Anak-anak ternyata mengadopsi AI jauh lebih cepat daripada orang dewasa, dan temuan itu memunculkan kekhawatiran baru soal privasi, keamanan, hingga cara berpikir mereka. UNICEF menilai teknologi yang kian mudah dijangkau anak tidak selalu dibarengi perlindungan yang memadai.
Organisasi itu menyebut setidaknya 20 juta anak telah menggunakan AI berdasarkan survei terhadap 1.000 anak pengguna internet berusia 12-17 tahun dan 1.000 orang tua di 10 negara. Dari jumlah tersebut, sekitar 13 juta anak memanfaatkan AI untuk membantu belajar dan mengerjakan PR.
AI Sudah Masuk Ke Keseharian Anak
UNICEF juga menyoroti bahwa lebih dari 2 juta anak, atau 1 dari 10 anak, mengaku memakai AI untuk mencari jalan keluar atas masalah pribadi yang mereka hadapi. Kondisi ini menunjukkan AI sudah menjadi bagian dari masa kecil anak-anak di berbagai negara.
Dalam laporannya yang dikutip www.liputan6.com, UNICEF menulis bahwa banyak sistem AI menjangkau anak-anak tanpa pagar pengaman yang jelas. Lembaga itu menegaskan aspek keselamatan masih sering dipikirkan belakangan.
| Temuan | Jumlah | Konteks |
|---|---|---|
| Anak pengguna AI | Setidaknya 20 juta | Berdasarkan survei di 10 negara |
| Anak yang memakai AI untuk belajar dan PR | Sekitar 13 juta | Digunakan untuk membantu tugas sekolah |
| Anak yang memakai AI untuk masalah pribadi | Lebih dari 2 juta | Setara 1 dari 10 anak |
Deepfake, Hoaks, Dan Atrofi Kognitif
Di sisi lain, anak-anak juga mulai memahami risiko yang datang dari AI. Sepertiga dari mereka khawatir teknologi ini dipakai untuk menipu atau menyebarkan hoaks, sementara seperempat lainnya takut foto atau video mereka dimanipulasi menjadi deepfake seksual yang vulgar.
Kekhawatiran itu sejalan dengan peringatan para peneliti. Studi MIT Media Lab pada 2025 memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat memicu “atrofi kognitif”, yakni penyusutan kemampuan berpikir kritis.
Riset peneliti Italia berjudul The brain side of human-AI interactions in the long-term yang terbit pada Januari 2026 juga menyoroti risiko serupa. Studi itu menyebut AI dapat mendorong delegasi kognitif yang mengikis kemampuan memproses informasi dan memecahkan masalah, sekaligus melemahkan kompas moral anak.
Desakan Agar Perlindungan Anak Dimasukkan Ke Tata Kelola AI
Masalah lain datang dari penyalahgunaan AI untuk membuat gambar tanpa busana. Kasus terbaru menyeret fitur generatif pada Grok AI milik Elon Musk hingga memaksa pengawas komunikasi Inggris, Ofcom, turun tangan.
Meski Grok akhirnya membatasi fitur tersebut hanya untuk pelanggan berbayar, juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam langkah itu karena dinilai hanya mengubah alat pembuat gambar ilegal menjadi layanan premium.
Jika akses seperti ini terbuka bagi anak-anak, aturan pemblokiran konten pornografi di bawah umur yang berlaku di berbagai negara bisa menjadi tidak efektif. Karena itu, UNICEF mendesak pemerintah dan sektor swasta memasukkan hak-hak anak dalam tata kelola AI global.
UNICEF meminta ada penguatan hukum pidana untuk eksploitasi seksual berbasis AI, peningkatan literasi digital, serta kewajiban bagi korporasi untuk merancang sistem yang transparan dan aman. Lembaga itu menilai pilihan yang diambil hari ini akan menentukan keselamatan, privasi, dan kesejahteraan anak-anak dalam jangka panjang.
Source: www.liputan6.com





