan pembiaya, serta mendorong pencabutan bendera secara cepat untuk kapal yang memanipulasi AIS.

Secara diplomatik, negara-negara bisa menekan negara bendera agar membuat registri bendera daring yang bisa diverifikasi. Inisiatif 17 negara bernama Guiding Principles for Underwater Infrastructure Defence Exchanges, yang diumumkan di sela Shangri-La Dialogue, juga menyediakan kerangka kerja untuk melindungi kabel.

Peran sektor swasta dan tekanan ke asuransi

Koordinasi dengan sektor swasta dinilai sama pentingnya. Operator kabel dan raksasa cloud sudah mendeteksi anomali di infrastruktur mereka, dan data itu bisa disalurkan ke pihak yang punya kewenangan bertindak.

Pemerintah dan sektor swasta juga dapat menggabungkan citra satelit dan data maritime domain awareness untuk memantau perilaku shadow fleet. Mereka bahkan dapat membuat basis data kapal publik agar pelaku swasta dan individu bisa menandai kapal-kapal yang bermasalah serta negara di belakangnya.

Ada pula usulan menempatkan petugas keamanan yang sudah dibersihkan di setiap konsorsium kabel besar, menyepakati ambang aktivitas mencurigakan yang seragam, dan membuat aliran data langsung ke operasi NATO Baltic Sentry dan Nordic Warden. Kedua operasi ini memang dirancang untuk melindungi kabel bawah laut.

Salah satu langkah lawfare yang dinilai paling kuat adalah menutup akses asuransi bagi shadow fleet. Sebagian besar asuransi kapal bayangan Rusia melewati pasar Eropa, sementara sebagian besar reasuransi dunia menyentuh AS atau Eropa.

Negara-negara bisa menekan kelompok P&I clubs internasional agar membuat blacklist real-time untuk kapal yang punya riwayat manipulasi AIS atau pelanggaran hukum lain. Jika akses asuransi ditutup, akses pasar armada bayangan juga akan terputus.

Kabel bawah laut membawa 99% data internasional, termasuk internet, transaksi keuangan, dan komunikasi militer. Selama celah hukum belum ditutup, shadow fleet akan tetap menjadi alat penting bagi Rusia dan China untuk menekan infrastruktur vital yang menopang perdagangan global.

Terkait