Anak Muda Makin Pindah Ke Cuplikan Olahraga Di Medsos, TV Tak Lagi Jadi Pusat

Cara generasi muda menikmati olahraga berubah cepat. Televisi dan layanan streaming masih penting untuk siaran langsung, tetapi media sosial kini menjadi pintu masuk yang makin dominan bagi banyak penonton muda.

Perubahan itu paling terlihat dari bagaimana pertandingan besar dikonsumsi dan dibicarakan. Final NBA musim ini tetap menarik jutaan penonton di layar utama, namun percakapan, potongan momen, dan cuplikannya justru meledak di berbagai platform sosial.

Cuplikan kini lebih dulu menarik perhatian

NBA menyebut seri final lima pertandingan antara New York Knicks dan San Antonio Spurs menghasilkan lebih dari 15 miliar tayangan di media sosial. Angka itu hampir tiga kali lipat dari rekor sebelumnya yang tercipta pada 2025, sementara pertandingan kelima saja menembus lebih dari 4 miliar tayangan.

Data itu memperlihatkan bahwa liga olahraga profesional kini tidak cukup hanya mengandalkan siaran penuh. Mereka juga harus berebut perhatian Generasi Z dan Alpha yang lebih sering menghabiskan waktu di TikTok, YouTube, dan platform digital lain.

Jonathan Miller, mantan eksekutif Fox Corp. dan NBA yang kini memimpin Integrated Media, menilai menjangkau penggemar muda sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Menurut dia, basis penggemar muda adalah penentu masa depan liga yang sehat.

Cara menonton pun ikut bergeser. Banyak orang tidak lagi mengikuti pertandingan dari awal sampai akhir, tetapi memilih cuplikan, momen penting, wawancara atlet, dan konten dari kreator olahraga.

Streaming masih kuat, tapi bukan satu-satunya jalur

Laporan State of U.S. Sports Viewing 2025 dari S&P Global menunjukkan 68% penggemar olahraga masih menonton pertandingan langsung lewat televisi atau layanan streaming. Namun, 38% responden lebih sering menyaksikan cuplikan pertandingan, wawancara, dan video pendek di media sosial atau YouTube.

Sebanyak 12% lainnya juga aktif berinteraksi dengan akun media sosial pemain, klub, atau liga olahraga. Presiden IMG Global Sports Marketing, Adam Kelly, menyebut perubahan ini sebagai evolusi konsumsi konten olahraga, bukan sekadar tren sesaat.

Data Nielsen juga menunjukkan pertandingan olahraga yang eksklusif di layanan streaming konsisten menarik penonton yang lebih muda dibanding siaran televisi konvensional. Karena itu, media sosial dilihat sebagai jalur awal yang bisa mendorong orang akhirnya menonton laga secara langsung.

William Mao, Senior Vice President Media Rights Consulting Octagon, mengatakan perusahaan kini harus mengejar demografi muda di platform yang mereka gunakan setiap hari. Ia juga menyoroti persaingan hak siar cuplikan pertandingan, termasuk soal berapa lama satu cuplikan boleh eksklusif di satu platform sebelum dipublikasikan di platform lain.

TikTok menyebut sekitar 42% penggunanya yang menonton konten olahraga di platform itu kemudian melanjutkan ke siaran langsung lewat televisi atau layanan streaming. Rollo Goldstaub, Kepala Global Sport TikTok, menilai platform digital bisa menjadi mitra untuk mendorong nilai dari penggemar muda dan juga lebih banyak penggemar perempuan.

Platform digital mulai naik kelas di hak siar

Perubahan besar lain datang saat perusahaan teknologi tidak lagi berhenti sebagai tempat menonton potongan pertandingan. YouTube, Prime Video, Apple, hingga Netflix semakin agresif memperoleh hak siar pertandingan dan berhasil menarik jutaan penonton.

Komisioner NFL Roger Goodell sebelumnya menegaskan pentingnya menghadirkan pertandingan di platform streaming yang banyak dipakai generasi muda. Langkah itu juga terlihat dari NBA yang memilih Prime Video sebagai salah satu mitra siaran dalam kontrak media terbarunya, menggantikan TNT Sports milik Warner Bros. Discovery.

Strategi tersebut mulai memberi hasil. NBA mencatat beberapa pertandingan dengan rating tertinggi musim ini, sementara siaran Thursday Night Football di Prime Video membukukan musim dengan jumlah penonton terbesar sepanjang sejarah program itu.

Perpindahan penonton dari TV ke platform digital tampak semakin nyata, bukan lagi sekadar gejala kecil. Yang berubah bukan hanya tempat orang menonton, tetapi juga cara mereka menemukan olahraga, mengikuti pemain, dan memutuskan kapan akan menonton laga penuh.

Source: www.cnbcindonesia.com

Terkait